Namaku Didi. Sebelum kisah ini dimulai, hidupku cukup tenang. Pagi
minum kopi, siang minum kopi lagi, sore berpikir mau minum kopi apa tidak.
Namun semua berubah ketika Yayasan Senjakala menunjukku menjadi Asisten
Lapangan atau yang lebih keren disebut ASLAP untuk program Makan Gratis
Kerajaan Cilupir.
Ketika pertama kali menerima tugas itu, aku langsung merasa
bangga.
“Pak Didi, Bapak kami tunjuk menjadi bagian tim inti dapur,” kata
Ketua Yayasan. Aku mengangguk mantap.
“Siap, Pak.”
“Tugasnya cukup berat.”
“Siap, Pak.”
“Bisa membuat Bapak sering pulang malam.”
“Siap, Pak.”
“Kadang bisa bikin stres.”
“Siap, Pak.”
“Honor belum tentu bikin kaya.” Aku terdiam.
“Boleh saya pikir-pikir dulu, Pak?”
Untungnya semua tertawa dan akhirnya aku tetap menerima tugas itu.
Hari interview relawan pun tiba. Dari pagi sampai sore aula
Yayasan Senjakala dipenuhi pelamar. Ada yang melamar jadi koki, petugas
distribusi, administrasi, gudang, hingga ahli gizi.
Karena aku sudah ditunjuk lebih dulu, aku ikut membantu proses
wawancara. Di antara para pelamar, ada seorang ibu yang terlihat sangat percaya
diri. Namanya Bu Nida.
“Bidang apa yang Ibu kuasai?” tanya salah satu pewawancara.
“Akuntansi dan manajemen keuangan.”
“Kalau menghitung uang?”
“Cepat.”
“Kalau menghitung utang?”
“Lebih cepat.”
“Kalau menghitung utang orang lain?”
“Paling cepat.” Ruangan langsung tertawa.
Bu Nida akhirnya lolos karena memang latar belakangnya sangat
cocok sebagai akuntan dapur. Beberapa minggu kemudian hasil seleksi diumumkan.
Semua posisi sudah terisi. Namun masalah datang tanpa undangan. Calon ahli gizi
yang sudah dinyatakan lolos tiba-tiba mengundurkan diri.
Aku yang menerima kabar itu langsung panik. “Pak Ketua, bagaimana
ini?” tanyaku. “Cari pengganti.”
“Kalau tidak dapat?”
“Cari lagi.”
“Kalau tetap tidak dapat?”
“Cari yang lebih rajin.”
Akhirnya setelah berbagai komunikasi dan rekomendasi, muncullah
seorang gadis muda bernama Alya. Orangnya cerdas, ramah, dan lulusan bidang
gizi.
“Selamat bergabung, Neng Alya,” kataku.
“Terima kasih, Pak.”
“Siap bekerja keras?”
“Siap.”
“Siap bangun pagi?”
“Insya Allah.”
“Siap menghadapi relawan yang suka lupa?” Alya tertawa kecil.
“Kalau itu saya harus siap, Pak.” Belum selesai satu masalah,
datang lagi kejutan berikutnya. Kerajaan Cilupir mengirim seorang abdi kerajaan
untuk menjadi ketua operasional dapur. Awalnya aku berpikir tugasnya hanya
mengawasi. Ternyata beliau ingin melakukan seleksi ulang terhadap para relawan.
Aku langsung mengelus dada.
“Pak, bukankah mereka sudah lolos seleksi?”
“Betul.”
“Kenapa diseleksi lagi?”
“Karena saya suka menyeleksi.” Jawaban itu membuatku hampir
tersedak teh. Satu per satu relawan dipanggil. Tidak terkecuali Bu Nida dan
Neng Alya. Bu Nida masuk ruangan dengan tenang. Sedangkan Alya masuk dengan
wajah yang terlihat seperti mahasiswa sedang sidang skripsi.
Setelah beberapa hari penuh ketegangan, akhirnya formasi inti
tidak banyak berubah. Bu Nida tetap menjadi akuntan. Neng Alya tetap menjadi
ahli gizi. Hanya beberapa relawan yang bergeser posisi.
Semua menarik napas lega.
“Alhamdulillah,” kata Alya.
“Alhamdulillah,” kata Bu Nida.
“Alhamdulillah,” kataku.
“Alhamdulillah,” kata Pak Ade.
Pak Ade sendiri adalah chef profesional yang luar biasa. Masakan
Nusantara bisa. Masakan Western bisa. Memasak untuk sepuluh orang bisa. Memasak
untuk seribu orang juga bisa. Bahkan aku curiga beliau bisa memasak sambil
tidur. Beberapa hari kemudian seluruh relawan dikumpulkan.
