Berpisah Untuk Belajar (Mengenang masa perpisahan)

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, seolah sengaja memperlambat waktu. Di kamar kecil di sudut rumah, Idi Darusman duduk bersila di lantai, dikelilingi pakaian yang sudah dilipat rapi. Kemeja, sarung, peci, buku tulis, sandal jepit, semuanya sudah disusun sejak malam sebelumnya. Tas tua berwarna hitam itu terbuka, menunggu ditutup, seperti menunggu keputusan terakhir dari pemiliknya.

Tiket bus terlipat rapi di atas meja kecil. Tulisan di sana masih jelas terbaca: Keberangkatan pukul 13.00, setelah Dhuhur. Tujuan: Kreo, Jakarta.

Kata itu berputar-putar di kepala Idi sejak sore. Bukan Jakarta sebagai kota impian dengan gedung tinggi dan lampu gemerlap. Tapi Jakarta sebagai jarak. Jakarta sebagai perpisahan. Jakarta sebagai awal dari sesuatu yang sama sekali belum ia pahami.

Ia menghela napas panjang, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dari jendela, angin malam masuk pelan, membawa suara jangkrik dan aroma tanah basah. Desa itu begitu tenang. Terlalu tenang untuk ditinggalkan.

“Besok aku berangkat,” gumamnya pelan, seperti sedang berbicara pada dirinya sendiri.

Tangannya meraih sehelai kaus lama, kaus favorit yang sering ia pakai saat bermain di luar rumah. Kainnya sudah agak tipis, warnanya sedikit pudar. Ia tempelkan kaus itu ke wajah, menghirup aroma yang sangat ia kenal. Aroma rumah. Aroma masa kecil.

“Benda kecil aja bisa bikin aku begini,” katanya lirih sambil tersenyum pahit.

Air matanya jatuh tanpa aba-aba. Satu tetes. Dua tetes. Lalu pecah.

Ia menunduk, bahunya bergetar. Tangis itu bukan tangis keras, tapi sesenggukan yang ditahan, seolah takut terdengar orang lain. Takut kalau ibu mendengar. Takut kalau ayah masuk. Takut kalau semua jadi semakin berat.

Ia membayangkan pagi esok. Suasana rumah yang sibuk, tas  hitam yang diangkat, pintu yang ditutup. Bayangan itu membuat dadanya kembali bergetar.

“Apa aku akan menangis?” gumamnya pelan.

Ia bangkit lagi, menyalakan lampu kamar. Cahaya kuning lembut menyinari ruangan, membuat bayangan-bayangan kecil di dinding. Dinding yang selama ini menjadi saksi doa-doanya, tangisnya, juga mimpi-mimpinya.

Kaus itu dilipat rapi, dimasukkan ke tas. Bukan untuk dipakai, tapi untuk disimpan. Sebagai pengingat. Bahwa ia pernah menjadi anak desa yang takut meninggalkan rumah.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Tok… tok…

“Kamu belum tidur?” suara ayah terdengar dari balik pintu.

“Belum, Yah.”

Pintu terbuka. Ayah masuk sambil membawa jaket tipis berwarna gelap. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak biasa.

“Ini,” kata ayah sambil menyerahkan jaket itu. “Pagi biasanya dingin.”

Idi menerimanya dengan kedua tangan. “Terima kasih, Yah.”

Ayah duduk di lantai, bersandar pada ranjang. Posisi yang jarang mereka lakukan. Biasanya ayah selalu duduk tegak di kursi, penuh wibawa. Tapi malam itu, ayah terlihat… lebih ….

“Kamu tahu,” kata ayah pelan, “setiap orang punya malam seperti ini.”

“Malam apa?” tanya Idi, suaranya serak.

“Malam sebelum berubah.”

Idi terdiam. Kata-kata itu terasa berat, tapi jujur.

“Dulu, ayah juga takut,” lanjut ayah. “Takut ninggalin rumah, takut nggak bisa jadi seperti yang orang tua ayah harapkan.”

“Kok ayah nggak pernah cerita?”

Ayah tersenyum kecil. “Karena ayah ingin kamu tahu satu hal. Rasa takut itu bukan aib.”

Idi menunduk. Air matanya jatuh lagi.

“Aku ngerasa lemah.”

“Tidak,” ayah menggeleng pelan. “Kamu jujur. Itu beda.”

Hening kembali menyelimuti kamar.

