Azan Subuh di 12 Rabiul Awal

   


         Kabut tipis masih menggantung di atas persawahan, menutup pandangan mata sejauh beberapa meter. Suasana desa begitu sunyi, hanya sesekali terdengar suara jangkrik yang belum juga berhenti bernyanyi meski malam hampir habis.

Tiba-tiba, suara azan Subuh menggema dari masjid di ujung kampung. Suaranya bening, penuh getaran, seakan menembus kabut dan menusuk langsung ke dada siapa pun yang mendengarnya.

“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”

Hasan terbangun dengan mata berat. Tubuhnya masih ingin berbaring, tetapi ada sesuatu yang terasa berbeda pagi itu. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah 12 Rabiul Awal 1447 H, bertepatan dengan hari Jumat—hari kelahiran Rasulullah ﷺ.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela yang masih tertutup rapat. Hampa. Begitu perasaan yang sejak lama ia rasakan.

“San… ayo bangun, Nak. Jangan tinggalkan Subuh. Ingat, Subuh itu cahaya hidupmu.”

Suara itu kembali menggema di telinga Hasan. Bukan suara nyata, melainkan gema dari masa lalu yang tak mungkin kembali. Hasan menghela napas panjang, menutup mata sejenak, seakan berharap ayahnya benar-benar ada di sampingnya pagi itu.

Ayahnya meninggal setahun lalu karena sakit yang cukup lama. Saat itu Hasan tidak berada di rumah, sibuk di kota dengan pekerjaannya. Ia pulang hanya untuk menatap wajah ayahnya yang sudah terbujur kaku. Penyesalan itu tak pernah hilang.

Kenangan demi kenangan kembali menyeruak. Ayah selalu punya cara lembut untuk membangunkannya, terutama di hari Maulid Nabi. Kadang dengan usapan penuh kasih di kepala, kadang dengan segelas teh hangat dan sepotong roti yang sudah disiapkan di meja kecil dekat ranjang.

“San, hari ini hari kelahiran Nabi kita. Jangan sampai ketinggalan shalat Subuh berjamaah. Rasul akan tersenyum pada orang yang menjaga Subuhnya,” begitu kata ayahnya dulu dengan suara lirih namun tegas.

Hasan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Senyum getir muncul, tetapi air matanya jatuh juga. Ia merasa hampa, seakan setiap gema azan kini hanyalah pengingat bahwa sosok yang dulu menuntunnya telah pergi.

Hasan berdiri pelan, berjalan ke cermin kecil yang tergantung di dinding kamarnya. Cermin itu sudah tua, bingkainya mulai kusam, namun cukup untuk memantulkan wajahnya yang tampak lusuh. Rambutnya berantakan, matanya sayu, seolah menampakkan beban hidup yang selama ini ia sembunyikan.

“Kenapa aku jadi begini?” gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar. Ia menatap bayangannya sendiri dengan tatapan penuh penyesalan, seolah berbicara pada sosok asing yang selama ini tidak ia kenal.

Sudah lama ia jarang ke masjid. Dulu, ia termasuk pemuda yang rajin mengaji, selalu ikut ayahnya shalat berjamaah, bahkan aktif dalam kegiatan remaja masjid. Namun setelah merantau ke kota, segalanya berubah. Kesibukan kerja membuatnya jauh dari suasana kampung yang religius. Shalat pun sering ia tinggalkan, dengan alasan lelah, sibuk, atau sekadar malas.

Kini, setiap kali ia pulang ke desa, selalu ada ruang kosong di hatinya. Ia merasa hampa, seakan ada bagian dari dirinya yang hilang.

“Ayah pasti kecewa kalau lihat aku sekarang…” suaranya bergetar, matanya basah.

Ia jatuh terduduk di tepi ranjang, menundukkan kepala sambil memeluk wajahnya dengan kedua tangan. Perlahan, ia berbisik pada dirinya sendiri, suara penuh keraguan namun juga rindu, “Apa aku masih bisa kembali? Masih bisa pulang ke jalan yang dulu Ayah ajarkan?”

Azan masih berkumandang, menggema dari pengeras suara masjid di ujung kampung. Suara itu merambat pelan, merayapi hati Hasan yang lama tertidur. Dengan tarikan napas panjang, ia bangkit dari ranjang. Tangannya meraih sarung dan peci yang sudah mulai pudar warnanya—peninggalan ayah tercinta. Setiap kali ia mengenakan peci itu, seakan ada kehangatan ayah yang kembali menyelimuti dirinya.

“Bismillah…” bisiknya lirih, seolah sedang memantapkan hati yang rapuh.

Udara Subuh menyambutnya begitu menusuk kulit ketika ia melangkah keluar rumah. Dinginnya membuat tubuh sedikit menggigil, namun ada ketenangan yang menyusup ke dadanya. Jalanan kampung masih gelap, hanya diterangi lampu jalan berwarna kuning yang temaram, menciptakan bayangan panjang di tanah.

Setiap gesekan sandal dengan aspal terdengar jelas di telinganya, seakan menandai perjalanan batin yang sedang ia tempuh. Dari kejauhan, cahaya lampu masjid tampak remang namun menenangkan—seperti mercusuar yang memanggil jiwa yang hampir tenggelam.

Di depan masjid, langkah Hasan terhenti. Ia melihat seorang anak kecil, kira-kira usia delapan tahun, duduk bersila sambil memeluk sebuah bungkusan plastik kosong. Wajahnya pucat, matanya sayu, namun penuh harap.

Hasan mendekatinya. “Adik, ngapain di sini pagi-pagi?” tanya Hasan lembut.

Anak itu menoleh, tersenyum tipis. “Aku nunggu nasi Maulid, Bang. Katanya nanti habis Subuh ada yang bagi.”

