Jika saya bisa mengulang satu hari saja, barangkali hidup tidak akan seperti ini.
Kalimat itu berulang di kepala Arka sejak pagi. Sejak ia duduk di bangku kayu tua di teras rumah, menatap halaman yang basah oleh sisa hujan semalam. Bau tanah lembap menyusup ke dadanya, mengingatkannya pada masa lalu, masa yang selalu datang tanpa diundang.
Jam dinding berdetak pelan. Terlalu pelan, seolah mengejek waktu yang terus berjalan, sementara Arka merasa terjebak di satu titik.
Di tangannya ada secarik kertas. Kertas kusam, terlipat berulang kali, dengan tulisan tangan yang sudah mulai pudar.
Jika saya tidak pergi hari itu…
Arka menutup matanya.
“Masih kau simpan?” suara seorang perempuan terdengar dari balik pintu.
Arka membuka mata. Nara berdiri di ambang pintu, mengenakan sweater abu-abu, rambutnya diikat asal. Wajahnya tenang, tapi matanya selalu menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia ucapkan.
“Ada hal-hal yang tak bisa dibuang,” jawab Arka pelan.
Nara melangkah mendekat, duduk di kursi sebelahnya. Mereka terdiam beberapa detik, seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang oleh takdir.
“Dokter menelepon,” kata Nara akhirnya.
Arka menoleh. “Tentang hasilnya?”
Nara mengangguk. “Besok.”
Satu kata itu cukup membuat dada Arka sesak. Besok. Kata yang bagi orang lain mungkin biasa, tapi baginya adalah pintu menuju sesuatu yang tak ingin ia hadapi.
“Kalau hasilnya buruk?” tanya Arka, suaranya nyaris tak terdengar.
Nara tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. “Kita hadapi.”
“Kita?”
Kata itu membuat Arka ingin tertawa sekaligus menangis. Sejak kapan mereka benar-benar kita?
Angin berembus pelan. Daun mangga di halaman berdesir, sama seperti bertahun-tahun lalu, di rumah yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda.
Jika saya tidak menunda kepulangan waktu itu, Ibu tidak akan menunggu sampai malam.
Arka masih ingat hari itu dengan jelas. Terlalu jelas. Hari ketika hujan turun sejak siang, dan ia memilih berteduh di kota, mengejar rapat, mengejar janji, mengejar sesuatu yang kini terasa tak berarti.
Telepon bergetar di sakunya.
“Arka, pulanglah. Ibu ingin melihatmu.”
Ia menjawab sambil menatap layar laptop. “Sebentar lagi, Bu. Besok aku pulang.”
“Besok itu lama,” suara Ibu terdengar lemah, tapi masih berusaha tegar.
“Aku janji,” katanya waktu itu.
Janji adalah kata yang paling mudah diucapkan, dan paling sering dilanggar.
Malam itu, telepon kembali berdering. Kali ini suara Pak RT yang terdengar.
“Arka… Ibumu…”
Kalimat itu tak pernah selesai. Tak perlu selesai.
“Mas,” suara Nara menariknya kembali ke masa kini. “Kau dengar?”
Arka menggeleng pelan. “Maaf.”
“Kau selalu pergi ke tempat itu,” kata Nara lirih.
“Tempat mana?”
“Masa lalu.”
Arka tersenyum pahit. “Aku tinggal di sana.”
Nara menatapnya lama. “Lalu aku ini apa?”
Pertanyaan itu seperti pisau kecil yang menancap perlahan.
“Aku tidak tahu bagaimana keluar,” jawab Arka jujur.
Nara berdiri. “Kadang, bukan soal keluar. Tapi soal berhenti menyalahkan diri sendiri.”
Arka ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa ia telah mencoba. Tapi bagaimana menjelaskan bahwa setiap malam ia berbicara pada bayangan, pada suara-suara yang tak pernah membalas?
Jika saya berani jujur pada perasaan saya, mungkin Mira tidak akan pergi.
Nama itu masih hidup di benaknya.
Mira…!!!!
Perempuan dengan tawa sederhana dan mata yang selalu percaya. Terlalu percaya.
“Kau mencintaiku?” tanya Mira suatu sore, di bangku taman kampus.
Arka terdiam. Ia menatap langit, mencari jawaban di antara awan.
“Aku sedang mengejar masa depan,” katanya akhirnya.