“Kalau nanti kamu merasa sendiri,” kata ayah lagi, “ingat satu hal.”

“Apa?”

“Kamu pergi bukan untuk menjauh. Tapi untuk kembali dengan versi dirimu yang lebih baik.”

Kalimat itu menempel di kepala Idi. Menancap dalam-dalam.

Tak lama, ibu ikut masuk. Ia membawa sajadah kecil yang sudah agak pudar warnanya.

“Kalau belum bisa tidur,” kata ibu lembut, “shalat dulu.”

Idi mengangguk. Ia berdiri, membentangkan sajadah, dan berdiri menghadap kiblat. Dalam sujudnya, air mata jatuh membasahi kain sajadah.

“Ya Allah… aku takut,” bisiknya. “Tapi aku ingin taat.”

Pagi datang terlalu cepat.

Rumah yang biasanya tenang berubah ramai. Kakak pertama, Adnan Al Busyairi, mondar-mandir membantu mengangkat tas. Wajahnya tegar, tapi sesekali ia menoleh ke arah Idi, seolah ingin memastikan adiknya baik-baik saja.

“Kamu yakin semua sudah dibawa?” tanya Adnan.

Idi mengangguk pelan.

Kakak kedua, Muhammad bin Ma’ruf, berdiri di dekat pintu. Tangannya terlipat di dada. “Di sana jangan bandel,” katanya singkat, tapi matanya berkaca-kaca.

“Iya, Kak,” jawab Idi lirih.

Kakak ketiga, Sri Wahyuni Rahmawati, memeluk Idi tiba-tiba. Pelukannya erat, lama.

“Kalau capek, jangan gengsi buat nangis,” bisiknya.

Idi tak sanggup menjawab. Ia hanya mengangguk.

Di sudut ruangan, adik kecilnya, Nurhayati Ma’muroh, berdiri sambil memegang ujung baju ibu. Matanya polos, belum sepenuhnya mengerti apa arti perpisahan.

“Kakak mau ke mana?” tanyanya.

Idi berjongkok di hadapannya. “Kakak mau belajar.”

“Kapan pulang?”

Pertanyaan itu menghantam dada Idi.

“Nanti… kalau sudah pintar.”

Nurhayati tersenyum kecil, lalu memeluk leher kakaknya.

Waktu Dhuhur semakin dekat.

Sebelum berangkat, ayah—Bisri Al Ma’ruf—meminta Idi untuk bicara, untuk pamit secara langsung.

“Bicaralah,” kata ayah pelan.

Idi membuka mulut… tapi tak ada suara keluar.

Yang keluar justru tangis. Sesenggukan. Tubuhnya gemetar. Ia menunduk, tak sanggup menatap siapa pun.

Ayah berdiri. Menepuk bahu Idi, lalu menghadap keluarga.

“Bapak mewakili Idi,” kata ayah dengan suara bergetar, “memohon doa… agar anak ini diberi kekuatan, kesabaran, dan kesuksesan dalam belajar.”

Tangis pecah di ruangan itu.

Dan Idi tahu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.

Langit siang itu tampak lebih pucat dari biasanya.

Matahari sudah condong ke barat ketika suara adzan Dhuhur menggema dari surau dekat rumah. Idi berdiri di ambang pintu kamar, memandangi ruangan itu untuk terakhir kalinya. Tempat ia tumbuh, tempat ia belajar menangis diam-diam, tempat ia berdoa agar selalu dekat dengan orang-orang yang ia cintai.

Tas hitam sudah tertutup. Jaket pemberian ayah tergantung di lengannya.

“Istirahat dulu sebelum berangkat,” kata ibu sambil merapikan kerah baju Idi.

Idi mengangguk. Tapi perutnya terasa kosong. Dadanya penuh. Setiap detik terasa seperti pasir yang jatuh perlahan, tapi tak bisa dihentikan.

Setelah shalat Dhuhur berjamaah, suasana rumah kembali hening. Terlalu hening. Tak ada yang benar-benar ingin bicara, seolah satu kata saja bisa memecahkan ketabahan yang sedang mereka bangun bersama.

Bus akan lewat sekitar pukul satu siang. Mereka harus berangkat ke jalan besar.

Ayah mengangkat tas. Langkahnya berat, bukan karena koper itu, tapi karena perasaan yang ia sembunyikan rapat-rapat.

