Oleh: Idi Darusman
Tahun 2025 telah saya lalui dengan beragam peristiwa.
Di dunia literasi, saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk menerbitkan
beberapa buku, baik novel fiksi maupun buku-buku bernuansa agama. Bagi seorang
yang tumbuh dan bertahan di dunia tulis-menulis, melihat karya lahir menjadi
buku fisik adalah kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia bukan
sekadar tumpukan kertas, melainkan potongan hidup, waktu, doa, dan harapan yang
disatukan.
Namun di balik rasa syukur itu, saya juga harus jujur
mengakui bahwa tahun 2025 tidak hanya berisi keberhasilan. Ada banyak kesalahan
yang saya perbuat, baik yang saya sadari maupun yang mungkin baru terasa
dampaknya bagi orang lain. Kesalahan dalam bersikap, dalam berbicara, dalam
mengatur waktu, dan dalam menjaga hati. Kadang saya terlalu sibuk mengejar
target, hingga lupa bahwa di sekitar saya ada manusia-manusia yang juga
membutuhkan perhatian, penghargaan, dan kehadiran.
Saya menulis novel fiksi, tetapi ide-idenya sering
kali lahir dari peristiwa nyata: kisah teman kantor, cerita istri, pengalaman
peserta didik, dan perjalanan para santri. Dari sana saya belajar bahwa setiap
manusia membawa cerita yang tidak sederhana. Ketika kisah-kisah itu saya olah
menjadi fiksi, saya menyadari satu hal penting: menulis adalah amanah. Ia
menuntut kejujuran, empati, dan tanggung jawab moral.
Menjadi penulis memberi saya banyak pelajaran hidup.
Menulis melatih saya untuk lebih peka terhadap sekitar, lebih sabar dalam
proses, dan lebih jujur terhadap diri sendiri. Sebuah tulisan yang lahir dari
niat yang keliru akan mudah kehilangan ruhnya. Sebaliknya, tulisan yang lahir
dari keikhlasan, meski sederhana, sering kali menemukan jalannya sendiri menuju
hati pembaca.
Namun saya juga belajar bahwa menjadi penulis saja
tidak cukup. Ada hal yang jauh lebih penting, yakni berusaha menjadi manusia
yang baik. Menjadi manusia baik tidak selalu berarti melakukan hal besar. Ia
sering hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: menepati janji, meminta maaf
tanpa alasan, mendengarkan tanpa menyela, dan tidak merasa paling benar.
Di tahun 2025, saya belum sepenuhnya berhasil
menjalani semua itu. Ada saat-saat saya lebih sibuk membela diri daripada
memperbaiki diri. Ada waktu ketika ego berbicara lebih keras daripada nurani.
Kesalahan-kesalahan itu tidak bisa dihapus, tetapi bisa dijadikan pelajaran
jika saya benar-benar mau belajar.
Saya juga merasakan bahwa kebahagiaan sejati tidak
selalu datang dari pencapaian pribadi. Ia justru sering muncul ketika kita bisa
bermanfaat bagi orang lain. Ketika sebuah tulisan menguatkan pembaca, ketika
sebuah buku menemani seseorang di masa sulit, atau ketika sebuah kalimat
sederhana mampu menenangkan hati, di situlah makna menulis terasa lebih dalam.
Menjadi orang yang bermanfaat mengajarkan saya untuk
tidak meremehkan peran kecil. Tidak semua kontribusi harus terlihat besar.
Kadang cukup dengan hadir, mendengar, dan memahami, kita sudah menjadi berarti
bagi orang lain. Dunia ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering
kekurangan orang yang tulus.
Kini, di awal tahun 2026, saya tidak ingin sekadar
menuliskan resolusi yang indah di atas kertas. Saya ingin belajar dari tahun
sebelumnya, dari keberhasilan yang hampir membuat lupa diri, dan dari kesalahan
yang menampar kesadaran. Saya ingin menjadikan tahun ini sebagai ruang belajar
yang lebih jujur dan lebih rendah hati.
Saya berharap bisa menjadi manusia yang lebih
bermanfaat, bukan hanya melalui tulisan, tetapi juga melalui sikap dan tindakan
sehari-hari. Saya ingin lebih mampu memanfaatkan kesempatan kecil yang Allah
titipkan, tidak menundanya dengan alasan, dan tidak menyia-nyiakannya dengan
kelalaian.
Saya juga berharap bisa lebih banyak berkarya, bukan
demi pengakuan, tetapi sebagai ikhtiar meninggalkan warisan yang baik. Jika
suatu hari nanti nama saya dilupakan, semoga karya-karya yang pernah saya tulis
masih bisa hidup dan memberi makna bagi orang lain.
Yang tak kalah penting, saya ingin belajar lebih
ikhlas dalam menerima takdir Allah. Tidak semua rencana akan berjalan sesuai
keinginan, dan tidak semua doa akan dijawab dengan cara yang kita pahami. Namun
saya percaya, setiap ketetapan-Nya selalu membawa hikmah, meski kadang harus
diterima dengan air mata.
