Pelukan Pertama Itu Milikku, Bukan Milikmu

 


Ruang tamu rumah sederhana itu penuh dengan cahaya lampu yang hangat. Malam itu, segala sesuatu terasa berbeda. Bunga melati yang dijalin sebagai hiasan pernikahan memenuhi udara dengan aroma harum, seolah ikut merayakan sebuah momen yang tidak pernah terbayangkan akan datang secepat ini.

Aku duduk di kursi paling ujung, menatap putriku, Dila. Gaun putih yang melekat di tubuhnya membuatnya tampak seperti bidadari. Rambutnya yang ditata rapi, wajahnya yang dipulas lembut oleh riasan, dan senyumnya yang bergetar antara bahagia dan gugup, membuat dadaku sesak.

Air mataku nyaris jatuh saat aku menyadari, inilah malam terakhir dia tidur di rumah ini sebagai anak gadisku. Esok, ia akan sah menjadi seorang istri. Bukan hanya milikku lagi, tapi juga milik lelaki bernama Rihan.

Aku teringat malam-malam panjang ketika Dila masih kecil. Saat ia menangis karena demam, akulah yang mendekapnya erat, menenangkan dengan pelukan pertama dalam hidupnya. Saat ia jatuh di halaman sekolah, akulah yang pertama kali berlari menghampiri, meniup luka di lututnya, lalu mengecup keningnya agar ia merasa tenang.

“Pelukan pertama putriku adalah milikku…” bisikku dalam hati, menatapnya yang kini tersenyum kepada para tamu. “Ciuman pertama di keningnya pun milikku, bukan milik siapa pun. Aku yang pertama kali mengajarkan dia berjalan, menggendongnya hingga ia tertidur pulas. Dan kini… aku harus merelakanmu, Dila.”

Aku menarik napas panjang, mencoba menelan gelombang emosi yang datang bertubi-tubi. Melepas seorang putri bukan perkara mudah, bahkan meski aku tahu lelaki yang akan menikahinya adalah orang baik.

Sore tadi, sebelum acara dimulai, aku sempat melihat Rihan. Pemuda itu duduk di teras, mengenakan kemeja putih sederhana, menunduk penuh sopan. Ada rasa hormat yang terpancar dari sikapnya. Namun tetap saja, rasa berat di hatiku tak mudah pergi.

“Pak,” suara istriku memecah lamunanku. Ia duduk di sampingku, menggenggam tanganku yang dingin. “Jangan terlihat murung. Malam ini harus kita syukuri. Kita melepas Dila dengan doa, bukan dengan air mata.”

Aku mengangguk, meski sulit. “Aku tahu, Bu. Tapi bayangan Dila kecil tak mau pergi dari mataku. Rasanya baru kemarin ia berlari ke pangkuanku, minta dipeluk karena takut petir. Dan sekarang… ia duduk di pelaminan, siap menjadi istri orang.”

Istriku tersenyum samar, lalu menatapku dalam-dalam. “Itulah hidup, Pak. Anak memang bukan untuk kita miliki selamanya. Mereka hanya titipan yang suatu hari harus kita lepaskan.”

Aku terdiam. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk pelan, tapi benar adanya.

Acara semakin ramai. Saudara, tetangga, dan kerabat datang silih berganti. Dila sesekali melirik ke arahku, seakan meminta restu dalam diam. Senyumnya yang bergetar membuatku semakin sadar, dia juga tengah menahan tangis.

Ketika malam semakin larut, aku berdiri. Melihat sekeliling, aku tahu sebentar lagi semuanya akan selesai. Esok pagi, akad nikah akan dilangsungkan, dan aku harus benar-benar melepasnya.

Di kamar, aku menatap foto-foto lama yang masih tergantung di dinding. Foto Dila saat TK dengan seragam merah putih, foto ulang tahun pertamanya dengan kue kecil di meja, hingga foto wisuda SMA yang membuatku bangga setengah mati. Semua itu seperti kilatan yang berlari cepat di depan mata.

Aku duduk, menutupi wajah dengan kedua tangan. Suara hatiku pecah:
“Ya Allah, aku tahu semua ini takdir-Mu. Tapi bagaimana aku bisa melepas gadis kecilku begitu saja? Dia darah dagingku. Dia nafasku. Bagaimana jika suatu hari Rihan tak bisa menjaganya seperti aku menjaganya? Bagaimana jika ia melukai hati yang begitu rapuh itu?”

Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan.