Mira tersenyum, tapi senyumnya runtuh perlahan. “Aku hanya bertanya sekarang.”
Dan Arka memilih diam.
Sebulan kemudian, Mira menikah dengan orang lain.
Bukan karena ia berhenti mencintai Arka, tapi karena Arka tak pernah memilihnya.
Hujan kembali turun sore itu. Nara menutup jendela, sementara Arka masih duduk di teras.
“Kau masuk?” tanya Nara.
“Nanti.”
Nara mengangguk, lalu menghilang ke dalam rumah.
Arka membuka kembali kertas di tangannya. Di bagian bawahnya, ada satu kalimat lagi.
Jika saya diberi satu kesempatan lagi, saya akan memilih berbeda.
Air hujan menetes di ujung kertas, melunturkan tinta.
“Atau mungkin,” gumam Arka, “kesempatan itu bukan untuk mengubah masa lalu.”
Ia berdiri perlahan. Kakinya terasa berat, seolah membawa beban bertahun-tahun.
“Kalau bukan itu,” katanya pada dirinya sendiri, “lalu untuk apa aku masih di sini?”
Jam dinding berdetak lebih keras malam itu. Atau mungkin hanya hatinya yang semakin peka terhadap waktu yang menipis.
Di kamar, Nara duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya. Ia menoleh saat Arka masuk.
“Mas,” katanya pelan. “Apa pun hasilnya besok… aku ingin kau berjanji satu hal.”
Arka mendekat. “Apa?”
“Berhentilah hidup di kata ‘jika’.”
Arka terdiam.
Karena di situlah seluruh hidupnya berada.
Pagi ini datang tanpa permisi.
Cahaya matahari menembus celah gorden, jatuh tepat di wajah Arka. Ia terbangun dengan napas berat, seolah semalaman ia berlari tanpa pernah sampai. Di sampingnya, Nara masih terlelap, wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Garis-garis tipis di keningnya semakin jelas, seperti peta kecil dari semua kecemasan yang ia pendam sendiri.
Arka menatapnya lama.
Jika saya lebih cepat berubah…
Ia menggeleng pelan. Hari ini bukan tentang “jika”.
Ia bangun perlahan agar tak membangunkan Nara. Di kamar mandi, ia menatap bayangannya di cermin. Wajah itu tampak asing, mata cekung, rahang mengeras, dan sorot mata yang terlalu sering kalah oleh masa lalu.
“Cukup,” katanya pada bayangan itu. “Hari ini cukup.”
Rumah sakit berdiri dingin dan sunyi, meski penuh orang. Bau antiseptik menusuk hidung, membuat Arka teringat pada malam ketika Ibu dibaringkan di ranjang serupa, dengan selang-selang dan mesin yang berdetak lebih setia daripada manusia.
Nara berjalan di sampingnya. Tangannya gemetar saat Arka menggenggamnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Arka.
Nara tersenyum kecil. “Seharusnya aku yang bertanya itu.”
Mereka duduk di bangku tunggu. Jam dinding besar di ujung ruangan menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh. Setiap detik seperti mengetuk dada Arka dari dalam.
“Mas,” kata Nara tiba-tiba. “Kalau… kalau nanti hidup kita berubah, kau akan tetap di sini, kan?”
Arka menoleh. “Di mana pun kau berada.”
“Jangan menjawab seperti orang yang siap pergi,” suara Nara bergetar.
Arka menggenggam tangannya lebih erat. “Aku tidak akan pergi.”
Pintu ruangan dokter terbuka.
“Bapak Arka Pradipta?”
Arka berdiri. “Saya.”
Nara ikut bangkit, meski kakinya tampak goyah.
Dokter itu berbicara dengan suara tenang, terlalu tenang untuk sesuatu yang mengguncang hidup.
“Kami sudah memeriksa hasil biopsi,” katanya. “Dan kami harus jujur.”
Arka menahan napas.
“Ini stadium awal,” lanjut dokter. “Masih ada peluang yang sangat baik, asal Bapak mau menjalani pengobatan dengan disiplin.”
Nara menutup mulutnya. Air mata jatuh begitu saja.
Arka justru terdiam. Bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lain. Kesadaran yang tiba-tiba datang seperti cahaya keras.
“Jadi… saya masih punya waktu?” tanya Arka.
