Pagi itu, aroma kopi buatan Dhifa menguar dari dapur kecil mereka. Usman duduk di teras rumah mungil yang telah mereka tempati sejak awal pernikahan dua puluh tahun lalu. Usianya sudah memasuki kepala empat, rambutnya mulai dihiasi uban, tapi senyum Dhifa—perempuan yang telah ia nikahi dengan penuh cinta—tak pernah berubah: hangat dan menenangkan.
“Aku buatin kopi, yang kamu suka, Mas” ucap Dhifa sambil meletakkan cangkir di meja rotan yang mulai lapuk dimakan usia.
Usman tersenyum, menatap istrinya penuh cinta. “Kalau bukan karena kamu, mungkin aku udah nggak waras, Sayang.”
Dhifa tersenyum tipis. “Allah tahu Mas kuat, dan aku diciptakan untuk jadi tempat kamu bersandar.”
Mereka duduk berdampingan, diam dalam damai. Tak perlu kata-kata untuk mengerti perasaan masing-masing. Dua puluh tahun bukan waktu singkat, dan mereka sudah melewati banyak hal; bahagia, haru, tangis, bahkan luka yang tak terlihat.
Hari itu, Dhifa keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Di tangannya, selembar test pack menunjukkan dua garis merah. Matanya berkaca-kaca, antara tak percaya dan bahagia yang menyesak.
“Mas Usman…” bisiknya lirih.
Usman yang tengah membaca Al-Qur’an segera berdiri, menghampiri istrinya. Melihat wajah Dhifa yang tak biasa, ia langsung khawatir.
“Kenapa, Sayang? Kamu pusing?”
Dhifa menggeleng, lalu menunjukkan test pack itu. “Kita… kita akan jadi orangtua…”
Sejenak Usman terdiam. Matanya membesar, lalu perlahan berkaca-kaca. Ia langsung memeluk Dhifa erat, seolah tak ingin melewatkan satu detik pun dari momen bahagia itu.
“Alhamdulillah... akhirnya Allah titipkan amanah ini…”
Selama empat belas tahun menikah, tak terhitung doa yang mereka panjatkan agar Allah menitipkan buah hati. Semua orang bertanya, menuduh, mencibir. Tapi mereka tetap bertahan, saling menguatkan. Dan hari itu, harapan yang mereka jaga dengan sabar akhirnya terjawab.
Mereka menjaga kehamilan itu dengan penuh cinta. Setiap malam, Usman membacakan ayat-ayat suci di perut Dhifa. Usman sudah memilih namayang paling indah untuk bayi nanti, bahkan membuat jadwal kontrol kandungan secara rutin.
Namun, ketika usia kandungan memasuki bulan keempat, takdir berkata lain.
Malam itu, Dhifa merasakan sakit luar biasa.
“Mas Usman… perutku sakit banget…”
Usman panik. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tubuh Dhifa, membawanya ke rumah sakit terdekat. Di sana, dokter hanya bisa menggeleng pelan.
“Kami sudah berusaha, Pak, Bu. Tapi… janinnya tidak tertolong.”
Langit seolah runtuh. Dunia seperti berhenti. Dhifa menangis sejadi-jadinya, dan Usman menatap kosong ke arah langit-langit ruang Rumah Sakit, tepatnya di ruang dokter kandungan.
Di rumah, Dhifa masih terisak. Usman mendekapnya dari belakang.
“Aku… gagal jadi ibu, Mas…” isaknya.
Usman mencium kening istrinya. “Kamu nggak gagal, Sayang. Kita sudah berusaha, tapi Allah lebih tahu. Anak kita akan menunggu kita di pintu surga.”
Usman pernah mengalami konflik dengan adik-adiknya, difitnah, bahkan diusir dari rumah orangtuanya sendiri. Banyak yang meremehkan, mencibir, bahkan berkata kasar hanya karena mereka belum punya anak.
“Kalau kamu punya anak, pasti orangtuamu bangga. Tapi sekarang? Kamu cuma buang waktu!” ucap seseorang dari keluarga besarnya suatu hari.