Tahun 2026 bagi saya adalah kesempatan baru untuk
memperbaiki niat, memperbaiki langkah, dan memperbaiki hubungan—dengan Allah,
dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Saya tidak berharap menjadi sempurna,
karena kesempurnaan bukan milik manusia. Saya hanya berharap bisa menjadi versi
diri yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih berguna.
Tulisan ini bukan penutup, melainkan awal. Awal dari
ikhtiar panjang untuk terus belajar, terus memperbaiki, dan terus berjalan,
meski pelan. Semoga setiap langkah kecil yang saya tempuh di tahun ini bernilai
ibadah, dan setiap kata yang saya tulis membawa kebaikan.
Memasuki tahun 2026, saya ingin berjalan dengan
kesadaran yang lebih utuh. Bukan lagi dengan semangat yang meledak-ledak di
awal lalu perlahan padam di tengah jalan, tetapi dengan langkah yang tenang dan
konsisten. Saya belajar bahwa perubahan sejati tidak selalu tampak cepat, namun
ia terasa dalam jika dijalani dengan kesungguhan.
Saya ingin belajar lebih banyak dari apa pun yang
Allah hadirkan di tahun ini. Dari keberhasilan yang mungkin kembali saya raih,
saya ingin belajar untuk tetap rendah hati. Dari kegagalan yang mungkin datang,
saya ingin belajar untuk tidak putus asa. Dari kritik, saya ingin belajar untuk
mendengar. Dari pujian, saya ingin belajar untuk tidak terlena.
Sebagai penulis, saya berharap bisa lebih bertanggung
jawab pada setiap karya yang saya lahirkan. Saya ingin menulis dengan niat yang
lebih bersih, dengan empati yang lebih dalam, dan dengan kejujuran yang lebih
berani. Saya ingin setiap cerita yang saya tulis tidak hanya selesai dibaca,
tetapi juga tinggal di hati, meski dalam bentuk yang sangat sederhana.
Saya juga ingin lebih bijak dalam memanfaatkan
kesempatan. Saya sadar bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan
sering kali ia hadir dalam bentuk yang kecil dan tidak mencolok. Tahun 2026
saya ingin belajar untuk lebih peka, tidak menunda, dan tidak meremehkan
peluang yang Allah titipkan, sekecil apa pun itu.
Harapan saya sederhana namun mendalam: semoga saya
bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Tidak harus dikenal luas, tidak
harus dipuji banyak orang. Cukup jika kehadiran saya tidak menyusahkan, cukup
jika karya saya bisa menguatkan, dan cukup jika hidup saya memberi arti bagi
sebagian orang.
Saya ingin terus berkarya, bukan karena ambisi,
tetapi karena kesadaran bahwa waktu terus berjalan. Setiap buku yang lahir
adalah jejak, setiap tulisan adalah saksi, dan setiap kata adalah doa yang
diam-diam saya titipkan pada masa depan. Jika kelak usia tidak lagi
memungkinkan saya banyak bergerak, semoga karya-karya itulah yang masih
berjalan.
Dalam perjalanan ini, saya juga ingin belajar lebih
ikhlas menerima takdir Allah. Ada hal-hal yang tidak bisa saya ubah, sekeras
apa pun usaha yang saya lakukan. Ada jalan yang harus ditempuh dengan sabar,
ada pintu yang tetap tertutup meski sudah lama diketuk. Saya ingin belajar
untuk percaya bahwa apa pun yang Allah tetapkan selalu lebih baik, meski sering
kali baru bisa dipahami setelah waktu berlalu.
Saya ingin memperbaiki hubungan—dengan Allah, dengan
keluarga, dengan sahabat, dengan rekan, dan dengan diri sendiri. Saya ingin
lebih jujur pada kelemahan, lebih berani meminta maaf, dan lebih
sungguh-sungguh dalam memperbaiki kesalahan. Saya tidak ingin kesalahan yang
sama terus berulang hanya karena saya enggan belajar.
Tahun 2026 saya tidak menuntut diri untuk menjadi
sempurna. Saya hanya berharap bisa menjadi lebih baik dari hari ke hari. Jika
hari ini masih banyak kekurangan, semoga esok ada perbaikan. Jika hari ini
masih sering lupa, semoga esok lebih ingat. Jika hari ini masih berat
melangkah, semoga esok Allah ringankan.
Tulisan ini saya akhiri dengan sebuah doa yang
sederhana. Semoga setiap langkah yang saya tempuh di tahun ini bernilai ibadah.
Semoga setiap kata yang saya tulis membawa kebaikan. Dan semoga hidup yang saya
jalani, dengan segala keterbatasannya, tetap berada dalam ridha Allah.
Inilah harapan saya di awal tahun 2026. Harapan yang
tidak muluk, tetapi jujur. Harapan yang tidak sempurna, tetapi sungguh-sungguh.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai,
melainkan siapa yang terus berjalan dan tidak berhenti memperbaiki diri.

Komentar
Posting Komentar