“Assalamualaikum, Ayah…” suara lembut itu terdengar. Aku buru-buru menyeka air mata. Dila masuk dengan langkah hati-hati, gaun putihnya berkilau diterpa cahaya lampu. Ia duduk di sampingku, menunduk.

“Kenapa ayah sendiri di sini?” tanyanya pelan.

Aku memandangnya lama, terlalu lama. Mataku basah lagi. “Dila… apa kamu tahu, sejak kecil, ayah selalu jadi pelukan pertamamu? Saat kamu sakit, saat kamu takut, saat kamu jatuh… Ayah selalu ada. Ayah pelukan pertamamu, Nak.”

Dila menggenggam tanganku erat. “Aku tahu, Yah. Justru itu aku takut… takut Ayah merasa aku akan melupakan semua itu setelah menikah.”

Tangisku pecah. Aku memeluknya erat, seperti dulu saat ia masih bocah. “Tidak ada yang bisa menggantikan ayah dan ibu di hatimu, Nak. Tapi mulai besok, ada lelaki lain yang akan jadi pelukanmu. Dan ayah… ayah harus belajar ikhlas.”

Malam itu, kami berdua menangis dalam diam. Hanya ada suara detak jantung yang berpacu kencang, dan doa-doa yang melayang ke langit. Aku tahu, perjalanan baru akan dimulai.

Keesokan harinya, suara ijab kabul telah selesai diucapkan. Semua orang bersorak bahagia, “Sah! Sah!” Tangisan haru bercampur tepuk tangan memenuhi ruangan. Dila menunduk, wajahnya basah oleh air mata bahagia. Aku menatapnya dari kejauhan dengan dada bergetar. Gadis kecilku, yang dulu selalu berlari ke pangkuanku, kini resmi menjadi istri orang lain.

Rihan menyalami para tetua, wajahnya pucat tapi matanya berbinar. Ia terlihat lega, seperti seseorang yang baru saja melewati ujian besar. Aku berdiri, menunggu hingga ia selesai. Setelah keramaian sedikit mereda, aku menghampirinya.

“Rihan,” panggilku pelan.

Ia terkejut, lalu segera merapatkan kedua tangannya di dada. “Iya, Ayah…” panggilannya masih kaku, tapi penuh hormat.

“Bisa ikut sebentar ke ruang belakang? Ada yang ingin Ayah bicarakan,” ucapku dengan suara tenang.

Ia mengangguk tanpa ragu, meski tampak gugup. Kami berjalan melewati kerumunan tamu, menuju ruang tamu kecil yang lebih sepi. Di sana hanya ada kursi kayu tua yang biasa kupakai untuk membaca koran pagi. Kami duduk berhadapan.

Beberapa saat aku hanya terdiam, menatap wajahnya yang tampak tegang. Nafasku berat, karena ini adalah saat yang paling sulit bagiku, menyerahkan anakku secara penuh pada lelaki yang duduk di depanku.

“Rihan,” aku membuka suara. “Tadi saat kau mengucapkan ijab kabul, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Ia mengernyit, lalu menjawab pelan, “Saya… mengambil amanah, Yah. Saya menerima Dila sebagai istri saya, untuk saya cintai, jaga, dan temani.”

Aku mengangguk pelan. “Benar. Tapi ada sesuatu yang harus kau ingat baik-baik.” Aku mencondongkan tubuh, suaraku lebih berat. “Pelukan pertama Dila… bukan milikmu. Itu milikku.”

Rihan menunduk, wajahnya kaget. Aku melanjutkan, menahan getar suaraku.

“Saat Dila lahir, akulah yang pertama kali memeluknya. Tubuhnya mungil, kulitnya masih merah, tangisnya memecah malam. Aku mendekapnya erat, memberinya kehangatan yang dunia ini belum bisa berikan. Itu pelukan pertama yang ia rasakan dalam hidupnya. Bukan kamu.”

Mataku mulai basah, tapi aku teruskan. “Ciuman pertama di keningnya, saat ia demam tinggi dan aku takut kehilangannya… itu juga dariku, bukan darimu. Yang pertama kali membersihkan luka di lututnya ketika ia jatuh, yang pertama kali menenangkan tangisnya saat petir menggelegar… semuanya aku, bukan kamu.”

Aku menunduk sejenak, menarik napas dalam. “Aku ingin kau tahu, aku bukan hanya ayahnya. Aku adalah cinta pertamanya, pelukan pertamanya, ciuman pertamanya. Jadi jangan pernah merasa bahwa kau adalah yang pertama baginya. Kau tidak. Tapi… mulai hari ini, kau harus jadi yang terakhir baginya.”