Dokter mengangguk. “Waktu adalah sesuatu yang relatif. Tapi ya, kita tidak terlambat.”
Kata tidak terlambat berputar di kepala Arka.
Tidak terlambat.
Di luar rumah sakit, hujan turun pelan. Bukan hujan yang marah, melainkan hujan yang seolah membersihkan.
Nara menangis di bahu Arka.
“Aku takut,” katanya terisak.
“Aku juga,” jawab Arka jujur. “Tapi kita hadapi.”
Untuk kedua kalinya, kata kita terasa nyata.
Jika saya terus bersembunyi di balik penyesalan, saya akan mati sebelum waktunya.
Arka menyadari itu di hari-hari berikutnya. Saat menjalani terapi, saat tubuhnya lemah, dan saat malam-malam menjadi lebih panjang. Tapi anehnya, justru di titik rapuh itu, ia merasa hidup.
Ia mulai menulis.
Bukan novel, bukan catatan indah, melainkan surat-surat. Untuk Ibu, untuk Mira, untuk dirinya sendiri.
Suatu malam, Nara masuk ke ruang kerja kecil mereka.
“Kau menulis apa?” tanyanya.
“Permintaan maaf,” jawab Arka.
“Kepada siapa?”
“Semua orang. Termasuk diriku.”
Nara duduk di lantai, bersandar di kursi Arka. “Aku ingin membacanya suatu hari.”
“Kalau aku sudah berani menunjukkannya.”
Jika saya berani menghadapi orang-orang yang saya tinggalkan, mungkin luka ini bisa sembuh.
Arka mengunjungi makam Ibu di suatu pagi yang cerah. Ia berdiri lama, tanpa kata-kata. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga kamboja.
“Bu,” katanya akhirnya. “Aku datang bukan untuk minta maaf.”
Ia menelan ludah.
“Aku datang untuk berjanji.”
Air matanya jatuh.
“Aku akan hidup.”
Beberapa hari kemudian, ia menemui Mira.
Perempuan itu kini seorang ibu, dengan senyum yang lebih tenang. Mereka duduk di sebuah kedai kopi sederhana.
“Kau tampak berbeda,” kata Mira.
“Aku hampir kehilangan segalanya,” jawab Arka. “Dan baru sadar, aku tak pernah benar-benar menggenggam apa pun.”
Mira tersenyum. “Aku tidak marah lagi, Arka.”
“Aku tahu. Tapi aku perlu mengatakannya.”
Ia menarik napas. “Aku mencintaimu dulu. Dan aku takut.”
Mira mengangguk. “Takut sering menyamar sebagai diam.”
Percakapan itu tak menyatukan kembali apa pun. Tapi ia melepaskan sesuatu yang lama terikat.
Jika saya diberi kesempatan kedua, saya akan memilih hadir.
Kesempatan itu datang setiap pagi.
Arka mulai berubah dalam hal-hal kecil, mendengarkan Nara tanpa menyela, pulang tepat waktu, tertawa tanpa merasa bersalah. Ia belajar bahwa hidup tidak menunggu seseorang selesai menyesali masa lalu.
Suatu malam, Nara duduk di sampingnya, menatap langit-langit.
“Mas,” katanya pelan. “Aku takut suatu hari kau kembali tenggelam.”
Arka menoleh. “Kalau itu terjadi, tarik aku.”
Nara tersenyum sambil menangis. “Janji?”
“Janji.”
Waktu berlalu. Pengobatan berjalan baik. Rambut Arka mulai tumbuh kembali, tubuhnya menguat, dan matanya kembali memiliki cahaya.
Di suatu sore, ia duduk di teras, tempat yang sama seperti awal cerita ini. Tapi kali ini, tanpa kertas lusuh di tangannya.
Nara keluar membawa dua cangkir teh.
“Kau tampak damai,” katanya.
Arka tersenyum. “Aku masih takut.”
“Itu manusiawi.”
“Tapi aku tidak lagi hidup di ‘jika’.”
Nara duduk di sampingnya. “Lalu di mana kau hidup sekarang?”
“Di sini,” jawab Arka, menggenggam tangannya. “Di detik ini.”
Malam itu, Arka menulis satu kalimat terakhir di buku catatannya.
Bukan jika saya.
Melainkan:
Saya memilih hidup.
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terasa terlambat.