Hari itu adalah rapat besar menjelang grand opening. Di depan
ruangan sudah disiapkan empat kursi. Satu untukku. Satu untuk Pak Ade. Satu
untuk Bu Nida. Satu lagi untuk Neng Alya.
Aku pertama memberikan sambutan. Awalnya aku berniat berbicara
selama lima belas menit. Entah bagaimana jadinya hampir satu jam lima belas
menit.
Aku menjelaskan tujuan dapur, aturan kerja, jadwal, prosedur
keamanan, alur distribusi, kebersihan, manajemen stok, sampai cara memegang
sendok yang benar.
Beberapa relawan mulai menguap. Beberapa mulai mengangguk. Aku
senang karena mengira mereka setuju. Ternyata mereka mengantuk.
Setelah merasa tenggorokanku mulai berasap, aku menyerahkan
mikrofon kepada Pak Ade. Pak Ade berbicara singkat namun berisi. Kemudian Bu
Nida memberikan arahan mengenai administrasi keuangan.
Tibalah giliran Neng Alya. “Silakan, Neng,” kataku. Alya
menggeleng.
“Tidak usah, Pak.”
“Kenapa?”
“Malu.”
“Sedikit saja.”
“Tidak siap.”
“Dua menit saja.”
“Takut salah.”
“Tidak akan salah.”
“Kalau salah?”
“Kami tepuk tangan saja.” Semua tertawa. Namun Alya tetap tidak
mau berbicara. Sampai sekarang aku tidak tahu penyebabnya. Mungkin malu. Mungkin
belum siap. Mungkin juga sedang sariawan. Atau mungkin ketiga-tiganya
sekaligus.
Hari-hari berikutnya dipenuhi persiapan grand opening. Spanduk
dipasang. Meja disusun. Kursi dirapikan. Banner dipasang. Bahkan tanaman yang
biasanya miring pun dipaksa berdiri tegak.
Acara ini sangat penting karena akan memperkenalkan dapur gratis
kepada masyarakat Kerajaan Cilupir.
Undangan yang hadir pun bukan orang sembarangan, Sultan, Para Menteri,
Ajudan Kerajaan, Panglima perang, Penasehat Kerajaan, Gubernur, Dan perwakilan
rakyat jelata.
Mendengar daftar tamu itu, aku langsung merasa gugup. “Pak Ade,
saya deg-degan.”
“Kenapa?”
“Takut salah.”
“Tenang saja.”
“Kalau Sultan bertanya?”
“Jawab.”
“Kalau saya tidak tahu jawabannya?”
“Jawab yang lain.”
Aku tidak yakin itu nasihat yang baik. Sehari sebelum acara,
suasana dapur semakin sibuk. Semua berlarian ke sana kemari. Ada yang membawa
berkas. Ada yang membawa kursi. Ada yang membawa kabel. Ada yang membawa
gunting.
Aku bahkan melihat seseorang membawa sapu sambil berlari seperti
sedang mengikuti lomba maraton. Saat itulah muncul masalah baru.
Siapa yang akan menjadi MC? Semua saling pandang. Semua diam. Lalu
entah kenapa semua mata mengarah kepada Alya.
“Tidak!” kata Alya cepat. Aku tersenyum.
“Kenapa tidak?”
“Saya tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
Perdebatan itu berlangsung cukup lama hingga Bu Nida ikut membantu
membujuk. Pak Ade juga ikut membujuk. Akhirnya tiga lawan satu. Alya menyerah. “Baiklah,
saya coba.”
Aku langsung mengangkat kedua tangan. “Alhamdulillah!”
Pagi itu Alya mulai menyiapkan teks acara. Menyusun susunan acara.
Mengatur durasi. Menghafal nama tamu. Dan yang paling penting, Menyiapkan
penampilan.
Seteah hari semakin siang Alya bersiap dengan penampilan yang luar
biasa rapi; Bedak terbaik. Lipstik terbaik. Pakaian terbaik. Pokoknya siap
tampil.
Pak Ade sampai berbisik kepadaku.
“Pak Didi.”
“Ya?”
“Ini mau jadi MC atau mau menerima penghargaan kerajaan?” Aku
tertawa sambil mengangguk. Namun dalam hati aku senang.
Karena untuk pertama kalinya sejak bergabung, Alya terlihat sangat
percaya diri. Dan kami semua berharap acara besar yang akan berlangsung bisa
berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun.
Sayangnya... Kami belum tahu bahwa tantangan yang sebenarnya
justru baru akan dimulai.
Setelah shalat Dhuhur waktu Grand Opening Dapur Gratis Kerajaan Cilupir
dimulai.
