Di kantor, di jalan, di lapangan, dan di setiap jengkal muka bumi ini, kita dikelilingi oleh kata-kata. Mereka datang dalam berbagai bentuk: dalam buku-buku yang kita baca, majalah yang kita selingi di waktu senggang, koran yang kita lahap setiap pagi, hingga media sosial yang tak pernah berhenti menampilkan serangkaian kalimat, ungkapan, dan status yang berseliweran tanpa henti.
Kata-kata telah menjadi bagian dari denyut kehidupan manusia. Kita tumbuh bersama mereka, berinteraksi melalui mereka, bahkan terkadang jatuh cinta karena mereka. Setiap hari, telinga kita disapa ribuan kata. Kalimat-kalimat bertebaran di mana-mana, seolah berlomba-lomba menarik perhatian kita. Ada yang puitis, ada yang jenaka, ada pula yang menyentuh hati.
Namun, di tengah lautan kata dan kalimat yang berjejal itu, ada satu kalimat yang begitu sederhana tapi terasa paling romantis. Sebuah kalimat yang mungkin tidak pernah ditemukan di novel-novel cinta populer, tidak pula tertulis di baliho-baliho besar yang menjajakan janji manis.
Kalimat itu berbunyi: "Mas, bangun! Sudah jam 3, waktunya shalat Tahajud."
Ya, hanya itu. Tapi bagiku, itu adalah kalimat paling romantis yang pernah menyapa telingaku. Bukan karena bahasanya indah, bukan pula karena dilafalkan dengan suara mendayu. Melainkan karena kalimat itu datang dari hati seorang istri yang mencintaiku dengan cara yang paling tulus: mengingatkanku kepada Allah, Sang Pemilik Cinta.
Cinta yang sejati adalah cinta yang menuntun pada kebaikan, bukan hanya cinta yang menimbulkan rasa nyaman atau senang. Dan tidak ada kebaikan yang lebih tinggi dibanding kebaikan yang membawa seseorang kepada Tuhannya. Kalimat ajakan shalat Tahajud di sepertiga malam bukan hanya ajakan untuk bangun, tapi juga panggilan cinta untuk bertemu dengan Sang Maha Cinta.
Betapa banyak pasangan di luar sana yang saling memanggil dengan panggilan sayang, seperti "Honey", "Sayang", "Ayank", "Beb", dan semacamnya. Itu wajar dan sah-sah saja. Tapi panggilan sayang yang dibarengi dengan ajakan ibadah memiliki kedalaman makna yang jauh lebih menyentuh. Ia bukan sekadar menyatakan cinta, tapi juga menunjukkan tanggung jawab iman dalam hubungan rumah tangga.
Ketika seorang istri membangunkan suaminya di sepertiga malam untuk Tahajud, itu artinya dia tak hanya ingin mengisi hidup suaminya dengan cinta duniawi, tetapi juga cinta ukhrawi. Ia ingin berjalan beriringan bukan hanya di dunia ini, tetapi hingga ke surga nanti.
Kalimat itu, meskipun sederhana, mengandung sejuta makna. Ia mengandung perhatian, kepedulian, dan kasih sayang. Ia adalah bentuk nyata dari cinta yang tidak hanya mengandalkan perasaan, tapi juga tindakan nyata dalam rangka ibadah. Ia mengingatkanku bahwa cinta tidak hanya tentang makan malam romantis atau bunga mawar di hari ulang tahun, tetapi juga tentang siapa yang akan membangunkan kita saat waktu Tahajud tiba.
Cinta yang sejati bukan hanya yang membuat kita tersenyum, tetapi yang mampu membuat kita tunduk dan menangis dalam sujud. Dan sungguh, siapa yang lebih indah untuk diajak sujud bersama dalam sepertiga malam selain pasangan hidup kita?
Saat kalimat itu terucap dari mulut istriku, ada rasa yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Suaranya mungkin pelan, tapi menggetarkan hati. Tangannya lembut menyentuh bahuku, dan matanya yang masih mengantuk menyiratkan cinta yang mendalam. Dalam sepi malam, ketika dunia masih terlelap, dia memilih untuk menyapa langit dan mengajakku ikut bersamanya.
"Mas, bangun... sudah jam tiga. Waktunya Tahajud."