Rihan menggigit bibirnya, menahan emosi. Matanya mulai berkaca-kaca.

Aku melanjutkan, suaraku tegas tapi sarat perasaan. “Aku hanya menitipkan Dila padamu. Dia adalah separuh nafasku. Jangan sakiti dia, apalagi perasaannya. Dia perempuan yang lembut, hatinya mudah retak. Jika suatu hari kau merasa lelah, atau cintamu padanya pudar, jangan sekali-kali kau katakan padanya. Jangan pernah biarkan ia merasa dirinya tak berharga.”

Aku menatap matanya dalam-dalam, menekan setiap kata agar membekas. “Kalau suatu saat nanti kau benar-benar tak sanggup lagi mencintainya… jangan bilang pada Dila. Bilanglah padaku. Aku yang akan menjemputnya, aku yang akan membawanya pulang. Karena bagaimana pun, Dila tetap anakku. Selamanya.”

Sunyi merayapi ruangan. Hanya suara kipas angin tua yang berdecit. Aku melihat air mata jatuh dari mata Rihan. Ia menunduk dalam, lalu mengusap wajahnya.

“Yah…” suaranya bergetar. “Saya… saya tidak pantas mendengar semua ini, tapi saya berjanji. Demi Allah, saya berjanji akan menjaga Dila. Saya tahu, saya bukan yang pertama, dan saya tidak akan pernah bisa menggantikan Ayah. Tapi izinkan saya… untuk berusaha menjadi pelukan terakhirnya. Izinkan saya menua bersamanya, hingga ajal menjemput salah satu dari kami.”

Dadaku sesak. Aku ingin tetap tegar, tapi tangisku pecah juga. Aku menutup wajah dengan tangan, air mata tak terbendung. Rihan mendekat, lalu tiba-tiba ia meraih tanganku.

“Ayah…” katanya lirih. “Terima kasih sudah mempercayakan Dila kepada saya. Saya tahu ini tidak mudah. Tapi insya Allah, saya tidak akan membuat Ayah menyesal.”

Aku menatapnya lagi, kali ini bukan dengan kecurigaan, melainkan dengan harapan. Aku melihat ketulusan di matanya.

“Jaga dia, Rihan,” kataku pelan. “Jaga dia seolah-olah ia nyawamu sendiri. Sebab bagi ayah, dia memang nyawa.”

Rihan mengangguk mantap. “Saya berjanji, Yah. Saya tidak akan biarkan air matanya jatuh karena saya.”

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Hari itu, di ruangan kecil itu, aku merasa untuk pertama kalinya benar-benar berbagi hatiku dengan lelaki lain. Lelaki yang kini menjadi suami putriku.

Malam semakin larut. Suara musik pesta perlahan mereda, tamu-tamu mulai pulang satu per satu. Hanya tersisa keluarga dekat yang masih duduk di ruang tengah, bercakap pelan. Dila sudah di kamar, ditemani ibu dan beberapa kerabat perempuan. Sementara aku masih terdiam di ruang belakang setelah perbincangan panjang dengan Rihan.

Aku menatap menantuku itu lama. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya—ketulusan yang sebelumnya samar, kini tampak jelas. Ia bukan lagi pemuda gugup yang datang meminang, melainkan seorang lelaki yang baru saja menerima amanah besar.

“Rihan,” ucapku pelan, memecah keheningan. “Tadi kau sudah berjanji padaku. Aku tidak butuh banyak kata, tapi aku ingin kau ingat satu hal: janji seorang lelaki diuji bukan pada hari ia mengucapkannya, tapi pada hari-hari ketika badai datang menghantam.”

Rihan mengangguk dengan kepala tertunduk. “Saya mengerti, Yah. Saya tahu perjalanan setelah ini tidak akan selalu mulus. Tapi saya berjanji akan tetap menggenggam tangan Dila, sekuat apa pun badai itu.”

Aku menghela napas panjang. Ada sesuatu yang hangat merayapi dadaku. Untuk pertama kalinya sejak hari ini dimulai, aku merasa sedikit lega.

Tak lama, ibu Dila masuk membawa dua gelas teh hangat. “Sudah cukup kalian bicara,” katanya sambil tersenyum samar. “Biarkan Rihan istirahat. Besok masih panjang.”

Kami bertiga duduk bersama, suasana menjadi lebih tenang. Namun pikiranku masih terus melayang pada wajah Dila. Bagaimana ia kini sedang duduk di kamarnya, mungkin masih memikirkan besarnya tanggung jawab yang baru saja ia emban.

