Terlambat Bilang


Oleh : Idi Darusman

 

Nara selalu percaya bahwa hidupnya adalah hasil dari doa panjang kedua orang tuanya. Sejak kecil, ia tidak pernah merasa berjalan sendirian. Di setiap langkah, ada tangan ayah yang menuntun dan ada suara ibu yang menguatkan. Rumah mereka sederhana di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk kota, tapi penuh kehangatan.

Ayahnya seorang guru sekolah dasar, pegawai negeri dengan gaji yang tidak cukup untuk disebut besar. Namun, di mata Nara kecil, ayah adalah sosok paling kaya di dunia. Kaya kesabaran, kaya ketulusan, dan kaya pengorbanan yang waktu itu belum benar-benar ia pahami.

Setiap pagi ayah berangkat dengan sepeda motor tuanya. Kadang hujan, kadang panas, tapi ayah selalu tersenyum ketika pulang. Nara pernah mendengar ayah dan ibu menghitung uang , menyisihkan lembar demi lembar rupiah ke dalam amplop kecil.

“Buat sekolah Nara nanti,” kata ayah sambil tersenyum.

Dan benar saja, ketika Nara lulus MTs, ayah mengirimnya ke sebuah pesantren ternama di Jakarta. Bagi keluarga mereka, itu keputusan besar. Jaraknya jauh, biayanya tidak sedikit, dan kehidupan di sana tentu berbeda dari kampung halaman.

“Ayah ingin kamu punya masa depan yang lebih baik,” ujar ayah saat memberikan nasehat sebelum berangkat ke Jakarta.

Hari itu Nara melihat mata ayah berkaca-kaca ketika melepasnya. Tapi ayah tetap tersenyum, menyembunyikan haru di balik ketegaran.

Di pesantren, Nara tumbuh menjadi pribadi yang disiplin. Ia belajar agama, ilmu pengetahuan, dan hidup mandiri. Selama sekian tahun ayah beberapa kali datang menjenguk, membawa makanan sederhana dan cerita kampung yang selalu membuatnya rindu rumah.

“Ayah sehat, Nak. Jangan khawatir. Fokus belajar saja,” kata ayah setiap kali melihat Nara mulai khawatir dengan kondisi keuangan keluarga.

Nara tidak tahu, kadang ayah harus menunda membeli kebutuhan pribadi demi membayar biaya pesantrennya. Ia baru memahami semua itu setelah dewasa.

Tahun demi tahun berlalu. Setelah lulus, Nara tidak memilih jalan lain. Ia kembali ke pesantren almamaternya untuk mengabdi. Ia merasa tempat itu telah membentuk dirinya, dan sudah seharusnya ia membalas kebaikan dengan dedikasi.

Hidupnya berjalan cepat. Ia menikah dengan seorang perempuan yang juga alumni pesantren. Mereka membangun keluarga sederhana dengan nilai-nilai yang sama. Karier Nara pun meningkat. Ia dipercaya memegang berbagai tanggung jawab hingga akhirnya menjadi wakil direktur di salah satu departemen di bawah pesantren.

Kesibukan datang seperti gelombang yang tidak pernah berhenti.

Rapat, kegiatan, seminar, tamu dari luar kota, bahkan luar negeri. Hari-harinya penuh jadwal. Ponselnya tak pernah benar-benar diam. Setiap orang membutuhkan keputusan darinya.

Dan tanpa ia sadari, jarak dengan rumah semakin lebar.

Dalam setahun, ia paling banyak pulang dua kali. Itu pun sering terasa terburu-buru. Datang, bersalaman, makan bersama, lalu kembali lagi karena pekerjaan menunggu.

Setiap kali pulang, ayah selalu terlihat lebih tua.

“Capek ya, kerja di sana?” tanya ayah sambil menepuk bahunya.

“Iya, Yah. Banyak amanah,” jawab Nara singkat.

Ayah tersenyum bangga. Senyum itu membuat Nara merasa semuanya baik-baik saja.

Kadang ayah menelepon malam-malam.

“Nara lagi sibuk, Yah. Besok saja ya kita ngobrol panjang,” katanya.

Dan ayah selalu menjawab lembut, “Tidak apa-apa, Nak. Jaga kesehatan.”

Nara tidak pernah berpikir bahwa suatu hari ia akan merindukan suara sederhana itu.

Sampai pada sore yang membuat segalanya berubah.

Telepon dari adiknya, Nurhayati, datang tiba-tiba. Suaranya terdengar panik.

“Mas… Ayah masuk rumah sakit.”

Nara terdiam.

“Sakit apa?”

“Dokter bilang kondisinya menurun. Mas… pulang ya.”

Tanpa banyak pertanyaan, Nara langsung persisapan pulang. Ia memilih membawa mobil pribadi agar bisa segera berangkat saat itu juga.