Kalimat itu berulang di kepala Arka sejak pagi. Sejak ia duduk di bangku kayu tua di teras rumah, menatap halaman yang basah oleh sisa hujan semalam. Bau tanah lembap menyusup ke dadanya, mengingatkannya pada masa lalu, masa yang selalu datang tanpa diundang.
Jam dinding berdetak pelan. Terlalu pelan, seolah mengejek waktu yang terus berjalan, sementara Arka merasa terjebak di satu titik.
Di tangannya ada secarik kertas. Kertas kusam, terlipat berulang kali, dengan tulisan tangan yang sudah mulai pudar.
Jika saya tidak pergi hari itu…
Arka menutup matanya.
“Masih kau simpan?” suara seorang perempuan terdengar dari balik pintu.
Arka membuka mata. Nara berdiri di ambang pintu, mengenakan sweater abu-abu, rambutnya diikat asal. Wajahnya tenang, tapi matanya selalu menyimpan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia ucapkan.
“Ada hal-hal yang tak bisa dibuang,” jawab Arka pelan.
Nara melangkah mendekat, duduk di kursi sebelahnya. Mereka terdiam beberapa detik, seperti dua orang asing yang dipaksa berbagi ruang oleh takdir.
“Dokter menelepon,” kata Nara akhirnya.
Arka menoleh. “Tentang hasilnya?”
Nara mengangguk. “Besok.”
Satu kata itu cukup membuat dada Arka sesak. Besok. Kata yang bagi orang lain mungkin biasa, tapi baginya adalah pintu menuju sesuatu yang tak ingin ia hadapi.
“Kalau hasilnya buruk?” tanya Arka, suaranya nyaris tak terdengar.
Nara tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan. “Kita hadapi.”
“Kita?”
Kata itu membuat Arka ingin tertawa sekaligus menangis. Sejak kapan mereka benar-benar kita?
Angin berembus pelan. Daun mangga di halaman berdesir, sama seperti bertahun-tahun lalu, di rumah yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda.
Jika saya tidak menunda kepulangan waktu itu, Ibu tidak akan menunggu sampai malam.
Arka masih ingat hari itu dengan jelas. Terlalu jelas. Hari ketika hujan turun sejak siang, dan ia memilih berteduh di kota, mengejar rapat, mengejar janji, mengejar sesuatu yang kini terasa tak berarti.
Telepon bergetar di sakunya.
“Arka, pulanglah. Ibu ingin melihatmu.”
Ia menjawab sambil menatap layar laptop. “Sebentar lagi, Bu. Besok aku pulang.”
“Besok itu lama,” suara Ibu terdengar lemah, tapi masih berusaha tegar.
“Aku janji,” katanya waktu itu.
Janji adalah kata yang paling mudah diucapkan, dan paling sering dilanggar.
Malam itu, telepon kembali berdering. Kali ini suara Pak RT yang terdengar.
“Arka… Ibumu…”
Kalimat itu tak pernah selesai. Tak perlu selesai.
“Mas,” suara Nara menariknya kembali ke masa kini. “Kau dengar?”
Arka menggeleng pelan. “Maaf.”
“Kau selalu pergi ke tempat itu,” kata Nara lirih.
“Tempat mana?”
“Masa lalu.”
Arka tersenyum pahit. “Aku tinggal di sana.”
Nara menatapnya lama. “Lalu aku ini apa?”
Pertanyaan itu seperti pisau kecil yang menancap perlahan.
“Aku tidak tahu bagaimana keluar,” jawab Arka jujur.
Nara berdiri. “Kadang, bukan soal keluar. Tapi soal berhenti menyalahkan diri sendiri.”
Arka ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa ia telah mencoba. Tapi bagaimana menjelaskan bahwa setiap malam ia berbicara pada bayangan, pada suara-suara yang tak pernah membalas?
Jika saya berani jujur pada perasaan saya, mungkin Mira tidak akan pergi.
Nama itu masih hidup di benaknya.
Mira…!!!!
Perempuan dengan tawa sederhana dan mata yang selalu percaya. Terlalu percaya.
“Kau mencintaiku?” tanya Mira suatu sore, di bangku taman kampus.
Arka terdiam. Ia menatap langit, mencari jawaban di antara awan.
“Aku sedang mengejar masa depan,” katanya akhirnya.
