RINDU AYAH

         


        Azan subuh baru saja berkumandang ketika suara ayah menggema dari ruang depan, “Bangun, Nak… subuh sudah tiba.” Suaranya tegas, tapi lembut di telingaku. Aku yang masih terlelap pura-pura tidak mendengar. Ingin rasanya tetap bersembunyi di balik selimut hangat. Namun langkah kaki ayah semakin dekat. Ia mengetuk pintu kamar, kali ini nadanya berubah, lebih tegas. “Ayo bangun, jangan sampai tertinggal jamaah.” Aku tetap diam. Hanya beberapa detik kemudian, selimutku disingkap, dan ranting kecil yang selalu jadi “teman” pagi itu menyentuh betisku. Pedih, tapi lebih pedih lagi ketika sekarang aku menyadari, pukulan itu bukan karena marah—tapi cinta. Cinta yang ingin membawaku dekat dengan Allah.

Ayah selalu seperti itu. Tegas dalam ibadah, lembut dalam tutur. Di antara kesibukannya, ia selalu punya waktu untuk menasihati. Saat aku sedih karena nilai sekolah yang buruk, ia hanya tersenyum dan berkata, “Hidup itu tidak selalu di atas, Nak. Tapi orang kuat akan tetap berjalan meski sedang di bawah.” Kalimatnya sederhana, tapi menancap dalam. Ayah tidak pernah marah atas kegagalanku. Ia justru mengajarkanku untuk berdiri tegak, membersihkan air mata, dan mencoba lagi. Dalam diamnya, aku tahu ia selalu mendoakanku di setiap sujud panjangnya.

Di rumah, ayah adalah guru terbaikku. Ia bukan hanya mengajarkan huruf-huruf hijaiyah atau bacaan salat, tapi juga arti berbagi ilmu. “Berbagilah, Nak, karena ilmu itu cahaya. Cahaya yang redup kalau kau simpan sendiri.” Kalimat itu kuingat betul. Karena dari situlah ayah mulai memberiku tanggung jawab besar — menjadi pengajar di TPA. Aku yang saat itu masih remaja sempat menolak, merasa tidak mampu. Tapi ayah menatapku dengan senyum kecil, menepuk pundakku dan berkata, “Kau tak perlu sempurna untuk mulai, tapi kau perlu mulai untuk jadi sempurna.” Dari situ aku belajar, kepercayaan adalah bentuk kasih sayang yang paling tinggi.

Ketika tiba waktunya memilih sekolah, ayah tidak asal menunjuk. Ia memilih pondok pesantren yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Tapi anehnya, aku tetap disuruh tinggal di asrama. “Supaya kau belajar hidup tanpa bergantung pada siapa pun,” katanya. Malam pertama di pondok, aku menangis diam-diam. Suara jangkrik, udara dingin, dan sepi membuatku ingin pulang. Tapi setiap kali rindu datang, aku teringat wajah ayah—dan tiba-tiba, aku merasa kuat lagi. Kini aku sadar, kemandirian itu bukan sekadar belajar hidup sendiri, tapi juga belajar memahami arti pengorbanan seorang ayah.

Lalu, saat aku masuk SMA, ayah kembali membuat keputusan besar. Ia memilih pesantren terkenal di Jakarta, jauh dari rumah kami yang sederhana. Aku tahu betapa berat keputusan itu baginya. Biayanya besar, jaraknya jauh, dan perpisahan bukan hal mudah. Tapi ayah melakukannya dengan ikhlas. “Aku ingin kau jadi orang yang bermanfaat,” katanya sambil menatap mataku dalam-dalam. Aku melihat kilau air di matanya saat ia berpaling, menahan rindu yang baru saja ia ciptakan sendiri. Kini aku tahu, cinta ayah selalu berarti melepaskan — dengan doa dan keyakinan bahwa anaknya akan baik-baik saja.

Menjelang akhir hayatnya, ayah banyak berpesan. Suaranya sudah lemah, tapi hatinya tetap kuat. Ia memegang tanganku dan berkata pelan, “Jaga silaturahmi, jangan berantem dengan saudara, jangan sombong dengan ilmu yang kau punya.” Aku hanya bisa menangis. Melihat tubuh yang dulu kokoh kini ringkih, napasnya berat, matanya sayu tapi masih penuh kasih. Aku tidak ingin melepaskan tangannya. Dalam hati aku berjanji akan menjaga setiap katanya, akan hidup dengan cara yang membuatnya tersenyum di alam sana.

Namun, janji itu terasa hampa saat kabar duka itu datang. Aku tidak berada di sisinya ketika napas terakhirnya berhenti. Aku datang terlambat—hanya untuk melihat jasad ayah terbaring kaku, wajahnya pucat tapi damai. Aku berlutut di sampingnya, menggenggam tangannya yang sudah dingin, dan air mataku tak terbendung. “Ayah…” suaraku parau, “Maafkan aku… aku tidak sempat mengucapkan terima kasih.” Penyesalan itu tak pernah pergi. Ia tinggal, tumbuh, dan menyakitkan setiap kali aku mengingat hari itu.

Kini, setiap kali azan terdengar, hatiku seakan disayat rindu. Aku mendengar gema suaranya memanggil, “Ayo, Nak, ke masjid.” Aku masih menoleh refleks ke arah pintu, seolah ayah akan muncul membawa ranting kecil dan senyum tegasnya. Tapi yang ada hanya hening. Rindu ini tak pernah habis, justru semakin dalam setiap aku mengenang. Kadang aku menangis diam-diam di sepertiga malam, mengirimkan doa yang tak pernah putus.

Ya Allah… jagalah ayahku di sisi-Mu. Tempatkan ia di tempat terbaik, di surga yang penuh cahaya. Sebab rinduku padanya bukan sekadar kenangan, tapi doa yang tak pernah berhenti berbisik di setiap hembusan napas.

 

Komentar