Perjalanan hampir sepuluh jam terasa begitu panjang. Jalanan seperti menyimpan ribuan pikiran di kepalanya. Ia memutar ulang kenangan lama: ayah yang selalu mengantarnya ke terminal, ayah yang diam-diam menyelipkan uang saku tambahan, ayah yang jarang mengeluh meski tubuhnya makin tua.

Kenapa aku jarang pulang? Kenapa selalu bilang sibuk?

Setiap pertanyaan itu menusuk dadanya.

Saat akhirnya tiba di rumah sakit, aroma obat-obatan langsung menyergap. Ia berlari kecil menuju ruang perawatan.

Di sana, ayah terbaring lemah.

Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah dari yang Nara ingat. Selang infus terpasang, dan napasnya terdengar berat.

Nara mendekat, menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah… ini Nara.”

Mata ayah terbuka perlahan. Ada sorot hangat yang masih sama, tapi sudah tidak sekuat dulu. Bibirnya bergerak pelan, namun suara tidak jelas keluar.

Air mata Nara hampir jatuh.

Hari-hari berikutnya ia habiskan di rumah sakit. Ia duduk di samping ayah, membacakan doa, bercerita tentang pesantren, tentang perjalanan selama ini. Kadang ia berharap ayah bisa menjawab, tapi yang ada hanya anggukan kecil atau kedipan mata.

Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.

Terima kasih, Yah… Maaf karena Nara jarang pulang… Semua ini karena perjuangan Ayah…

Namun setiap kali hendak mengucapkannya, ia menahan diri.

Nanti saja… ketika ayah sudah lebih kuat.

Lima hari berlalu. Kondisi ayah naik turun. Keluarga bergantian menjaga. Malam itu, setelah merasa sedikit tenang karena ayah tampak tidur nyenyak, Nara memutuskan pulang sebentar ke rumah untuk mandi dan beristirahat.

“Mas istirahat saja. Malam ini aku yang jaga,” kata Nurhayati.

Nara mengangguk. Ia menatap ayahnya lama sebelum pergi. Dalam hati, ia berjanji besok akan bicara lebih banyak.

Malam di rumah terasa sunyi. Jam dinding berdetak pelan. Meski lelah, matanya sulit terpejam. Ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia mencoba memejamkan mata.

Dan tepat pukul satu dini hari, ponselnya berdering.

Nama Nurhayati muncul di layar.

Dadanya tiba-tiba berdebar.

Ia mengangkat telepon dengan tangan gemetar.

“Mas…” suara Nurhayati terdengar pecah. “Ayah… Ayah tidak bernapas.”

Kalimat itu membuat dunia seolah berhenti.

Kalimat dari Nurhayati masih menggantung di telinga Nara.

“Mas… Ayah tidak bernapas.”

Beberapa detik ia tidak bisa bergerak. Dunia terasa sunyi, seakan suara lain lenyap begitu saja. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup cepat hingga ia hampir lupa bagaimana caranya berdiri.

“Apa… maksudnya bagaimana?” suaranya serak, nyaris tidak terdengar.

“Cepat ke rumah sakit, Mas…,” suara Nurhayati pecah oleh tangis.

Ponsel itu terlepas hampir saja jatuh dari tangannya. Nara berlari keluar rumah tanpa sempat mengambil jaket. Udara malam terasa dingin menusuk, tapi ia bahkan tidak merasakannya. Jalan menuju rumah sakit yang tadi terasa biasa kini terasa seperti lorong panjang tanpa ujung.

Sepanjang perjalanan, ia terus berdoa dalam hati.

Ya Allah… jangan dulu… beri aku waktu sedikit saja…

Lampu jalan berkelebat di kaca mobil. Tangannya mencengkeram kemudi kuat-kuat. Ada rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, takut kehilangan, takut terlambat.

Namun jauh di dalam hatinya, ia seolah sudah tahu jawabannya.

Ketika tiba di rumah sakit, lorong terasa lebih sunyi dari biasanya. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju ruang perawatan. Di depan pintu, ia melihat Nurhayati berdiri sambil menangis, ditemani anaknya yang masih tampak bingung.

Tatapan adiknya langsung menjawab semuanya.

Nara masuk pelan.

Ayahnya terbaring diam. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi napas berat, tidak ada lagi usaha untuk berbicara. Semua telah berhenti.

Nara mendekat perlahan. Tangannya gemetar saat menyentuh kening ayahnya yang mulai dingin. Sejenak ia berharap ada reaksi kecil, satu tarikan napas lagi, satu gerakan tangan lagi.

Tidak ada.

Lututnya melemah. Ia duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya erat, seolah tidak ingin melepaskan.

“Ayah… Nara datang,” bisiknya lirih.

Tapi tidak ada jawaban.

Tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah. Ia menunduk, bahunya bergetar. Dalam diam itu, semua kenangan datang bersamaan seperti banjir yang tak bisa dibendung.

Ayah yang bangun lebih pagi dari siapa pun di rumah. Ayah yang rela makan seadanya agar anak-anaknya cukup. Ayah yang diam-diam bangga setiap mendengar cerita keberhasilan Nara.

