Banjir yang Mencuri Keluargaku



Cerpen Oleh : Idi Darusman

 

Hujan turun sejak pagi. Rintiknya membasahi halaman rumah kecil keluarga kami, namun bagi kami, hujan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Sejak kecil, aku—Novi, gadis kelas enam SD—telah akrab dengan aroma tanah basah dan suara tetes air di atap seng. Kampung kami memang jauh dari bukit, jauh dari hutan. Di sini, banjir bukanlah sesuatu yang biasa terjadi. Paling jauh, halaman kami hanya tergenang sedikit ketika hujan turun terlalu lama.

Namun, hari itu, semuanya tampak tenang. Terlalu tenang.

“Ayah, nanti siang kita makan apa?” tanya Adik bungsuku, Dina, sambil duduk di pangkuan Ibu. Suaranya yang cempreng membuat kami semua tertawa.

Ibu mengusap rambut Dina sambil menjawab, “Tunggu saja. Ibu sudah membuat gulai ayam. Tapi jangan sering-sering minta ayam, ya. Kasihan tetangga kalau mencium aromanya.”

Ayah tertawa kecil sambil menyalakan kompor untuk membuat kopi. “Kamu ini, Bu. Anak-anak memang senangnya makan enak. Biar saja.”

Aku tersenyum melihat kehangatan itu. Keluargaku tidak kaya, tapi hangat. Ayah seorang petani yang setiap pagi pergi ke sawah. Ibu membuat kue, kadang pesanan tetangga, kadang hanya untuk kami. Adik-adikku—Rafi yang berusia sembilan tahun, Mila tujuh tahun, dan Dina empat tahun—selalu memenuhi rumah dengan suara gaduh.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Tidak ada yang bisa menebak bahwa hari itu adalah hari terakhir aku melihat kehangatan itu utuh.

Hujan turun tanpa jeda selama tiga hari. Sungai kecil di depan kampung kami mulai terlihat berbeda. Airnya semakin keruh. Batang-batang kayu kecil mulai hanyut turun, terbawa arus dari arah yang tidak seharusnya.

“Kok sungainya bawa kayu, ya?” tanya seorang tetangga.

Ayah mengerutkan dahi. “Biasanya kalau kayu-kayu begini sudah sampai sini, artinya di atas sana sedang ada yang tidak beres.”

Aku menatap air sungai yang berwarna coklat pekat. “Ayah, kita bakalan kena banjir, ya?”

Ayah menepuk kepalaku pelan. “Tidak, Novi. Kampung kita jauh dari bukit. Kalau pun banjir, tidak akan besar.”

Jawaban itu membuatku sedikit tenang, meski jauh di dalam hati ada sesuatu yang mengganjal.

Malam ketiga hujan masih belum berhenti. Rintiknya berubah menjadi dentuman keras di atap rumah. Aku yang sulit tidur berjalan ke dapur mengambil minum. Namun saat hendak kembali ke kamar, aku berhenti.

Ada suara.

“Bu… Ayah… dengar tidak?” aku memanggil pelan.

Ayah yang sedang mengaji di ruang tamu menoleh. “Suara apa, Nak?”

“Ada gemuruh dari arah bukit…”

Ibu ikut keluar dari kamar. “Ah, paling suara angin kencang.”

Tapi itu bukan angin. Suaranya seperti puluhan truk yang berjalan bersamaan. Seperti batu besar berguling dari tempat tinggi. Suaranya semakin dekat.

Ayah berdiri. Wajahnya berubah tegang. “Ini bukan angin…”

Dan dalam hitungan menit, semuanya terjadi.

Pagi belum sepenuhnya datang, namun langit sudah tampak kelabu pekat. Saat itulah suara itu memekik—suara air yang mengganas, menerjang apapun yang menghalanginya.

“Air! Air dari bukit!” teriak seorang warga dari luar.

Ayah membuka pintu.