Aku menutup mata sebentar, dan bayangan masa lalu kembali menyeruak.
Dila kecil yang berlari ke arahku dengan rambut kepangannya berantakan. Dila yang menangis kencang karena tidak bisa menghafal pelajaran, lalu kutenangkan dengan pelukan. Dila yang tersenyum malu-malu saat pertama kali bisa memasak mi instan untukku. Semua itu seperti potongan film yang diputar ulang di kepalaku.

Aku berbisik dalam hati, “Ya Allah, aku tahu anak ini kini bukan lagi sepenuhnya milikku. Tapi lindungilah ia. Jangan biarkan hatinya remuk. Jangan biarkan ia merasa sendirian.”

Keesokan harinya, setelah acara resepsi sederhana usai, tibalah saat yang paling sulit: mengantar Dila ke rumah barunya bersama Rihan.

Dila duduk di kursi mobil, mengenakan kerudung putih dan wajahnya masih dihiasi senyum malu. Namun matanya jelas-jelas berkaca-kaca. Aku duduk di sampingnya sebentar, sebelum mobil berangkat.

“Dila…” panggilku lirih.

Ia menoleh, lalu menunduk. “Iya, Yah…”

Aku mengusap kepalanya dengan lembut, sesuatu yang sudah jarang kulakukan sejak ia beranjak dewasa. “Kau tahu, sejak kecil, ayah selalu jadi pelukan pertamamu. Kau selalu datang berlari, meminta ayah menggendongmu. Tapi mulai hari ini, ada lelaki lain yang akan jadi pelukanmu.”

Air matanya menetes. “Ayah…”

Aku menahan tangis agar tidak pecah. “Ingat, Nak. Ayah tidak pernah melepaskanmu. Ayah hanya menitipkanmu. Kalau suatu hari kau merasa dunia terlalu berat, pulanglah. Rumah ini tidak akan pernah menutup pintunya untukmu.”

Dila menangis semakin deras, lalu ia meraih tubuhku dan memelukku erat. Aku balas memeluknya, seakan tidak ingin melepaskan. Itu adalah pelukan terakhirku sebelum ia benar-benar menjadi milik lelaki lain.

Rihan berdiri di samping mobil, menunduk dengan wajah penuh hormat. Aku menatapnya tajam, lalu mengangguk pelan. Sebuah bahasa tanpa kata: “Aku percayakan padamu.”

Rihan membalas anggukanku, matanya berkilat oleh janji yang ia ucapkan malam tadi. Ia membuka pintu mobil, lalu dengan hati-hati menggenggam tangan Dila. Saat itulah, aku merasa seakan menyerahkan sebuah pusaka termahal yang kupunya.

Mobil perlahan bergerak menjauh. Aku berdiri di halaman, melambaikan tangan dengan senyum yang kaku, sementara di dalam dada, perasaanku luluh lantak. Air mata menetes tanpa bisa kutahan, jatuh satu per satu ke tanah yang menjadi saksi tumbuh kembang anakku.

Malam harinya, aku duduk sendiri di ruang tamu. Kursi di sampingku kosong, biasanya Dila yang duduk di sana sambil bercerita tentang sekolah atau pekerjaannya. Kini yang tersisa hanya sepi.

Aku teringat kembali kata-kataku pada Rihan. “Pelukan pertama putriku adalah aku, bukan kamu. Tapi aku ingin kau jadi pelukan terakhirnya.” Kata-kata itu menggema di kepalaku.

Ada rasa hampa, tapi juga ada ketenangan. Aku tahu aku sudah menjalankan tugas sebagai seorang ayah: merawat, mendidik, mencintai, dan akhirnya… merelakan.

Aku menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Dila tersenyum di sana, masih gadis kecil dengan dua kepangan rambut. Aku tersenyum samar, meski air mata kembali menetes.

“Aku memang bukan lagi pelukan pertamanya, tapi aku berharap, lelaki itu akan menjadi pelukan terakhirnya hingga akhir hayat.”

Aku menutup mata, menyerahkan semua pada Tuhan. Dalam doa, aku hanya berkata:
“Ya Allah, jagalah anakku dalam pelukan lelaki yang kini Kau pilihkan untuknya. Bila suatu hari pelukan itu melemah, biarkan ia kembali ke pelukan pertamaku. Sebab aku tak pernah benar-benar melepaskannya. Aku hanya menitipkannya.”


Jakarta, 4 Oktober 2025

 

Komentar