Dan dirinya… yang selalu bilang sibuk.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Penyesalan datang seperti gelombang besar. Ia baru menyadari betapa banyak kesempatan yang telah ia lewati.

Ia ada di rumah malam itu… tapi tidak di sisi ayah pada detik terakhir.

Perasaan itu menghantam lebih keras dari apa pun.

Beberapa saat kemudian, tubuh ayah dipersiapkan untuk dibawa pulang. Nara membantu sebisanya, meski tangannya masih gemetar. Sesekali ia menatap wajah ayah, berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Di rumah duka, suasana dipenuhi doa dan suara pelan orang-orang yang datang melayat. Tetangga, teman lama ayah, dan murid-muridnya berdatangan. Semua berbicara tentang kebaikan ayahnya.

“Beliau orang sabar.”

“Guru yang tidak pernah marah.”

“Selalu membantu tanpa pamrih.”

Setiap pujian itu terasa seperti pisau halus yang mengiris hati Nara. Ia bangga, sekaligus merasa kecil.

Ia duduk di dekat jenazah ayah. Sesekali membaca Al-Qur’an, sesekali hanya menatap diam. Ia ingin berbicara banyak, tapi semuanya terlambat.

Pagi harinya, pemakaman berlangsung sederhana. Langit mendung seolah ikut berduka. Tanah merah perlahan menutupi liang lahat. Nara ikut menaburkan tanah dengan tangan gemetar.

Ketika tanah terakhir jatuh, hatinya terasa kosong.

Seperti ada bagian dalam dirinya yang ikut terkubur.

Orang-orang perlahan pulang. Hanya keluarga inti yang masih bertahan. Nara berdiri di depan pusara lebih lama dari yang lain. Angin pelan berhembus, membawa keheningan yang berat.

Ia menatap nisan sederhana itu lama sekali.

“Ayah…,” suaranya nyaris tidak terdengar. “Maaf… Nara sering terlambat pulang.”

Air matanya jatuh lagi.

Ia teringat semua percakapan singkat di telepon. Semua pesan yang ia balas seperlunya. Semua rencana yang ia tunda dengan kata nanti.

Nanti ketika pekerjaan selesai. Nanti ketika waktu longgar. Nanti ketika semuanya lebih tenang.

Ternyata, tidak semua hal punya kata nanti.

Malam setelah pemakaman, rumah terasa berbeda. Tidak ada suara ayah memanggil, tidak ada batuk kecil di ruang tengah, tidak ada sandal tua yang biasa tergeletak di depan pintu.

Nara duduk mengingat masa kecilnya. Atap masih sama, jam dinding masih tergantung rapi. Ia melihat foto ayahnya.

Ayah tersenyum lebar di foto itu.

Tangis Nara pecah lagi.

“Ayah…,” bisiknya, “Nara belum pernah bilang terima kasih.”

Kalimat itu keluar begitu saja, membuat dadanya semakin sesak.

Ia belum pernah benar-benar mengatakan betapa besar jasa ayahnya. Belum pernah duduk lama hanya untuk mendengar cerita hidup ayah. Belum pernah membuat ayah merasa cukup dihargai.

Ia sibuk menjadi orang penting bagi banyak orang, tapi lupa menjadi anak yang hadir untuk ayahnya sendiri.

Malam semakin larut. Di luar, suara jangkrik terdengar samar. Nara memejamkan mata, mencoba mengingat suara ayahnya sekali lagi.

“Nak, kerja yang baik. Jangan lupa pulang.”

Kalimat itu kini terasa seperti luka yang hangat sekaligus menyakitkan.

Di dalam hati, ia berjanji akan lebih menyayangi ibunya, lebih menghargai waktu, dan tidak lagi menunda kata-kata penting kepada orang-orang yang dicintai.

Namun satu hal tidak bisa ia ubah.

Ia tidak akan pernah lagi punya kesempatan berkata langsung pada ayahnya.

Waktu telah mengambil kesempatan itu.

Dan kini, di antara sunyi malam dan tangis yang mulai mereda, Nara akhirnya memahami arti kehilangan yang sesungguhnya, bukan hanya tentang perpisahan, tetapi tentang kata-kata yang tidak sempat terucap.

Ia menatap langit melalui jendela kecil kamar itu.

“Ayah… terima kasih,” bisiknya pelan.

Kata-kata itu akhirnya keluar.

Namun hanya bisa berakhir di udara, tanpa balasan, tanpa senyum ayah yang biasa menenangkannya.

Dan sejak malam itu, Nara hidup dengan satu pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan, bahwa terkadang, penyesalan terbesar dalam hidup bukan karena kita tidak mencintai, tetapi karena kita terlambat bilang , “Terima kasih, Ayah”.

 

Jakartas, 18 Desember 2026. Menjelang Ramadhan 1447 H

 

Komentar