Di halaman rumah, seluruh keluarga berkumpul.

Adnan berdiri paling dekat dengan Idi. “Di pesantren itu,” katanya sambil menepuk bahu adiknya, “kamu mungkin capek. Mungkin pengen pulang. Tapi ingat, kamu nggak sendirian.”

Idi menatap kakaknya. “Kalau aku kangen?”

Adnan tersenyum, tapi matanya basah. “Itu tanda kamu masih punya hati.”

Muhammad bin Ma’ruf maju. Ia meraih tangan Idi, menggenggamnya kuat-kuat. “Jaga shalatmu. Itu saja pesan kakak.”

“Iya, Kak.”

Sri Wahyuni Rahmawati memeluk Idi sekali lagi. Kali ini lebih lama. Lebih erat.

“Kamu adik yang baik,” katanya terisak. “Jangan ragu jadi diri sendiri.”

Idi menutup mata. Pelukan itu seperti ingin menahannya agar tak pergi.

Nurhayati Ma’muroh mendekat perlahan. Ia membawa sebuah sapu tangan kecil.

“Ini buat kakak,” katanya polos.

Idi menerimanya dengan tangan gemetar. “Terima kasih, Dik.”

“Kakak jangan lupa pulang.”

Kalimat itu membuat dadanya runtuh.

Bus terdengar dari kejauhan.

Ayah menoleh ke arah Idi. “Sudah siap?”

Idi ingin berkata tidak. Ingin berkata tunggu sebentar. Ingin berkata aku belum kuat. Tapi yang keluar hanya anggukan kecil.

Mereka berjalan menuju tepi jalan. Setiap langkah terasa seperti menjauh dari dirinya sendiri.

Bus berhenti. Pintu terbuka. Asap knalpot menyebar.

Saat itulah ayah menahan langkah Idi.

“Sebentar,” kata ayah.

Ia menatap anaknya. Anak yang sebentar lagi akan menjadi santri di Pondok Pesantren Darunnajah, Jakarta. Anak yang akan hidup dengan aturan, disiplin, dan jarak.

“Bicara,” kata ayah lembut.

Idi membuka mulut.

Tak ada suara.

Yang ada hanya tangis.

Sesenggukan itu pecah tanpa bisa ditahan. Bahunya naik turun. Air matanya jatuh membasahi baju. Ia menunduk, menggigit bibirnya, mencoba berhenti, tapi gagal.

“Ayah…” suaranya patah. “Aku…”

Ia tak sanggup melanjutkan.

Ayah menarik Idi ke dalam pelukan. Pelukan seorang ayah yang tak ingin terlihat lemah, tapi malam itu tak lagi peduli.

Ayah menoleh ke keluarga.

“Bapak yang mewakili Idi,” katanya dengan suara bergetar, “memohon maaf kalau selama ini anak ini punya salah. Mohon doa, agar ia kuat, sabar, dan berhasil dalam menuntut ilmu.”

Tangis tak lagi bisa dibendung.

Ibu menutup wajahnya dengan kerudung. Adnan menunduk. Muhammad memalingkan wajah. Sri Wahyuni memeluk Nurhayati yang ikut menangis tanpa benar-benar tahu alasannya.

Ayah menatap Idi kembali.

“Kamu boleh takut,” katanya pelan. “Tapi jangan mundur.”

Idi mengangguk di sela tangisnya.

“Pergilah,” lanjut ayah. “Belajarlah. Jadilah orang yang bermanfaat.”

Idi naik ke dalam bus. Tangannya gemetar saat memegang pegangan kursi. Ia menoleh ke jendela.

Di luar, keluarga melambaikan tangan.

Ibu tersenyum sambil menangis.

Ayah berdiri tegak, meski matanya basah.

Bus bergerak.

Pelan.

Lalu semakin cepat.

Rumah itu mengecil. Wajah-wajah itu menjauh.

Idi menempelkan dahi ke kaca. Tangisnya kembali pecah, kali ini tanpa suara.

“Ya Allah,” bisiknya, “aku pergi bukan karena berani… tapi karena aku ingin taat.”

Jakarta menantinya.

Pesantren menantinya.

Dan perpisahan itu—akan selalu tinggal di hatinya, sebagai luka yang menguatkan.

Tamat.


Pengalaman Pribadi tahun 1994, Idi Darusman
(Obat kangen dengan orang-orang terkasih)

Komentar