Yang aku lihat berikutnya adalah mimpi buruk: gelombang besar, tinggi dan cepat, membawa gelondongan kayu raksasa yang berputar seperti monster liar. Ratusan gelondong kayu, sebesar batang pohon raksasa, meluncur bersama arus.

“Astagfirullah! Bu, cepat bawa anak-anak!” Ayah berteriak.

Ibu menjerit, “Rafi! Mila! Dina! Cepat, sini!”

Aku mencoba meraih tangan Dina, sementara Ayah mendorong kami ke luar rumah. Namun terlambat. Sebuah gelondong kayu menghantam dinding rumah kami. Dinding itu pecah seperti kertas.

“AYAH!” aku menjerit.

Kami berlari, tapi air terlalu cepat. Gelombang besar menghantam dari belakang. Aku terlempar, tubuhku seperti kapas yang dipermainkan. Aku mendengar Ayah memanggil namaku.

“Novi! Pegang tanganku!”

Aku meraih tangan Ayah, tapi arus menarikku begitu kuat. Tangan kami terlepas.

“AYAHHH!” suaraku tenggelam bersama suara adik-adikku yang menjerit ketakutan.

Ibu berteriak sekuat tenaga, “NOVI! ANAKKU! BERTAHAN!”

Gelombong kayu kedua menghantam.

Setelah itu, dunia gelap.

Aku terbangun dalam rasa sakit yang tak terkira. Tubuhku terjepit di antara ranting pohon besar yang tumbang. Kepalaku pusing, bajuku robek. Aku mencoba duduk, namun tubuhku bergetar.

Di sekelilingku, hanya ada lumpur, air, dan puing-puing rumah yang tidak bisa lagi dikenali.

“Bu…” suaraku parau. “Ayah…?”

Tidak ada jawaban. Hanya suara air yang terus mengalir muram.

Aku menangis. “Tolong… siapa pun…”

Beberapa jam kemudian, suara orang-orang terdengar.

“Di sini ada anak! Masih hidup!”

Aku diangkat oleh dua orang relawan yang mengenakan jas hujan tebal. “Adik, kamu bisa dengar kami?”

Aku mengangguk lemah.

“Namamu siapa?”

“N… Novi…”

“Tenang, Novi. Kamu selamat. Kami bawa kamu ke posko.”

Selamat.

Hanya aku seorang.

Ketika aku sudah cukup sadar untuk bertanya, aku mencari keluargaku.

“Pak… Ayah saya… Ibu saya… adik-adik saya… ketemu?”

Seorang relawan, seorang perempuan dengan mata yang lembut, menggenggam tanganku. “Novi… sabar, ya. Kami masih mencari…”

Tapi wajahnya berkata sesuatu yang lain.

Esoknya, Ayah ditemukan. Lalu Ibu. Lalu satu per satu adik-adikku.

Tidak ada yang selamat.

Aku menjerit histeris ketika diberi kabar. “Tidak! Tidak mungkin! Ayahku kuat! Ibuku… Adikku… mereka… mereka pasti selamat, Bu! Mereka pasti!”

Relawan itu memelukku erat. “Novi… mereka sudah tenang sekarang…”

Aku meronta, memukul tanah, menendang, menjerit. Hati kecilku hancur berkeping.

“Kenapa… kenapa cuma aku…” aku menangis tanpa suara.

Hari-hari berikutnya di posko seperti berjalan tanpa cahaya. Aku makan karena disuapi. Aku tidur hanya karena tubuhku lelah menangis.

Suatu malam seorang relawan laki-laki duduk di sampingku. “Novi, kamu tahu kenapa banjir kemarin bisa sebesar itu?”

Aku menggeleng.

“Karena hutan di atas bukit sudah gundul. Ada orang-orang yang menebang pohon besar, mengambil kayunya, membuka lahan tanpa izin. Tidak ada pohon yang menahan air. Begitu hujan turun terus menerus, tanahnya tidak kuat. Air membawa semuanya… termasuk gelondongan kayu yang mereka tebangi.”

Aku menatapnya. “Jadi… ini semua karena orang jahat itu?”

