Hari Rabu sore selalu menjadi hari penuh perjuangan bagi Pak Amin dan Bu Susan. Bukan perjuangan melawan penjajah, bukan pula perjuangan melawan monster seperti di film-film Jepang yang suka muncul dari laut sambil merusak gedung. Perjuangan mereka lebih sederhana, tapi tetap menguras tenaga, pikiran, dan terutama… fisik.
Pak Amin dan Bu Susan adalah pasangan suami istri yang sama-sama mengajar di sekolah swasta yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. Kalau diukur pakai penggaris mungkin tidak bisa, tapi kalau pakai motor kira-kira dua belas sampai lima belas kilometer. Tergantung mood motornya.
Sore itu, setelah semua tugas selesai, Pak Amin menumpuk buku di kantornya sambil menghela napas panjang seperti tokoh sinetron yang baru tahu dirinya anak angkat.
“Bu, ayo pulang. Saya sudah rindu kasur,” kata Pak
Amin.
Bu Susan mengangguk sambil memasukkan bebrapa buku ke
tas.
“Saya juga rindu rumah. Tapi yang paling saya rindukan
itu kipas angin ruang tamu.”
Mereka pun berjalan menuju motor bersejarahnya.
Matahari mulai condong ke barat. Burung-burung beterbangan pulang ke sarang.
Sementara guru-guru lain sudah melaju pulang bebrapa jam sebelumnya dengan
wajah bahagia seperti habis gajian.
Pak Amin menyalakan motornya.
“Bismillah…” ucapnya.
Motor menyala dengan suara batuk-batuk kecil.
“Breeem… breem… khek… khek…”
Bu Susan melirik motor itu dengan curiga.
“Pak… motor kita sehat kan?”
“Tenang Bu. Ini cuma masuk angin.”
Motor pun mulai berjalan perlahan meninggalkan sekolah.
Baru beberapa meter, Pak Amin merasa ada yang aneh.
Stang motor bergoyang-goyang seperti penyanyi dangdut
sedang pemanasan.
“Lho… kok oleng?”
Pak Amin berhenti. Ia turun lalu memeriksa ban
belakang.
“Bu… anginnya kurang.”
Bu Susan ikut jongkok melihat ban.
“Kurang banyak atau kurang sedikit?”
Pak Amin menekan ban dengan jempol.
“Kurangnya itu… kalau dianalogikan nasi… tinggal
keraknya.”
Namun karena merasa ban masih bisa digunakan, mereka
melanjutkan perjalanan dengan kecepatan rendah. Pak Amin mengendarai motor
seperti sedang membawa telur di atas kepala.
Pelan…… Hati-hati….. Dan penuh doa.
Baru sekitar dua kilometer, stang motor tiba-tiba
kembali bergoyang liar.
“Pak! Ini motor kenapa joget terus?!” teriak Bu Susan.
Pak Amin panik.
Motor akhirnya berhenti di pinggir jalan.
Setelah dicek kembali, Pak Amin menatap ban belakang
dengan wajah sedih.
“Bu…”
“Kenapa Pak?”
“Ban kita sudah wafat.”
Angin di dalam ban benar-benar habis total. Kempesnya
bukan lagi setengah hati. Ban itu terlihat seperti sandal jepit yang terinjak
truk.
Akhirnya Pak Amin turun dan mulai mendorong motor. Bu
Susan pun ikut membantu dari belakang.
Kalau dilihat dari jauh, mereka seperti pasangan
peserta lomba gerak jalan romantis kategori ekonomi menengah.
Baru lima menit mendorong, Pak Amin sudah berkeringat
seperti habis lari marathon.
Bu Susan napasnya ngos-ngosan.
“Pak… rumah kita pindah aja dekat sekolah.”
Pak Amin mengangguk sambil tetap mendorong.
“Atau sekolahnya pindah dekat rumah kita.”
Mereka terus berjalan.
Lima ratus meter terasa seperti perjalanan
Jakarta-Surabaya.
Ketika harapan hampir hilang dan tenaga hampir tinggal
cicilan terakhir, akhirnya mereka menemukan sebuah bengkel tambal ban kecil di
pinggir jalan.
Bengkelnya sederhana sekali. Atapnya miring. Kursinya
cuma satu.
Dan tukang tambal bannya memakai kaos oblong lusuh yang
warnanya sudah tidak jelas antara hitam, cokelat, atau bekas perjuangan hidup.
Sekitar delapan puluh persen bajunya dipenuhi noda oli.
Kalau berdiri dekat kompor, mungkin langsung matang.
“Bang, tambal ban bisa?” tanya Pak Amin.
Tukang tambal ban mengangguk santai.
“Bisa. Bocor alus apa bocor brutal?”
Pak Amin bingung.
“Memangnya ada tingkatannya?”
“Ada. Kalau bocor alus tambalnya lima menit. Kalau
bocor brutal biasanya ban sudah menyerah sama kehidupan.”
Pak Amin hanya tertawa kecil sambil menyerahkan motor.
Selama menunggu hampir dua puluh menit, Bu Susan duduk
di kursi plastik sambil mengipas wajah menggunakan buku agenda sekolah.
“Pak… saya baru sadar.”
“Apa Bu?”
“Kalau begini terus, olahraga kita minggu ini sudah
lunas.”
Pak Amin tertawa.
