Autobiografi Idi Darusman


Saya, Idi Darusman, lahir di Desa Sumberjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya tumbuh di lingkungan pedesaan yang sederhana, jauh dari hiruk-pikuk kota, dengan kehidupan masyarakat yang masih sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan kerja keras. Masa kecil saya dihabiskan di tengah keluarga dan masyarakat desa yang hidup apa adanya, namun kaya akan nilai-nilai kehidupan. Dari lingkungan inilah karakter saya mulai terbentukbelajar menerima keterbatasan, menghargai proses, serta memahami arti ketekunan dan kesabaran sejak usia dini.

Pendidikan formal pertama yang saya tempuh adalah di Taman Kanak-kanak ABA Karangmojo V. Di lembaga pendidikan inilah saya mulai mengenal dunia belajar secara terstruktur. Salah satu sosok yang sangat berpengaruh dalam masa awal pendidikan saya adalah Ibu Sijem, seorang guru yang dikenal luas di wilayah Karangmojo sebagai pendidik yang tegas, sabar, dan penuh dedikasi. Melalui bimbingan beliau, saya tidak hanya belajar membaca dan menulis dasar, tetapi juga belajar disiplin, menghormati guru, serta mencintai proses belajar. Pengalaman di taman kanak-kanak ini menjadi fondasi awal yang sangat penting dalam perjalanan pendidikan saya.

Setelah menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak, saya melanjutkan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Sumberjo. Saya menempuh pendidikan di sekolah ini sejak kelas satu hingga kelas enam. Lingkungan sekolah yang religius dan menekankan pembentukan karakter memberikan pengaruh besar dalam perkembangan kepribadian saya. Pada masa sekolah dasar, saya mulai menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan membaca dan pelajaran bahasa. Meski fasilitas pendidikan di desa sangat terbatas, semangat belajar tetap tumbuh karena dorongan dari guru dan keluarga. Enam tahun di SD Muhammadiyah Sumberjo mengajarkan saya arti ketekunan, kedisiplinan, serta pentingnya dasar ilmu pengetahuan sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Setelah lulus dari sekolah dasar, saya melanjutkan pendidikan ke MTsN Karangmojo. Saya terdaftar sebagai siswa kelas 1C. Namun, masa pendidikan saya di tingkat menengah pertama tidak hanya saya habiskan di bangku sekolah formal. Pada saat yang sama, saya juga belajar di Pondok Pesantren Al Hikmah. Selama kurang lebih tiga tahun, saya menjalani dua jalur pendidikan secara bersamaan, yaitu pendidikan formal di MTsN Karangmojo dan pendidikan kepesantrenan di PP Al Hikmah.

Masa ini merupakan salah satu fase paling menentukan dalam hidup saya. Di pesantren, saya belajar hidup disiplin, mandiri, dan sederhana. Jadwal harian yang padat, dimulai sejak sebelum fajar hingga malam hari, melatih saya untuk mengatur waktu dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Saya tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga belajar tentang kebersamaan, kesabaran, dan ketahanan mental. Menjalani pendidikan ganda selama tiga tahun bukanlah hal yang mudah, namun pengalaman tersebut membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan kehidupan.

Setelah menyelesaikan pendidikan di MTsN Karangmojo dan Pondok Pesantren Al Hikmah, saya mengambil keputusan besar dalam hidup saya, yaitu melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Saya diterima sebagai santri di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Namun, saya tidak langsung masuk ke jenjang Aliyah. Sebagaimana ketentuan di pesantren tersebut, saya terlebih dahulu mengikuti kelas persiapan Aliyah yang dikenal sebagai kelas Eksperimen.

Masa satu tahun di kelas persiapan ini menjadi periode adaptasi yang tidak mudah. Saya harus menyesuaikan diri dengan sistem pendidikan yang lebih ketat, lingkungan yang lebih heterogen, serta kehidupan pesantren di tengah kota metropolitan. Namun, masa ini justru menjadi proses pembentukan mental dan intelektual yang sangat berarti. Setelah menyelesaikan kelas persiapan, saya melanjutkan pendidikan Aliyah di Pondok Pesantren Darunnajah hingga lulus.

Pendidikan di Darunnajah memberikan saya wawasan yang lebih luas, baik dalam bidang keilmuan maupun dalam memahami dinamika sosial masyarakat. Hidup di Jakarta membuka cakrawala berpikir saya, mempertemukan saya dengan berbagai latar belakang budaya dan pemikiran. Pengalaman ini memperkaya cara pandang saya terhadap kehidupan dan memperkuat tekad saya untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan.

Setelah menyelesaikan pendidikan Aliyah, saya memutuskan untuk tetap tinggal dan mengabdikan diri di Pondok Pesantren Darunnajah. Keputusan ini saya ambil sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual terhadap lembaga yang telah membesarkan saya. Pada empat tahun pertama masa pengabdian, saya menjalani berbagai peran. Saya aktif mengajar santri, terlibat dalam kegiatan kependidikan, serta membantu pekerjaan administratif di salah satu kantor di lingkungan pesantren.

Di tengah kesibukan tersebut, saya juga melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam Darunnajah (STAIDA). Perkuliahan saya tempuh pada malam hari, setelah seharian mengajar dan bekerja. Menjalani tiga peran sekaligus sebagai pengajar, staf, dan mahasiswa—bukanlah perkara mudah. Namun, pengalaman ini mengajarkan saya tentang manajemen waktu, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pendidikan. Saya menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) dengan penuh perjuangan dan kesungguhan.

Setelah lulus dari jenjang sarjana, perjalanan akademik saya sempat terhenti cukup lama. Selama lebih dari sepuluh tahun, saya memfokuskan diri pada pengabdian di Pondok Pesantren Darunnajah. Pada masa inilah minat saya terhadap dunia literasi semakin berkembang. Saya mulai menulis secara lebih serius, khususnya karya-karya fiksi. Ide-ide cerita yang saya tulis banyak terinspirasi dari peristiwa nyata, pengalaman pribadi, serta kisah-kisah kehidupan orang-orang di sekitar saya.

Bagi saya, menulis bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan juga sarana perenungan dan refleksi. Melalui tulisan, saya berusaha merekam pengalaman hidup, menyuarakan kegelisahan, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan. Gaya menulis yang saya gunakan cenderung sederhana dan lugas, dengan penekanan pada emosi dan kedalaman makna. Tema-tema seperti keluarga, cinta, pengorbanan, pendidikan, dan kehidupan pesantren menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari karya-karya saya.

Setelah lebih dari satu dekade menyelesaikan pendidikan S1, saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister (S2). Saya melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Keputusan ini saya ambil sebagai bentuk komitmen untuk terus belajar dan mengembangkan kapasitas diri, seiring dengan tanggung jawab saya sebagai pendidik dan pegiat literasi.

Hingga saat ini, saya masih aktif mengabdikan diri di Pondok Pesantren Darunnajah, sekaligus terus berkarya di dunia literasi. Perjalanan hidup saya, dari desa kecil di Gunungkidul, pendidikan pesantren, hingga kiprah di dunia pendidikan dan kepenulisan, adalah perjalanan panjang yang penuh proses. Saya meyakini bahwa hidup adalah rangkaian pembelajaran tanpa akhir, dan menulis adalah salah satu cara saya untuk merawat ingatan, nilai, dan harapan, baik untuk diri saya sendiri maupun untuk generasi yang akan datang.

 


Komentar