Semoga Allah Mengampuni Kekhilafannya

 

Ilustrasi gambar oleh AI



Oleh : Idi Darusman

 

Langit siang itu cerah. Matahari menggantung tepat di atas kepala, membuat aspal jalanan berkilau seperti cermin panas. Ahmad melaju perlahan dengan sepeda motor, helm terpasang rapi, kaca helm kubuka sedikit agar udara segar masuk. Jalanan di perempatan Seskoal cukup padat. Klakson bersahut-sahutan, suara mesin bercampur dengan teriakan pedagang kaki lima yang menawarkan dagangannya.

Ahmad tak menyangka, di tengah hiruk pikuk itu, sebuah peristiwa kecil justru meninggalkan bekas yang besar di hatinya.

Di depannya, sebuah motor Supra merah berhenti tepat di sisi kanan. Pengendaranya seorang pria paruh baya. Tangannya memegang rokok yang menyala. Ia tampak santai, seolah lupa bahwa asap dan abu rokoknya bisa menjadi masalah bagi orang lain.

Lampu merah menyala. Angin sepoi-sepoi tiba-tiba berembus. Ahmad masih membuka kaca helm. Detik berikutnya, sesuatu terasa masuk ke mataku.

“Ah!” refleks Ahmad memejamkan mata.

Perih. Panas. Seperti ada pasir kecil yang menempel di bola mata. Ahmad langsung menepi dan menghentikan motor. Dengan tangan gemetar, aku mengucek-ngucek mata sambil menahan rasa tidak nyaman. Ahmad menunduk, mencoba membilas mata dengan air dari tumbler merah yang selalu dibawanya, namun ternya botol itu sudah kosong.

Dan barulah Ahmad sadari, itu abu rokok.

Hati Ahmad mendidih sejenak. Ingin rasanya menegur pengendara motor merah itu. Namun saat Ahmad menoleh, lampu sudah berubah hijau. Motor itu melaju pergi, meninggalkan Ahmad yang masih berkutat dengan mata yang memerah.

Ahmad menarik napas panjang.

“Ya Allah,” gumamnya lirih, “semoga Engkau mengampuni kekhilafannya.”

Ahmad mencoba menenangkan diri. Dalam hati, Ahmad sadar, marah hanya akan menambah beban. Ahmad memilih mengubah kejadian itu menjadi pelajaran. Ahmad berhenti di pinggir jalan, membeli sebotol air mineral dari pedagang asongan yang berdiri di bawah terik matahari.

Pedagang itu tersenyum lebar. “Makasih, Pak.”

Ahmad tersenyum balik. Dalam hati aku berkata, mungkin inilah rencana Allah. Dari peristiwa yang tidak menyenangkan, lahir kebaikan kecil: membantu seorang pedagang mencari rezeki.

Sejak hari itu, kejadian tersebut sering terlintas di pikiranku. Ahmad bahkan pernah menuliskannya di media sosial, bukan untuk mencaci, tapi sebagai pengingat agar kita lebih bijak dalam bertindak.

Ahmad kira kisah itu akan berhenti di sana.

Namun ternyata tidak.

Dua tahun berlalu. Hari itu tanggal 7 November 2019. Pagi terasa agak mendung, tapi jalanan tetap ramai. Aku berangkat lebih awal untuk menyelesaikan beberapa urusan. Seperti biasa, aku berkendara dengan tenang, menjaga jarak, dan berusaha taat aturan.

Di sebuah lampu merah, aku kembali berhenti.

Dan di situlah takdir mengulang kisahnya.

Sebuah motor Yamaha merah berhenti tepat di depan. Pengendaranya seorang remaja, mengenakan seragam putih abu-abu. Tangannya memegang rokok, asap mengepul perlahan. Ia terlihat santai, seolah dunia miliknya sendiri.

Ahmad menatap punggungnya. Hati kecilku mulai gelisah.

“Semoga tidak terulang,” bisikku.

Namun angin seperti sengaja menguji kesabaranku. Abu rokok itu beterbangan. Beberapa serpih kecil masuk ke mataku.

Refleks aku mengerem mendadak dan menepi.

Kali ini perihnya lebih terasa. Ahmad menutup mata, mengucek perlahan, mencoba mengeluarkan abu yang menyusup. Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli. Ahmad berdiri sendiri di pinggir jalan, memegang helm, menahan rasa perih sekaligus kecewa.

Dalam benaknya muncul satu pertanyaan:

“Apakah para perokok yang berkendara itu pernah merasakan bagaimana rasanya mata kemasukan abu rokok?”

Ahmad tak membenci mereka. Tapi Ahmad ingin mereka mengerti. Bahwa kebebasan seseorang berakhir ketika mulai merugikan orang lain.

