Di
Indonesia, ada satu kebiasaan yang selalau hidup, jika ada keluarga yang lulus
kuliah, entah S1 atau S2, itu bukan hanya lulusnya orangnya yang dirayakan,
tapi seakan-akan seluruh marga juga ikut wisuda.
Begitulah yang terjadi pada acara wisuda Magister di salah satu kampus ternama di kota Semarang.
Namanya Waty, calon wisudawati. Sudah hampir 1,5 tahun dia jungkir balik menempuh kuliah program magister dengan sistem RPL Hybrid. Kadang kuliah online, kadang offline, kadang online tapi dosennya lupa unmute.
Setelah melewati makalah tebal-tebal yang jumlah halamannya lebih banyak daripada ketekunan suaminya untuk buang sampah, akhirnya hari wisuda pun tiba.
“Abi, kita berangkat naik mobil siapa? Ini yang mau ikut ada 12 orang,” tanya Waty.
“12 orang? Bukannya Umi yang wisuda cuma satu?” sahut suaminya, Mail, sambil ngitung kursi mobil.
“Ya tapi kan ada aku, kamu, anak-anak, mama, papa, mertua, bude, pakde… oh iya, jangan lupa ketua RT juga mau ikut. Katanya biar ada saksi warga.”
Mail langsung bengong. “Ya ampun, Mi…. Ini wisuda atau rombongan haji yang ketinggalan?”
Rombongan Waty akhirnya menyewa dua mobil elf. Baru setengah jalan, ributnya sudah kayak DPR rapat paripurna.
“Eh, mampir dulu dong, aku pengen beli oleh-oleh bandeng presto buat dibawa ke Semarang,” pinta Budhenya Waty.
“Budehe…., bandeng presto itu khas Semarang, bukan Cikampek,” protes Waty.
“Oalah, iya ya? Ya udah kalau gitu mampir Indomaret aja, beli keripik singkong, siapa tahu di Semarang mahal,” jawab ibunya polos.
Di
mobil satunya, pakde dan bude sibuk debat soal jalan tol.
“Pakde, jangan lewat tol yang panjang itu, nanti mahal bayarnya!”
“Lho, bude, kalau nggak lewat tol, nanti nyampe Semarang pas wisudanya udah
selesai. Malah kita yang jadi sarjana jalanan!”
Begitu sampai Semarang, suasana kota berubah. Hotel-hotel penuh. Warung soto rame. Pedagang cilok sampai manggil bala bantuan.
Di depan gedung wisuda, panitia sampai pusing lihat jumlah orang. “Ini beneran yang wisuda cuma 500 mahasiswa? Kok yang datang kayak mau nonton konser Coldplay?” tanya salah satu panitia.
Benar saja, setiap satu wisudawan datang minimal 10 orang pengantar. Ada yang bawa kamera DSLR, ada yang bawa tikar buat piknik, bahkan ada yang bawa rice cooker.
Seorang bapak bertanya ke satpam, “Pak, di dalam boleh bawa tumpeng nggak? Soalnya keluarga besar sudah pesan dua.”
Satpamnya cuma bisa geleng-geleng.
Di dalam gedung, suasana sudah kayak pasar malam. Suara anak-anak nangis bersahutan dengan MC yang mencoba menjaga khidmat acara.
“Bapak,
ibu, mohon tenang, sebentar lagi acara dimulai…”
“Eh, tolong dong, jangan injek sandal saya! Itu sandal baru beli di Tanah
Abang!” “Pak, kursinya sempit, bisa geser dikit nggak?” “Geser gimana, Bu? Saya aja udah separo duduk
separo berdiri begini.”
Ketika rektor mulai pidato panjang, sebagian pengantar malah sibuk foto-foto. Ada ibu-ibu yang tiba-tiba berdiri teriak, “Itu anak saya tuh! Nomor 237! Lihat, cantik kan?” Padahal baru pembacaan doa, belum pemanggilan nama.
Nah, saat yang ditunggu-tunggu tiba: pemanggilan nama wisudawan.
“Waty Pratiwi, Magister Pendidikan…”
Tiba-tiba satu barisan keluarga Waty berdiri semua, kayak suporter bola. “Wooooo!!! Itu diaaa!!! Hidup Waty…..!!!” “Cieee… cieee… magisternya Mail…!” teriak adiknya Waty sambil siulin.
Rektor sampai kaget, kacamata hampir jatuh. Panitia buru-buru menenangkan. “Mohon bapak ibu duduk, ini bukan pertandingan sepak bola.”
Sementara itu, Budhenya Waty sibuk videoin buat status WA, upload di IG dan Youtube. “Teman-teman, lihat nih… ponakan saya lulus S2! Jangan lupa like, komen, subscribe yaaa!”
Begitu keluar dari gedung, suasana makin heboh. Semua keluarga rebutan foto bareng Waty yang masih pakai toga.
“Ayo sini, foto keluarga inti dulu.” “Eh, nanti dulu, foto keluarga besar dulu!” “Eh, saya juga keluarga, meski cuma tetangga sebelah rumah tapi kan udah kayak saudara.”
Fotografer sampai bingung: “Bu, ini mau foto siapa aja? Dari tadi nambah terus.”
Belum selesai, tiba-tiba ketua RT maju, “Saya juga harus ikut foto, biar ada dokumentasi buat laporan rapat RT!”
Akhirnya hasil foto satu frame isinya 27 orang, padahal wisudawan cuma satu.
Sambil makan tumpeng di hotel, Mail iseng ngitung. “Jadi kalau setiap wisudawan bawa 15 orang, ada 500 wisudawan, total yang hadir 7.500 orang. Tambah panitia 200, tambah pedagang cilok 50, jadi…”
“Jadi apa, Bi…?” tanya Waty.
“Jadi lebih rame daripada pasar malam di alun-alun Bekasi.”
Semua langsung ketawa.
Malam harinya, sebelum tidur, Waty merenung sambil ketawa sendiri. “Ya Allah, ini wisuda apa acara hajatan ya? Rasanya capek banget tapi juga lucu. Untung cuma sekali, kalau tiap semester ada wisuda, mungkin Semarang nggak sanggup nampung.”
Mail nyengir, “Makanya judulnya tepat banget: satu yang wisuda, tapi banyak yang ikut. Satu tapi banyak.”
Dan memang begitulah, di Indonesia, kebahagiaan satu orang bisa jadi pesta untuk banyak orang. Bikin pusing panitia, bikin rejeki pedagang cilok, tapi bikin kenangan tak terlupakan.
TAMAT
Kebayoran Lama, 12 September 2025

Komentar
Posting Komentar