Relawan itu menghela napas panjang. “Karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, Novi.”

Aku menggigit bibir. Ada rasa marah, tetapi juga bingung. “Kalau begitu… aku harus benci mereka?”

Relawan itu menggeleng pelan. “Tidak, Nak. Bukan benci. Kamu cukup tahu bahwa alam akan membalas ketika manusia merusaknya. Tugas kita adalah belajar, supaya hal seperti ini tidak terulang.”

Aku terdiam lama. Lalu aku berkata pelan, “Aku tidak mau benci siapa pun. Ayah dan Ibu pasti tidak suka kalau aku benci orang.”

Relawan itu tersenyum kecil. “Kamu anak hebat.”

Aku tidak merasa hebat. Saat itu, aku hanya merasa sendiri.

Beberapa minggu berlalu. Pemerintah mulai membangun pemukiman baru. Banyak keluarga kehilangan rumah. Banyak juga yang kehilangan anggota keluarga. Namun dari semuanya… aku yang paling sendiri.

Suatu hari, seorang ibu dan bapak datang menghampiriku di posko. Relawan memperkenalkan mereka.

“Novi, ini Ibu Raras dan Pak Darman. Mereka bersedia menjadi keluarga asuh untukmu.”

Aku mengangguk pelan. “Apa aku… harus ikut?”

Ibu Raras tersenyum lembut. “Kamu tidak harus apa-apa, Nak. Tapi kamu tidak boleh hidup sendirian. Kamu anak baik. Kamu butuh rumah.”

Rumah.

Kata itu menyayat hatiku lagi.

Namun aku mengangguk. “Baik, Bu.”

Aku pindah ke rumah baruku seminggu kemudian. Rumah itu tidak sebesar rumahku dulu, tapi hangat. Pada malam pertama, Ibu Raras masuk ke kamarku.

“Novi, kamu masih ingat keluargamu?”

Aku tersentak. “Iya… aku ingat semua…”

Ibu Raras duduk di sampingku. “Bagus. Ingatlah mereka dengan bahagia. Kalau kamu sedih, tidak apa-apa. Tapi jangan biarkan kesedihan menghentikanmu untuk hidup.”

Aku menahan air mata. “Bu… kenapa cuma aku yang selamat?”

Ibu Raras menggenggam tanganku. “Karena kamu diberi kesempatan untuk hidup dan memberi arti. Mungkin kamu tidak mengerti sekarang. Tapi suatu hari nanti… kamu akan mengerti.”

Aku menatapnya lama. “Aku ingin sekolah, Bu. Aku ingin jadi orang penting… supaya tidak ada lagi anak kecil kehilangan keluarganya karena ulah orang lain.”

Ibu Raras tersenyum. “Itulah jawaban hidupmu, Novi.”

Tahun-tahun berlalu. Luka itu tidak hilang, tapi berubah menjadi bagian dari diriku. Aku mulai berani bercerita tentang keluargaku kepada teman-temanku. Aku kembali belajar seperti dulu. Aku bahkan membantu kampanye kecil di sekolah tentang menjaga hutan.

Pada suatu sore, aku duduk di halaman rumah keluarga baruku. Langit sedang berwarna oranye, seperti senyuman Ibu saat memasak gulai ayam. Angin sore mengingatkanku pada suara tawa adik-adikku. Aku menatap langit lama sekali.

“Bu… Yah… Rafi… Mila… Dina…” aku berbisik. “Banjir boleh mencuri kalian dariku, tapi tidak dengan harapanku. Aku akan hidup seperti yang Ayah dan Ibu inginkan.”

Aku mengusap air mata yang jatuh. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata ikhlas.

“Terima kasih karena pernah menjadi keluargaku. Sekarang aku akan menjaga dunia… supaya ia tidak menyakiti anak lain seperti aku.”

Langit sore terasa menjawab lewat semburat cahayanya.

Dan aku tersenyum, memulai hidup baru dengan hati yang lebih kuat daripada sebelumnya.

 

Komentar