Hasan tertegun. “Namamu siapa?”

“Rafi, Bang,” jawabnya singkat.

Hasan menelan ludah. Tatapan mata Rafi begitu polos, tetapi juga menyimpan luka. Seakan ia pernah merasakan kehilangan yang sama seperti dirinya.

Dari dalam masjid, suara shalawat mulai bergema. Jamaah melantunkannya dengan penuh semangat, namun juga sarat haru. Suara bedug dipukul pelan mengiringi, menambah kekhidmatan suasana.

“Shallu ‘alan Nabi Muhammad…”

Hasan berdiri terpaku. Dadanya bergetar hebat, seolah setiap bait shalawat menampar hatinya yang lama kosong. Ia merasa kembali menjadi bocah kecil yang dulu digandeng ayahnya masuk ke dalam masjid, ikut bershalawat hingga larut malam.

Rafi yang duduk di sampingnya menoleh, matanya berkaca-kaca. Dengan suara lirih ia berkata, “Ayahku dulu juga suka nyanyi shalawat, Bang. Tapi ayah udah nggak ada…”

Hasan tercekat. Kalimat itu menghujam hatinya. Ia seperti melihat dirinya sendiri—kehilangan sosok yang selama ini menjadi penuntun. Pandangan matanya tiba-tiba kabur oleh air mata.

“Kalau gitu, kita masuk bareng ya? Kita ikut shalawatan sama jamaah,” ucap Hasan dengan suara bergetar, sambil mengulurkan tangannya.

Rafi menatapnya sejenak, lalu menggenggam tangan Hasan erat-erat, seolah menemukan kembali hangatnya genggaman seorang ayah yang hilang.

Di dalam masjid, Hasan duduk bersama Rafi. Ia mengikuti shalawat dengan suara lirih. Air matanya menetes tanpa ia sadari.

“Ya Nabi salam ‘alaika…”

Dalam hatinya, kenangan lama muncul. Ayahnya pernah menggandeng tangannya, duduk di barisan depan, ikut shalawat dengan penuh semangat.

“San, jangan lupa. Rasulullah lahir di hari ini. Kalau kita cinta pada beliau, kita buktikan dengan akhlak kita,” suara ayahnya kembali terngiang.

Hasan menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Astaghfirullah… Ya Allah, aku jauh sekali dari-Mu… dari Nabi-Mu…”

Rafi menatap Hasan dengan polos. “Bang, kenapa nangis?”

Hasan tersenyum tipis. “Nggak apa-apa, Dek. Abang cuma kangen ayah.”

Rafi menunduk. “Aku juga…”

Setelah shalat Subuh usai, seorang khatib naik perlahan ke mimbar. Jubah putihnya sederhana, namun sorot matanya penuh wibawa. Suaranya tenang, dalam, seakan menembus hati setiap orang yang hadir.

“Jamaah sekalian,” ucapnya mantap, “hari ini adalah 12 Rabiul Awal. Hari yang tidak biasa. Hari di mana manusia termulia dilahirkan—Nabi Muhammad ﷺ, rahmat bagi seluruh alam. Beliau datang membawa cahaya, menuntun kita dari gelapnya jahiliyah menuju terang iman.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tanda cinta kita pada Rasul bukan sekadar diucapkan lewat shalawat, tapi dibuktikan lewat akhlak. Shalat yang dijaga, anak yatim yang dipeluk, tetangga yang dihormati, dan hati yang senantiasa bershalawat.”

Kata-kata itu menusuk tepat ke dada Hasan. Ia menunduk, bahunya bergetar. Betapa sering ia lalai dalam shalat. Betapa jarang ia menyentuh tangan anak yatim atau memberi sedekah. Ia merasa begitu jauh dari ajaran yang ayahnya wariskan dulu.

Air matanya mengalir. Dengan suara hampir tak terdengar, ia berbisik, “Ya Rasulullah… maafkan aku. Aku terlalu jauh dari sunnahmu. Tapi aku ingin pulang…”

Usai shalat, jamaah bubar perlahan. Hasan menggandeng tangan Rafi keluar masjid. Ia merogoh kantongnya, mengeluarkan uang seadanya yang tersisa.

“Dek, ini buat sarapan ya. Nanti kalau ada nasi Maulid, kamu ambil lagi. Jangan kelaparan.”

Rafi menatap Hasan dengan mata berbinar. Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Terima kasih, Bang. Semoga abang panjang umur, banyak rezeki.”

Hasan tercekat. Senyum Rafi begitu mirip dengan senyum ayahnya dulu. Air matanya kembali jatuh.

Matahari perlahan naik, sinarnya menembus pepohonan dan membuat embun di dedaunan berkilau. Hasan masih berdiri di depan masjid, menatap langit dengan dada bergetar hebat. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. “Ya Allah… mulai hari ini aku berjanji. Aku akan jaga Subuhku. Aku akan kembali ke jalan-Mu. Dan aku akan selalu berusaha mencintai Nabi-Mu dengan akhlak yang baik,” bisiknya, suaranya bergetar penuh haru.

Rafi, yang sejak tadi berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya erat, seolah memberi kekuatan. “Bang, nanti kita shalawatan bareng lagi ya?” suaranya polos, namun terasa begitu dalam. Hasan tersenyum dengan wajah basah, lalu mengangguk. “Iya, Dek. Kita shalawatan bareng… sampai kapan pun.”

Dalam hatinya, Hasan sadar, azan Subuh di 12 Rabiul Awal itu bukan sekadar panggilan shalat. Itu adalah panggilan cinta dari Allah, panggilan yang membangunkan bukan hanya jasadnya yang lelah, tapi juga hatinya yang lama tertidur.

Kebayoran Lama, 5 September 2025

 

Komentar