Mira tersenyum, tapi senyumnya runtuh perlahan. “Aku hanya bertanya sekarang.”
Dan Arka memilih diam.
Sebulan kemudian, Mira menikah dengan orang lain.
Bukan karena ia berhenti mencintai Arka, tapi karena Arka tak pernah memilihnya.
Hujan kembali turun sore itu. Nara menutup jendela, sementara Arka masih duduk di teras.
“Kau masuk?” tanya Nara.
“Nanti.”
Nara mengangguk, lalu menghilang ke dalam rumah.
Arka membuka kembali kertas di tangannya. Di bagian bawahnya, ada satu kalimat lagi.
Jika saya diberi satu kesempatan lagi, saya akan memilih berbeda.
Air hujan menetes di ujung kertas, melunturkan tinta.
“Atau mungkin,” gumam Arka, “kesempatan itu bukan untuk mengubah masa lalu.”
Ia berdiri perlahan. Kakinya terasa berat, seolah membawa beban bertahun-tahun.
“Kalau bukan itu,” katanya pada dirinya sendiri, “lalu untuk apa aku masih di sini?”
Jam dinding berdetak lebih keras malam itu. Atau mungkin hanya hatinya yang semakin peka terhadap waktu yang menipis.
Di kamar, Nara duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya. Ia menoleh saat Arka masuk.
“Mas,” katanya pelan. “Apa pun hasilnya besok… aku ingin kau berjanji satu hal.”
Arka mendekat. “Apa?”
“Berhentilah hidup di kata ‘jika’.”
Arka terdiam.
Karena di situlah seluruh hidupnya berada.
Pagi ini datang tanpa permisi.
Cahaya matahari menembus celah gorden, jatuh tepat di wajah Arka. Ia terbangun dengan napas berat, seolah semalaman ia berlari tanpa pernah sampai. Di sampingnya, Nara masih terlelap, wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Garis-garis tipis di keningnya semakin jelas, seperti peta kecil dari semua kecemasan yang ia pendam sendiri.
Arka menatapnya lama.
Jika saya lebih cepat berubah…
Ia menggeleng pelan. Hari ini bukan tentang “jika”.
Ia bangun perlahan agar tak membangunkan Nara. Di kamar mandi, ia menatap bayangannya di cermin. Wajah itu tampak asing, mata cekung, rahang mengeras, dan sorot mata yang terlalu sering kalah oleh masa lalu.
“Cukup,” katanya pada bayangan itu. “Hari ini cukup.”
Rumah sakit berdiri dingin dan sunyi, meski penuh orang. Bau antiseptik menusuk hidung, membuat Arka teringat pada malam ketika Ibu dibaringkan di ranjang serupa, dengan selang-selang dan mesin yang berdetak lebih setia daripada manusia.
Nara berjalan di sampingnya. Tangannya gemetar saat Arka menggenggamnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Arka.
Nara tersenyum kecil. “Seharusnya aku yang bertanya itu.”
Mereka duduk di bangku tunggu. Jam dinding besar di ujung ruangan menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh. Setiap detik seperti mengetuk dada Arka dari dalam.
“Mas,” kata Nara tiba-tiba. “Kalau… kalau nanti hidup kita berubah, kau akan tetap di sini, kan?”
Arka menoleh. “Di mana pun kau berada.”
“Jangan menjawab seperti orang yang siap pergi,” suara Nara bergetar.
Arka menggenggam tangannya lebih erat. “Aku tidak akan pergi.”
Pintu ruangan dokter terbuka.
“Bapak Arka Pradipta?”
Arka berdiri. “Saya.”
Nara ikut bangkit, meski kakinya tampak goyah.
Dokter itu berbicara dengan suara tenang, terlalu tenang untuk sesuatu yang mengguncang hidup.
“Kami sudah memeriksa hasil biopsi,” katanya. “Dan kami harus jujur.”
Arka menahan napas.
“Ini stadium awal,” lanjut dokter. “Masih ada peluang yang sangat baik, asal Bapak mau menjalani pengobatan dengan disiplin.”
Nara menutup mulutnya. Air mata jatuh begitu saja.
Arka justru terdiam. Bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang lain. Kesadaran yang tiba-tiba datang seperti cahaya keras.
“Jadi… saya masih punya waktu?” tanya Arka.