Aku bangun, menatap wajahnya yang masih menahan rasa kantuk. Sungguh, saat itu aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia. Bukan karena harta, bukan karena jabatan, tapi karena Allah menghadirkan wanita sebaik dirinya dalam hidupku. Wanita yang mengingatkanku pada shalat, yang menjadikan ibadah sebagai bagian dari bahasa cintanya.
Tahajud bukan sekadar ibadah sunnah. Ia adalah waktu yang sangat istimewa, saat Allah turun ke langit dunia dan membuka pintu-pintu rahmat-Nya. Siapa saja yang memohon, akan diberikan. Siapa saja yang memohon ampun, akan diampuni. Dan siapa saja yang memohon hidayah, akan diberi petunjuk.
Dalam gelapnya malam, kami berdiri untuk shalat. Suara gemericik air wudhu dan desiran sajadah menjadi saksi bisu cinta kami. Tidak ada musik, tidak ada cahaya lampu yang terang. Hanya ada lampu temaram dan cahaya redup yang masuk dari celah jendela. Namun di saat seperti itu, aku merasa berada dalam suasana paling romantis dalam hidupku.
Romantis bukan soal tempat, bukan soal kata-kata gombal. Romantis adalah ketika cinta menjadi jembatan menuju ibadah. Ketika cinta tidak hanya menghangatkan hati, tapi juga menggetarkan jiwa untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Aku teringat saat kami pertama menikah. Istriku pernah berbisik pelan, "Aku ingin kita saling menjaga dalam ibadah. Aku ingin cinta kita tidak hanya tumbuh di dunia, tapi juga bersemi hingga surga." Aku mengangguk, tak banyak bicara, tapi di dalam hati aku tahu bahwa aku telah menemukan rumah sejati dalam dirinya.
Sejak saat itu, kalimat "Mas, bangun! Sudah jam 3 waktunya Tahajud" menjadi nyanyian malam yang paling kurindukan. Kalimat itu lebih manis dari puisi manapun, lebih menggetarkan dari lagu cinta manapun, dan lebih menyentuh dari surat cinta paling indah.
Ada banyak cara untuk menunjukkan cinta. Ada yang membelikannya hadiah mahal, ada yang mengajak jalan-jalan keliling dunia. Tapi bagiku, cara paling romantis untuk menunjukkan cinta adalah dengan mengajak pasangan menuju jalan yang diridhai Allah.
Dan Tahajud adalah salah satu jalannya.
Setiap malam, ketika mendengar kalimat itu lagi dan lagi, hatiku selalu berdesir. Aku tahu, cinta ini tidak hanya berakhir di dunia. Cinta ini akan terus mengalir, selama kami terus saling mengingatkan untuk kembali kepada-Nya.
Cinta adalah tentang siapa yang bersedia berjalan bersamamu, bahkan di saat yang paling sunyi. Dan siapa yang bersedia bersujud bersamamu, ketika semua orang lain masih tertidur lelap.
Jadi, jika kau bertanya padaku apa kalimat paling romantis di dunia ini, aku tidak akan menjawab dengan kutipan Shakespeare, atau syair dari penyair Arab yang masyhur. Aku hanya akan menjawab:
"Mas, bangun! Sudah jam 3 waktunya shalat Tahajud."
Sebab kalimat itu bukan hanya membangunkanku dari tidur, tapi juga membangunkanku dari kelalaian. Kalimat itu bukan hanya menyentuh telingaku, tapi juga menggetarkan jiwaku.
Dan jika cinta bisa diukur dari seberapa besar ia mendekatkan kita kepada Allah, maka kalimat itu adalah puncak tertingginya.
Semoga setiap pasangan bisa merasakan indahnya cinta seperti ini. Cinta yang suci, cinta yang lembut, cinta yang penuh rahmat. Dan semoga kita semua memiliki seseorang yang setiap malam berani membangunkan kita, bukan karena mimpi buruk, tapi karena ingin kita bertemu dengan Tuhan semesta alam.
"Mas, bangun... waktunya Tahajud."
Sungguh,
itu adalah kalimat paling romantis yang pernah kudengar sepanjang hidupku.
Idi Darusman
Kebayoran Lama, 16 April 2025

Komentar
Posting Komentar