CERPEN: PENA TERAKHIR DI UJUNG DESA

 


Di sebuah desa terpencil di lereng bukit, berdirilah sebuah sekolah kecil berdinding kayu dan atap bocor. Itulah satu-satunya tempat belajar anak-anak desa, tempat kabut pagi selalu menyelimuti dan angin seolah membawa sunyi yang panjang. Di sekolah sederhana itu, seorang guru honorer bernama Pak Rahman, 52 tahun, telah mengabdikan hidupnya lebih dari tiga puluh tahun. Meski tak pernah diangkat menjadi pegawai tetap, ia selalu datang dengan senyum tulus.
Perjalanan menuju sekolah bukanlah hal mudah. Setiap hari ia berjalan tujuh kilometer melewati jalanan berlumpur. Sepatu bututnya robek, tas tuanya nyaris tak layak pakai. Namun yang paling berharga adalah pena tua peninggalan istrinya, Bu Rika, yang selalu ia simpan di saku. Pena itu adalah semangatnya, kenangan yang tak pernah padam.
Gajinya sering terlambat berbulan-bulan, bahkan hanya cukup untuk makan seadanya. Namun Pak Rahman tak pernah mengeluh. “Ilmu itu lebih mahal dari gaji,” katanya suatu hari pada murid-muridnya.
Anak didiknya hanya dua belas orang, kebanyakan anak petani miskin. Di mata mereka, Pak Rahman lebih dari seorang guru; ia adalah ayah kedua. Mereka masih mengingat bagaimana Pak Rahman mengajar sambil menahan batuk parah, dadanya seperti ditarik setiap ia berbicara. Mereka ingat saat guru itu diam-diam membeli buku tulis untuk teman mereka yang tak mampu. Dan bagaimana ia rela berjalan malam-malam untuk memastikan seorang murid demam mendapat obat.
Namun tubuhnya mulai menyerah. Pingsan saat mengajar menjadi hal biasa. Nafasnya semakin pendek, batuknya semakin dalam. Dokter desa menyatakan ia terkena penyakit paru-paru dan harus istirahat total.
“Pak Rahman, jangan memaksakan diri,” kata dokter.
Ia hanya tersenyum. “Kalau saya berhenti, siapa yang akan mengajar anak-anak itu?”
Belum selesai masalah itu, pemerintah kecamatan memutuskan menutup sekolah karena jumlah murid terlalu sedikit. Pak Rahman memohon agar sekolah tetap dibuka, tetapi suaranya seperti lenyap ditelan angin. Tidak ada yang peduli pada perjuangannya selama ini.
Hari itu hujan turun deras. Namun Pak Rahman tetap bangun, mengenakan seragam lamanya dan mengambil tas tua berisi lembar ujian akhir yang ia tulis semalam suntuk dengan pena tua peninggalan Bu Rika.
“Walau dunia menutup pintu bagi kalian… pelajaran ini bisa membuka pintu lain,” bisiknya.
Langkahnya berat, tapi ia tetap menuju sekolah. Sesampainya di kelas, murid-murid terkejut melihat wajah gurunya pucat dan basah. Namun ia memaksakan senyum.
“Ayo, hari ini ujian akhir kalian.”
Ia membagikan kertas satu per satu, menatap mereka dengan mata penuh sayang. Namun ketika ia ingin menulis nama murid terakhir, pena tua itu berhenti mengeluarkan tinta.
Ia mencoba mengguncangnya. Tidak ada tinta. Tangan Pak Rahman gemetar, nafasnya makin pendek.
Dengan senyum lirih ia berkata, “Sepertinya… pena ini sudah berjuang terlalu lama… sama seperti saya.”
Tubuhnya tiba-tiba oleng dan tumbang di depan kelas. Murid-murid berteriak panik.
“Pak! Pak Rahman!”
Dengan sisa tenaga, ia membuka mata dan melihat anak-anak itu menangis mengelilinginya.
“Jangan… berhenti belajar…” bisiknya, “…walau dunia… tak selalu peduli pada kalian…”
Ia menghembuskan nafas terakhir sambil menggenggam pena tua yang tak lagi menulis.
Pemakaman hari itu menjadi yang paling sunyi. Hujan turun pelan, seolah langit ikut merasakan kehilangan. Pak Rahman dimakamkan di bukit kecil dekat sekolah, tempat ia mengabdikan hidupnya.
Sekolah akhirnya ditutup. Namun murid-murid tidak menyerah. Mereka belajar di rumah warga secara bergiliran, menggunakan buku-buku peninggalan Pak Rahman. Sementara pena tua itu disimpan dalam lemari kayu, menjadi simbol perjuangan seorang guru yang mengajar dengan cinta, bukan dengan imbalan.
Dan kisah itu selalu dikenang dengan satu kalimat yang membuat siapa pun yang mendengarnya terdiam:
“Pena itu tak lagi menulis, tetapi kisah Pak Rahman terus hidup dalam hati anak-anak di ujung desa.”

Komentar