Hujan turun perlahan di Jakarta sore
itu. Tidak deras, tidak pula disertai angin kencang, hanya rintik-rintik yang
menetes pelan di kaca jendela rumah kontrakan sederhana di sudut kota. Namun
bagi Raka, hujan sore itu terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Ada
sesuatu yang mengendap di dadanya, seperti batu besar yang tak terlihat, tetapi
menekan kuat hingga membuat napasnya terasa sempit.
Remaja berusia tujuh belas tahun itu
duduk bersila di depan televisi tua milik ibunya. Layarnya sedikit buram,
suaranya kadang berdesis, tetapi cukup jelas untuk memperlihatkan gambar-gambar
yang membuat jantungnya serasa diremas.
“Banjir bandang kembali melanda
wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ribuan rumah dilaporkan
hanyut, tempat ibadah rusak parah, dan jumlah korban jiwa terus bertambah…”
Suara penyiar berita itu terdengar
datar, profesional, seolah-olah sedang membacakan angka-angka biasa. Namun bagi
Raka, setiap kata terasa seperti cambukan.
“Ya Allah…” gumamnya lirih.
Di layar televisi, tampak rumah-rumah
yang tinggal rangka, masjid tanpa dinding, sekolah yang berubah menjadi lumpur
cokelat pekat. Air bah menyapu apa saja yang dilewatinya, tanpa memilih, tanpa
ampun.
Raka menelan ludah. Tangannya
mengepal, kukunya menekan telapak tangan sendiri.
“Ini… ini kampungnya Bang Farhan,”
bisiknya sambil menunjuk layar.
Bang Farhan adalah sahabatnya semasa
mondok di pesantren. Mereka pernah tidur beralas tikar yang sama, berbagi lauk
tempe yang sama, dan saling menyemangati saat rindu rumah menyerang di tengah
malam. Farhan berasal dari Sumatera Barat. Bayangan wajah sahabatnya itu muncul
jelas di benak Raka.
“Ya Allah, Farhan… keluarganya…”
Ibunya yang sejak tadi melipat pakaian
berhenti sejenak. Perempuan paruh baya itu memandang Raka dengan mata penuh
iba.
“Kamu kenal orang-orang di sana, Nak?”
tanyanya lembut.
Raka mengangguk. Suaranya bergetar
saat menjawab,
“Iya, Bu. Banyak. Ada saudara kita di Aceh, ada teman-teman pesantren Raka di
Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Mereka semua… entah bagaimana keadaannya
sekarang.”
Ibunya mendekat, duduk di samping
Raka, lalu mengusap punggung anaknya pelan.
“Sabar ya, Nak. Semua ini ujian dari Allah.”
Raka mengangguk, tetapi matanya tak
lepas dari layar. Kamera televisi menyorot seorang ibu yang menangis sambil
memeluk anak kecil berlumur lumpur. Di belakang mereka, puing-puing rumah
berserakan.
“Bu…” suara Raka tercekat, “kenapa
Allah memberi ujian seberat ini?”
Ibunya terdiam sejenak, lalu menjawab
dengan suara yang menenangkan,
“Karena Allah Maha Mengetahui kemampuan hamba-Nya. Dan kadang, musibah bukan
hanya ujian bagi yang tertimpa, tapi juga bagi yang melihat.”
Kalimat itu menancap kuat di hati
Raka.
Malam itu, berita terus bergulir. Data
demi data disampaikan: korban jiwa bertambah, pengungsian penuh, bahan pokok
langka. Harga beras, minyak, dan air bersih melonjak tajam. Warga berebut
bantuan, sebagian terpaksa bertahan dengan apa pun yang tersisa.
“Beras susah didapat, air bersih
langka, listrik padam di banyak wilayah…” ujar reporter lapangan dengan suara
parau.
Raka memejamkan mata. Dadanya sesak.
“Kenapa aku di sini, sementara mereka
di sana menderita?” bisiknya.
Ia bangkit berdiri, berjalan
mondar-mandir di ruang sempit itu. Pikirannya berputar tanpa henti.
“Aku ingin ke sana, Bu,” katanya
tiba-tiba.
Ibunya terkejut.
“Ke mana?”
“Ke Sumatera. Ke lokasi bencana. Aku
ingin bantu. Tenaga, apa pun yang bisa kulakukan.”
Ibunya menatap Raka lama.
“Nak, niatmu mulia. Tapi kamu masih sekolah. Kita juga punya keterbatasan.”