Usman hanya terdiam. Tapi ketika malam datang, ia menangis di pangkuan Dhifa.
“Kalau kamu capek sama aku… kamu boleh pergi…”
Dhifa langsung memeluk suaminya erat.
“Dengar ya, Mas. Kita nggak nikah buat bahagia doang. Kita nikah buat saling menguatkan. Aku nggak pernah nyesel jadi istrimu.”
Suatu Ketika, Usman Kembali mendapatkan ujian. Seluruh tabungan—bahkan hasil pinjaman ke lemabga keuangan pun — lenyap tak tersisa. Nilainya ratusan juta rupiah. Usman stres berat. Ia tidak bisa tidur, tidak makan, tidak berbicara, bahkan tidak keluar kamar dan hanya mengurung diri.
Dua minggu Dhifa menjadi penjaga yang sabar. Setiap malam ia mengusap kepala Usman, mengajaknya shalat, dan terus memberikan support agar terus bersabar.
“Mas, semua ini bisa kita lewati. Kita mulai lagi dari nol. Aku masih punya tangan untuk mencari uang untuk makan. Kamu masih punya ilmu, dan kita masih punya Allah.”
Usman hanya diam. Matanya sayu, pikirannya kosong. Tapi malam itu, suara Dhifa menembus hatinya yang beku.
“Kalau kamu menyerah, kita kalah. Tapi kalau kamu bangkit, kita bisa menang bareng-bareng.”
Akhirnya, Usman menatap Dhifa. Air matanya jatuh.
“Kamu bener-bener hadiah dari Allah…”
Kini, usia pernikahan mereka memasuki dua puluh tahun.
Hidup mereka masih sederhana. Hutang itu belum lunas seluruhnya. Tapi senyum tetap menghiasi wajah mereka.
“Mas,” ucap Dhifa sambil mencuci piring, “Kamu masih ingat nggak doa kita dulu waktu nikah?”
Usman tersenyum. “Ingat. Kita nggak minta kaya, nggak minta terkenal. Cuma minta Allah jagain hati kita biar terus saling cinta sampai tua.”
Dhifa menatap Usman dalam. “Dan sampai syurga, Mas…”
Usman menggenggam tangan Dhifa. “Insya Allah, Sehidup dan Sesyurga bersamamu.”
Suatu malam, mereka berdoa bersama.
Di kamar meraka yang kecil, sajadah terbentang. Usman dan Dhifa duduk berdampingan. Usman dan Dhifa terus berdoa.
“Ya Allah… Engkau tahu semua rasa yang telah kami lewati. Sakit, kecewa, harapan, dan cinta. Engkau ambil anak kami, tapi Engkau titipkan kesabaran. Engkau uji kami dengan kemiskinan, tapi Engkau beri kekuatan.”
Dhifa mengusap air matanya.
“Ya Rabb, kami tidak meminta banyak. Cukup jadikan kami pasangan yang Engkau ridai. Jika di dunia kami belum sempat melihat buah hati, izinkan kami memeluknya di surga-Mu nanti.”
Usman menutup doa dengan isak tertahan. Dhifa meraih tangan suaminya.
“Kita belum menang di dunia, Mas. Tapi siapa tahu Allah sedang siapkan mahkota kemenangan di akhirat.”
Dua puluh tahun, tak mudah. Tapi Usman dan Dhifa membuktikan bahwa cinta sejati bukan tentang banyaknya harta, bukan tentang anak, atau pujian orang. Tapi tentang saling menjaga ketika badai datang, saling menenangkan ketika dunia menghujat, dan saling menggenggam saat hampir tenggelam.
Dan cinta seperti itu… pantas untuk diperjuangkan bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
“Sehidup dan Sesyurga bersamamu…” Itulah doa yang terus mereka panjatkan—dan mungkin, suatu hari nanti, Allah akan mengabulkannya.
Jakarta, 25 Juli 2025

Komentar
Posting Komentar