Dokter mengangguk. “Waktu adalah sesuatu yang relatif. Tapi ya, kita tidak terlambat.”
Kata tidak terlambat berputar di kepala Arka.
Tidak terlambat.
Di luar rumah sakit, hujan turun pelan. Bukan hujan yang marah, melainkan hujan yang seolah membersihkan.
Nara menangis di bahu Arka.
“Aku takut,” katanya terisak.
“Aku juga,” jawab Arka jujur. “Tapi kita hadapi.”
Untuk kedua kalinya, kata kita terasa nyata.
Jika saya terus bersembunyi di balik penyesalan, saya akan mati sebelum waktunya.
Arka menyadari itu di hari-hari berikutnya. Saat menjalani terapi, saat tubuhnya lemah, dan saat malam-malam menjadi lebih panjang. Tapi anehnya, justru di titik rapuh itu, ia merasa hidup.
Ia mulai menulis.
Bukan novel, bukan catatan indah, melainkan surat-surat. Untuk Ibu, untuk Mira, untuk dirinya sendiri.
Suatu malam, Nara masuk ke ruang kerja kecil mereka.
“Kau menulis apa?” tanyanya.
“Permintaan maaf,” jawab Arka.
“Kepada siapa?”
“Semua orang. Termasuk diriku.”
Nara duduk di lantai, bersandar di kursi Arka. “Aku ingin membacanya suatu hari.”
“Kalau aku sudah berani menunjukkannya.”
Jika saya berani menghadapi orang-orang yang saya tinggalkan, mungkin luka ini bisa sembuh.
Arka mengunjungi makam Ibu di suatu pagi yang cerah. Ia berdiri lama, tanpa kata-kata. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga kamboja.
“Bu,” katanya akhirnya. “Aku datang bukan untuk minta maaf.”
Ia menelan ludah.
“Aku datang untuk berjanji.”
Air matanya jatuh.
“Aku akan hidup.”
Beberapa hari kemudian, ia menemui Mira.
Perempuan itu kini seorang ibu, dengan senyum yang lebih tenang. Mereka duduk di sebuah kedai kopi sederhana.
“Kau tampak berbeda,” kata Mira.
“Aku hampir kehilangan segalanya,” jawab Arka. “Dan baru sadar, aku tak pernah benar-benar menggenggam apa pun.”
Mira tersenyum. “Aku tidak marah lagi, Arka.”
“Aku tahu. Tapi aku perlu mengatakannya.”
Ia menarik napas. “Aku mencintaimu dulu. Dan aku takut.”
Mira mengangguk. “Takut sering menyamar sebagai diam.”
Percakapan itu tak menyatukan kembali apa pun. Tapi ia melepaskan sesuatu yang lama terikat.
Jika saya diberi kesempatan kedua, saya akan memilih hadir.
Kesempatan itu datang setiap pagi.
Arka mulai berubah dalam hal-hal kecil, mendengarkan Nara tanpa menyela, pulang tepat waktu, tertawa tanpa merasa bersalah. Ia belajar bahwa hidup tidak menunggu seseorang selesai menyesali masa lalu.
Suatu malam, Nara duduk di sampingnya, menatap langit-langit.
“Mas,” katanya pelan. “Aku takut suatu hari kau kembali tenggelam.”
Arka menoleh. “Kalau itu terjadi, tarik aku.”
Nara tersenyum sambil menangis. “Janji?”
“Janji.”
Waktu berlalu. Pengobatan berjalan baik. Rambut Arka mulai tumbuh kembali, tubuhnya menguat, dan matanya kembali memiliki cahaya.
Di suatu sore, ia duduk di teras, tempat yang sama seperti awal cerita ini. Tapi kali ini, tanpa kertas lusuh di tangannya.
Nara keluar membawa dua cangkir teh.
“Kau tampak damai,” katanya.
Arka tersenyum. “Aku masih takut.”
“Itu manusiawi.”
“Tapi aku tidak lagi hidup di ‘jika’.”
Nara duduk di sampingnya. “Lalu di mana kau hidup sekarang?”
“Di sini,” jawab Arka, menggenggam tangannya. “Di detik ini.”
Malam itu, Arka menulis satu kalimat terakhir di buku catatannya.
Bukan jika saya.
Melainkan:
Saya memilih hidup.
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terasa terlambat.
Komentar
Posting Komentar