Suara alarm dari HP istri Pak Wibowo menjadi tanda ia harus segera bangun dan shalat malam. Walaupun lebih sering setelah shalat malam ia tidur kembali sampai terdengar adzan Subuh.
Pak Wibowo seorang guru swasta di sebuah sekolah menengah di Jakarta Selatan. Rutinitasnya hampir tidak pernah berubah: bangun, salat, sarapan seadanya, lalu mengenakan jaket hitam favoritnya dan menyalakan motor Vario. Mobil Livina di garasi jarang ia sentuh, sebab sudah tahu benar bagaimana macetnya Jakarta di pagi hari jika harus mengandalkan roda empat.
Sudah bertahun-tahun ia punya kebiasaan berangkat pukul 05.30. Dengan jam itu, perjalanan dari rumah ke sekolah tak lebih dari 20 menit. Jalanan masih lengang, hanya beberapa pekerja dan pelajar yang sudah keluar rumah. Ia pun bisa tiba di sekolah dengan perasaan tenang, kadang masih sempat menikmati secangkir kopi di ruang kantor sebelum bel masuk berbunyi.
Namun, pagi ini berbeda. Badannya terasa agak berat. Mungkin karena hari sebelumnya kerjaan lumayan banyak dan tidur agak malam. Matanya pegal, punggungnya kaku. Ia sempat berbaring lebih lama dari biasanya. “Ah, nanti saja, toh jaraknya tidak jauh,” pikirnya. Ia baru benar-benar bersiap pukul enam lewat lima menit. Lima menit terasa sepele, tapi itulah awal dari sebuah pelajaran berharga.
Begitu motornya melaju keluar gang, ia langsung merasakan perbedaannya. Jalan yang biasanya lengang mulai dipenuhi sepeda motor, mobil pribadi, hingga angkutan kota yang berebut penumpang. Suara klakson bersahutan, seolah-olah setiap orang sedang dikejar waktu. Pak Wibowo mencoba tetap tenang, menyalip di sela-sela kendaraan, berharap jalan masih bisa ditembus.
Belum sampai setengah perjalanan, tepat di perempatan Seskoal, ia terjebak macet. Dari arah utara menuju selatan, kendaraan menumpuk seperti barisan semut yang berebut jalur. Ke kiri, arus menuju Kebayoran Lama padat merayap. Ke kanan, jalur menuju Ciledug tak kalah sumpek. Sedangkan lurus ke arah Tanah Kusir sudah buntu oleh deretan mobil dan motor yang saling serobot.
Lampu lalu lintas sebenarnya masih bekerja. Hijau, kuning, merah berganti dengan teratur. Tapi siapa peduli? Para pengendara seolah menutup mata. Semua merasa paling penting, paling darurat, paling berhak maju lebih dulu. Hasilnya: jalan terkunci total. Tidak ada yang bisa bergerak. Maju tidak bisa, mundur pun mentok.
Pak Wibowo menarik napas panjang. Ia menepi sedikit, meski hanya cukup untuk berdiri dengan motor di antara deretan kendaraan lain. “Beginilah wajah Jakarta,” gumamnya. “Bukan hanya jalan yang macet, tapi juga mental manusianya yang macet.”
Ia melihat seorang ibu di atas motor sambil mengomel ke anaknya yang duduk di boncengan, khawatir terlambat sekolah. Di sebelah kanan, seorang sopir taksi menggedor-gedor klakson, wajahnya merah karena emosi. Di depannya, sebuah mobil pribadi mencoba menyelip masuk jalur yang sudah penuh, membuat suasana semakin kacau.
Dalam hati, Pak Wibowo membandingkan dengan hari-hari biasanya. Jika berangkat pukul 05.30, ia bisa melintas perempatan ini dengan mudah. Bahkan seringkali ia sempat menyapa tukang ojek di tepi jalan. Semuanya terasa lebih damai, lebih manusiawi. Tapi lewat pukul 06.00, seakan seluruh kota berubah wujud: dari tenang menjadi penuh hiruk-pikuk, dari ramah menjadi beringas.
“Lima menit bisa menentukan banyak hal,” katanya dalam hati sambil tersenyum getir.
Waktu terus berjalan. Jarum jam di tangannya menunjukkan pukul 06.40, sementara ia masih terjebak di lokasi yang sama. Ia mencoba bersabar, tapi rasa cemas muncul: bagaimana pandangan orang jika saya terlambat sampai tempat tugas, padahal setiap hari ini sering bilang bahwa kedisiplinan adalah kunci segalanya.
Akhirnya, setelah beberapa pengemudi OJOL mengatur kendaraan dengan suka rela, arus mulai bergerak meski sangat pelan. Satu per satu mobil dan motor berhasil keluar dari “simpul mati” itu. Pak Wibowo ikut menggerakkan motornya, menahan sabar setiap kali ada pengendara yang menyerobot jalur. Ia tiba di kantor dengan wajah lelah, tepat ketika jam di tangan menunjukkan pukul 06.58 wib.
Di ruang kantor, ia sempat duduk sebentar sambil menghela nafas panjang. Rekan-rekannya menoleh heran. “Tumben, Pak Wibowo telat,” ujar seorang staff lain. Ia hanya tersenyum tipis. “Hari ini saya belajar sesuatu,” jawabnya. “Perbedaan berangkat sebelum dan sesudah pukul enam pagi ternyata besar sekali. Jalan yang sama, jarak yang sama, tapi rasanya dua dunia berbeda.”
Pak Wibowo kemudian berjanji pada dirinya sendiri: esok, dan seterusnya, ia akan kembali pada kebiasaan lama. Berangkat pukul 05.30 atau minimal jangan lebih dari oukul 06.00 bahkan kalau bisa lebih pagi. Lebih baik bangun dengan tubuh sedikit lelah tapi hati tenang, daripada terjebak di lautan kendaraan dengan pikiran yang kusut.
Dan sebelum memulai aktivitas hari ini, pak Wibowo membuat tulisan di buku catatan;
“Sebelum pukul 06.00, Jakarta masih manusiawi. Sesudah pukul 06.00, ia berubah jadi hutan aspal penuh ego. Tugas kita bukan hanya menyelesaikan tugas di kantor, tapi juga belajar dari kehidupan: bahwa kesabaran adalah jalan keluar dari kemacetan batin.”

Komentar
Posting Komentar