Raka menunduk. Ia tahu itu. Ia bukan
siapa-siapa. Hanya remaja Jakarta yang hidup sederhana, tanpa uang berlebih,
tanpa kekuasaan.
“Tapi Raka nggak bisa diam, Bu. Hati
Raka sakit melihat ini semua.”
Ibunya menggenggam tangan Raka erat.
“Kalau begitu, bantu dengan cara yang kamu bisa.”
Kata-kata itu menjadi cahaya kecil di
tengah gelapnya perasaan Raka.
Keesokan harinya di sekolah, Raka
hampir tak bisa fokus. Pikirannya melayang pada gambar-gambar banjir bandang
yang terus terputar di kepalanya. Saat jam istirahat, ia duduk bersama
sahabatnya, Fikri.
“Kamu kenapa, Rak? Dari tadi melamun,”
tanya Fikri.
Raka menghela napas panjang.
“Kamu lihat berita banjir di Sumatera?”
Fikri mengangguk.
“Iya. Ngeri banget.”
“Ada teman-teman pesantrenku di sana.
Bahkan saudaraku juga.”
Fikri terdiam, lalu berkata,
“Terus kamu mau apa?”
Raka menatap sahabatnya dengan mata
yang mulai berkaca-kaca.
“Aku mau bantu. Tapi aku bingung harus mulai dari mana.”
Fikri berpikir sejenak, lalu menepuk
bahu Raka.
“Kita bisa galang donasi. Di sekolah, di masjid, di lingkungan rumah.”
Raka tertegun.
“Iya… kenapa aku nggak kepikiran itu?”
Sejak hari itu, Raka bergerak. Ia
membuat poster sederhana, menghubungi OSIS, berbicara dengan pengurus masjid.
Ia mengetuk pintu demi pintu, menawarkan kotak donasi kecil.
“Sedikit dari kita, besar artinya bagi
mereka,” katanya berulang kali.
Ada yang memberi dengan tulus. Ada
yang menolak dengan dingin. Namun Raka tak berhenti.
Suatu malam, setelah seharian
berkeliling, Raka kembali duduk di depan televisi. Berita masih sama: banjir,
korban, kesedihan.
Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah.
“Ya Allah…” Raka terisak, “aku mohon,
ringankan beban saudara-saudaraku. Berikan mereka kekuatan. Datangkan
pertolongan-Mu.”
Ia menengadahkan tangan, suaranya
pecah oleh tangis.
“Jika ini peringatan dari-Mu, jadikan kami hamba yang mau belajar.”
Dalam doanya, Raka juga teringat para
pemimpin negeri.
“Ya Allah,” bisiknya, “jadikan
pemimpin kami pemimpin yang takut kepada-Mu. Pemimpin yang meneladani
Rasulullah. Yang tidak gegabah mengambil keputusan, yang menjaga alam, bukan
merusaknya demi kepentingan sesaat.”
Di luar, hujan kembali turun. Kali ini
lebih deras. Raka memandang keluar jendela, lalu kembali menatap layar televisi
yang menampilkan reruntuhan masjid.
“Musibah ini nyata,” gumamnya. “Dan
hikmahnya juga nyata, jika kami mau membuka mata.”
Hari-hari berlalu. Bantuan mulai
berdatangan ke lokasi bencana. Donasi kecil yang dikumpulkan Raka dan
teman-temannya akhirnya disalurkan melalui lembaga kemanusiaan. Jumlahnya tak
seberapa, tetapi Raka merasa hatinya sedikit lebih lega.
Suatu sore, ponsel Raka bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Farhan:
“Rak… aku selamat. Rumah kami rusak, tapi keluargaku masih hidup. Terima kasih
sudah peduli. Doamu sampai ke sini.”
Raka menutup mulutnya, air mata
kembali mengalir.
“Alhamdulillah…” ucapnya
berulang-ulang.
Ia menatap langit Jakarta yang mulai
cerah. Di hatinya, ia tahu: ia tak bisa menghentikan banjir, tak bisa
mengembalikan yang hilang. Tapi ia bisa peduli. Ia bisa berdoa. Ia bisa
bergerak, sekecil apa pun.
Dan dari balik layar televisi yang
sering menjadi saksi penderitaan, Raka belajar satu hal penting:
bahwa kemanusiaan tak pernah dibatasi jarak, dan doa yang tulus tak pernah
sia-sia.
Jakarta, Desember 2025

Komentar
Posting Komentar