Ahmad duduk sebentar di atas motor. Menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba menenangkan diri.

Alhamdulillah, Ahmad masih bersyukur. Yang masuk hanya abu, bukan bara api. Jika bara itu masuk ke mata, entah apa yang terjadi. Bisa jadi Ahmad kehilangan penglihatan. Bisa jadi hidupnya berubah selamanya.

Ahmad menengadah ke langit yang mulai cerah.

“Terima kasih, ya Allah. Engkau masih melindungiku.” Bisik Ahmad dalam hati.

Setelah matanya membaik, Ahmad melanjutkan perjalanan. Namun hatinya membawa beban pikiran. Ahmad teringat anak-anak di rumah. Ahmad teringat betapa banyak orang yang menjadi korban dari sikap ceroboh di jalan: bukan hanya kecelakaan, tapi juga hal kecil seperti ini, yang sering dianggap sepele.

Dalam perjalanan pulang, Ahmad merenung.

Banyak orang menganggap merokok di atas motor adalah hal biasa. “Cuma sebentar,” kata mereka. “Tidak apa-apa,” pikir mereka. Padahal, abu yang beterbangan bisa masuk ke mata pengendara lain. Asapnya bisa mengganggu pernapasan. Bahkan bara api bisa memicu kebakaran kecil jika jatuh ke pakaian atau jok motor.

Ahmad membayangkan, bagaimana jika yang terkena abu itu seorang ibu yang membonceng anaknya? Bagaimana jika anak kecil yang matanya sensitif? Bagaimana jika pengendara itu kehilangan fokus dan jatuh karena matanya perih?

Dari situlah Ahmad sadar, kebaikan tidak selalu tentang memberi uang atau bantuan besar. Kadang, kebaikan adalah menahan diri.

Menahan diri untuk tidak merokok saat berkendara. Menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Menahan diri untuk tidak melukai orang lain, meski tanpa sengaja.

Beberapa hari kemudian, Ahmad menceritakan kejadian itu kepada seorang teman. Ia tertawa kecil, lalu berkata, “Sabar sekali kamu. Kalau aku, mungkin sudah kumarahi.”

Ahmad tersenyum.

“Saya juga ingin marah,” jawab Ahmad jujur. “Tapi saya takut doa orang yang terzalimi itu dikabulkan. Lebih baik saya doakan kebaikan. Semoga mereka sadar.”

Temannya terdiam. Ia menunduk.

Sejak saat itu, Ahmad mulai lebih aktif mengingatkan orang-orang di sekitarnya, dengan cara yang lembut. Jika ada teman yang merokok sambil berkendara, Ahmad menegurnya pelan, “Kalau mau merokok, berhenti dulu ya. Kasihan pengendara lain.”

Sebagian tersenyum dan mengangguk. Sebagian terlihat malu. Dan sebagian lagi mungkin tak peduli. Tapi aku percaya, satu nasihat kecil bisa menjadi benih perubahan.

Suatu sore, aku melihat seorang remaja berhenti di pinggir jalan, mematikan mesin motornya, lalu merokok sambil berdiri di trotoar. Aku tidak tahu siapa dia. Tapi pemandangan itu membuat hatiku hangat.

“Mungkin cerita-cerita kecil seperti ini sudah sampai ke telinga mereka,” pikirnya.

Ia pun kembali mengingat dua peristiwa itu.

Tentang Supra merah di perempatan. Tentang Yamaha merah di pagi mendung. Dua kejadian yang menyakitkan mata, tapi membuka mata hati.

Kini Ahmad mengerti, Allah kadang memberi kita ujian kecil untuk menumbuhkan kepedulian besar. Dari rasa perih di mata, lahir empati. Dari kejadian sepele, tumbuh kesadaran.

Dan Ahmad pun selalu mengulang doa yang sama, setiap kali mengingat mereka:

“Ya Allah, semoga Engkau mengampuni kekhilafannya. Dan semoga Engkau membimbing kami semua agar lebih bijak dalam bertindak.”

Karena pada akhirnya, jalan raya bukan hanya tempat berlalu lintas kendaraan, tapi juga tempat kita belajar tentang adab, kesabaran, dan tanggung jawab.

Jika setiap orang mau sedikit lebih peduli, sedikit lebih menahan diri, maka jalanan akan menjadi tempat yang lebih aman, lebih manusiawi, dan lebih penuh berkah.

Dan semoga, dari cerita sederhana ini, lahir kesadaran baru, bahwa kebaikan bisa dimulai dari hal yang paling kecil, bahkan dari sebatang rokok yang seharusnya dihisap dengan bijak, di tempat yang tepat, tanpa melukai siapa pun.

 

Komentar