Sejak pukul 12 saing suasana sudah ramai. Para relawan bersiap
dengan wajah yang berbeda-beda. Ada yang penuh semangat, ada yang masih
mengantuk, dan ada yang tampak seperti baru selesai berdebat dengan bantal.
Aku datang lebih awal. Sebagai Asisten Lapangan atau Aslap, aku
merasa harus terlihat sibuk meskipun kadang belum tahu apa yang harus
disibukkan.
“Pak Didi, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang relawan.
Aku melihat sekeliling. “Hmm... coba periksa lagi semua kursi.”
“Sudah, Pak.”
“Kalau begitu periksa lagi apakah kursinya masih ada.” Relawan itu
tertawa lalu pergi. Tidak lama kemudian Pak Ade datang. Chef andalan kami itu
tampak tenang seperti biasanya.
Aku heran.
“Pak Ade, kok santai sekali?”
“Karena panik tidak menyelesaikan masalah.”
“Kalau panik sambil bekerja?”
“Itu baru produktif.”
Belum selesai kami berbincang, Bu Nida datang membawa map tebal. Tebalnya
hampir setara dengan kamus bahasa kerajaan.
“Apa itu, Bu?” tanyaku.
“Dokumen administrasi.”
“Banyak sekali.”
“Ini masih ringkasan.”
Aku langsung memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Beberapa menit kemudian muncullah Neng Alya. Penampilannya
benar-benar berbeda. Rapi. Elegan. Percaya diri. Dan membawa map berisi susunan
acara. Dan yang paling mencolok adalah wajahnya yang tampak sangat serius.
“Sudah siap jadi MC?” tanyaku.
“Belum.”
“Lho?”
“Tapi harus siap.”
“Bagus.”
“Kalau saya pingsan bagaimana?”
“Jangan.”
“Kalau grogi?”
“Anggap saja sedang ngobrol.”
“Kalau Sultan bertanya?”
“Pura-pura lihat catatan.”
Alya tertawa kecil.
Tepat pukul satu siang, para tamu undangan mulai berdatangan. Mobil
kerajaan berjejer. Para menteri hadir. Ajudan kerajaan hadir. Panglima perang
hadir. Penasehat kerajaan hadir. Gubernur hadir. Perwakilan rakyat jelata juga
hadir.
Dan akhirnya Sultan tiba. Semua relawan langsung berdiri tegak. Bahkan
ada relawan yang berdiri terlalu tegak sampai hampir kehilangan keseimbangan.
Acara dimulai. Alya naik ke panggung.
Aku yang berdiri di samping Alya ikut tegang.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...”
Suara Alya terdengar lantang. Jernih. Tegas. Percaya diri.
Aku langsung melongo.
Pak Ade juga melongo.
Bu Nida juga melongo.
“Pak Didi,” bisik Pak Ade.
“Ya?”
“Ini yang kemarin tidak mau bicara?”
“Iya.”
“Jangan-jangan kemarin yang hadir kembarannya.” Aku hampir tertawa
keras. Ternyata Alya membawakan acara dengan sangat baik. Susunan acara berjalan rapi. Perpindahan sesi
lancar. Tidak ada kesalahan berarti. Bahkan beberapa tamu penting terlihat
mengangguk-angguk kagum termasuk utusan dari Timur Tengah. Selesai acara, aku
menghampiri Alya.
“Luar biasa.”
“Benarkah, Pak?”
“Benar.”
“Tidak ada yang salah?”
“Kalau ada, kami juga tidak sadar.” Alya tertawa lega.
Grand Opening pun sukses besar. Semua bersyukur. Semua bahagia. Semua
berfoto. Bahkan ada relawan yang berfoto sampai lima belas kali dengan pose
yang sama.
Namun setelah kemeriahan Grand Opening berakhir, kehidupan nyata
dimulai. Hari pertama memasak. Dan di sinilah petualangan sesungguhnya dimulai.
Sejak subuh dapur sudah sibuk. Sayuran datang. Beras datang. Ayam datang. Bumbu
datang. Relawan datang. Yang tidak datang hanya rasa tenang.
Pak Ade memimpin dapur seperti seorang jenderal perang.
“Potong wortel!”
“Siapkan bumbu!”
“Panaskan kompor!”
“Jangan panaskan sendok!”
Suasana sangat ramai. Sementara itu Alya sibuk memastikan menu
sesuai kebutuhan gizi. Bu Nida sibuk menghitung pengeluaran. Dan aku sibuk
berkeliling memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Sayangnya rencana punya hobi berubah. Hari pertama jumlah makanan
kurang. Hari kedua proses memasukkan makanan ke ompreng terlalu lama. Hari
ketiga pengiriman terlambat. