Sudah lebih dari lima belas tahun sejak Pak Wibowo terakhir kali mengajar anak-anak Playgroup dan TK. Dulu, setiap hari ia disambut dengan tawa riang, tangisan manja, dan ocehan polos yang kadang membuatnya terpingkal. Kini, ia sudah lama mengajar siswa SD bahkan sampai tingkat SMA, peserta didik yang mulai pandai berdebat dan berpikir logis. Tapi hari ini, ia kembali ke masa yang dulu begitu ia rindukan.
Ia mendapatkan kesempatan untuk mendampingi kegiatan belajar di Deen Bakery, sebuah rumah produksi roti. Di sana, anak-anak Playgroup dan TK akan belajar membuat roti. Begitu tiba, aroma manis dari tepung dan mentega langsung menyapa hidungnya, membuat kenangan masa lalu berkelebat di benaknya.
“Anak-anakku, hari ini kita akan belajar membuat roti, ya!” seru Pak Wibowo sambil tersenyum.
Anak-anak kecil dengan topi koki mungil bersorak ramai. Salah satu anak, bocah perempuan bernama Shofiyah, mengacungkan tangan, “Pak, rotinya nanti bisa meledak nggak?”
Pak Wibowo tertawa terbahak. “Waduh, itu kalau roti dinyalain kompor baru bisa meledak, Nak! Tapi hari ini kita bikin roti manis, bukan roti petasan!”
Anak-anak langsung tertawa riuh. Seorang gadis kecil dengan pita merah di rambutnya bertanya polos, “Pak, kalau rotinya gosong, bisa dipakai buat batu bata nggak?”
Pak Wibowo menatapnya sambil pura-pura berpikir serius. “Hmmm… bisa juga, tapi nanti rumahnya jadi harum mentega!”
Gelak tawa meledak lagi.
Pak Wibowo kemudian mengeluarkan yag sudah disiapkan di meja panjang: tepung terigu, telur, gula, ragi, mentega, dan susu bubuk.
“Nah, ini semua bahan rahasia pembuat roti. Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya,” katanya sambil berbisik.
Anak-anak ikut-ikutan berbisik, “Sssst… rahasiaaa…”
Pak Wibowo menepuk tangan. “Oke, siapa tahu ini apa?” katanya sambil menunjuk tepung terigu.
“Itu bedak bayi, Pak!” jawab seorang anak lantang.
“Hahaha, bukan! Tapi kalau kamu pakai buat bedak, bisa-bisa semut datang nempel di pipi kamu!”
Mereka pun mulai mengaduk bahan-bahan. Tepung berterbangan, ada yang meneteskan telur di meja, dan ada juga yang terlalu semangat mengaduk sampai tepungnya muncrat ke temannya.
“Pak! Pipiku kena salju!” teriak Dinda sambil tertawa.
“Itu bukan salju, tapi tepung ajaib!” jawab Pak Wibowo. “Kalau kamu ketawa terus, nanti rotinya tambah lembut!”
Setelah semua bahan tercampur, mereka mulai membentuk adonan. Namun Pak Wibowo menganjurkanbentul bulan saja agar leih mudah, namun ada juga yang benuknya tidak beraturan.
“Pak, ini rotiku bentuk dinosaurus!” kata Naufal bangga.
“Wah, luar biasa! Tapi jangan sampai dimakan sebelum jinak, ya,” jawab Pak Wibowo sambil berpura-pura takut.
Tawa anak-anak pun pecah lagi.
Setelah semua adonan rapi di atas loyang, Pak Wibowo menjelaskan, “Nah, biasanya roti harus dipanggang di oven. Tapi, karena itu butuh waktu lama, roti kalian akan dibantu oleh tim Deen Bakery supaya nanti bisa langsung dimakan, ya.”
“Yaaah, nggak lihat ovennya dong,” keluh salah satu anak.
“Nggak apa-apa,” ujar Pak Wibowo sambil tersenyum. “Kalau lihat oven, nanti malah panas-panas kamu pengen masuk juga!”
Mereka kembali tertawa. Sambil menunggu, anak-anak bernyanyi bersama. Waktu berlalu cepat, dan akhirnya setiap anak mendapat satu roti hangat yang sudah disiapkan oleh tim bakery.
“Pak, ini roti aku enak banget!” kata Dinda dengan mulut penuh.
“Kalau enak, berarti kamu bikin dengan hati yang gembira,” jawab Pak Wibowo.
Naufal datang menghampiri, memegang rotinya yang sudah setengah dimakan. “Pak, aku mau kasih roti ini buat Bapak, biar Bapak juga senang.”
Pak Wibowo menerima sepotong kecil itu sambil tersenyum hangat. “Terima kasih, Nak. Bapak memang sudah senang dari tadi — gara-gara kalian semua.”
Di tengah tawa kecil dan aroma roti manis, Pak Wibowo merasa seolah waktu berputar mundur. Dunia kecil itu masih sama seperti dulu: penuh tawa, kejujuran, dan kebahagiaan yang sederhana.
Sebelum pulang, Pak Wibowo mengumpulkan anak-anak di depan Deen Bakery. Ia tersenyum melihat wajah mereka yang ceria. “Terima kasih, anak-anak hebat, sudah belajar dengan gembira hari ini!”
Pak Wibowo berkata penuh semangat, “Siapa tahu nanti ada yang jadi pengusaha roti sukses.” Anak-anak bersorak, “Aku mau bikin roti pelangi!” “Aku bikin roti dinosaurus!” Pak Wibowo tertawa bahagia.
Menatap Deen Bakery, Pak Wibowo berbisik syukur. Semoga suatu hari mereka bisa kembali ke sini lagi, pikirnya. Ia melambaikan tangan, “Sampai jumpa, anak-anak! Kita bikin roti lagi, ya!”

Komentar
Posting Komentar