Tak lama kemudian ban selesai ditambal.
“Nih Pak. Sudah beres,” kata tukang tambal ban.
Pak Amin menyerahkan uang sambil tersenyum lega. Bu
Susan bahkan tampak bahagia luar biasa saat kembali duduk di jok motor.
Wajahnya seperti penumpang kapal yang berhasil
menemukan daratan.
Motor kembali melaju. Angin sore terasa sejuk. Langit
mulai jingga. Dan mereka merasa penderitaan sudah selesai.
Ternyata… hidup tidak semudah itu, Fernando.
Baru sekitar tiga ratus lima puluh dua meter, motor
kembali bergoyang.
Kali ini goyangannya lebih dramatis.
Pak Amin langsung panik.
“Bu…”
“Iya Pak…”
“Kayaknya…”
“Bannya bocor lagi?”
“Bannya bocor lagi.”
Bu Susan menutup wajah.
“Ya Allah… ini ban apa ujian nasional?”
Motor kembali berhenti.
Ban kembali kempes.
Dan mereka kembali mendorong.
Bedanya sekarang mereka sudah tidak kaget lagi. Wajah
mereka datar seperti pegawai fotokopi.
Akhirnya mereka menemukan bengkel kedua.
Tukang tambal bannya lebih muda, rambutnya dicat
pirang, dan celananya robek di lutut.
Setelah diperiksa, tukang tambal ban itu berkata dengan
yakin,
“Wah Pak, bocornya banyak ini.”
Pak Amin mulai curiga.
“Emang bannya kena paku?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Mungkin kena santet.”
Bu Susan hampir tertawa terjungkal.
Ban ditambal lagi.
Mereka lanjut lagi.
Dan… bocor lagi.
Tambal lagi.
Bocor lagi.
Tambal lagi.
Sampai akhirnya mereka merasa lebih akrab dengan tukang
tambal ban daripada tetangga sendiri.
Di bengkel ketiga, Pak Amin bahkan sudah hafal aroma
oli di tempat itu.
Sementara Bu Susan mulai hafal jenis gorengan yang
dijual di dekat bengkel.
“Pak… kalau bocor lagi kita sekalian buka cabang tambal
ban aja.”
Pak Amin menjawab lemas.
“Iya Bu. Saya nanti jadi direkturnya.”
Perjalanan pulang berubah menjadi wisata bengkel
keliling.
Mereka keluar masuk bengkel seperti peserta audisi
pencarian bakat.
Bahkan di bengkel keempat, tukangnya langsung berkata,
“Lho… Bapak lagi?”
Pak Amin menjawab lesu,
“Iya Bang… kami pelanggan setia.”
Akhirnya setelah bocor keempat kalinya, Pak Amin
menyerah.
Ia memandangi ban motor itu dengan tatapan penuh luka
batin.
Lalu ia berkata mantap,
“Sudah. Ganti ban baru saja.”
Bu Susan mengangguk setuju.
“Daripada nanti kita dorong motor sampai provinsi
sebelah.”
Saat ban baru dipasang, Pak Amin termenung.
Dalam hati ia menyesal.
“Kenapa ya… bukan dari bocor pertama langsung ganti
ban?”
Kalau dihitung-hitung, tenaga habis…. Keringat habis…..
Kesabaran hampir habis. … Untung cintanya ke Bu Susan belum habis.
Setelah ban baru terpasang, motor akhirnya melaju
normal tanpa goyang-goyang seperti ular kena setrum. Mereka sampai rumah hampir
tiga jam setelah pulang sekolah.
Padahal kalau normal, perjalanan itu cuma sekitar tiga
puluh menit.
Bu Susan turun dari motor dengan wajah lelah.
Jilbabnya berantakan…. Bajunya kusut.
Langkahnya lunglai seperti pemain sinetron yang baru
kehilangan warisan.
Pak Amin sendiri langsung duduk selonjoran di ruang
tamu sambil memijat kaki.
“Bu…”
“Iya Pak…”
“Kita masih hidup kan?”
Bu Susan belum sempat menjawab.
Tiba-tiba mereka berdua saling menatap.
Wajah mereka mendadak pucat.
Pak Amin membelalakkan mata.
“ASTAGHFIRULLAH!”
Bu Susan ikut panik.
“Kenapa Pak?!”
“KERUPUK!”
Mereka lupa kalau malam itu harus menggoreng ratusan
lembar kerupuk untuk pelanggan tetap mereka.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara jangkrik terdengar dari luar rumah.
Bu Susan menatap langit-langit rumah.
“Pak… saya capek…”
Pak Amin mengangguk pelan.
“Saya juga…”
Mereka diam beberapa detik.
Lalu Bu Susan berkata lirih,
“Kalau kerupuknya kita rebus aja bisa nggak?”
Pak Amin tertawa keras sampai hampir jatuh dari kursi.
Dan malam itu, di tengah rasa lelah, kaki pegal, dan
trauma melihat tukang tambal ban, dapur rumah Pak Amin dan Bu Susan kembali
dipenuhi suara minyak goreng yang meletup-letup.
Sementara di luar rumah, motor mereka berdiri diam
dengan ban baru mengilap.
Seolah berkata dengan sombong,
“Tuh kan… dari tadi juga saya maunya diganti.”
Komentar
Posting Komentar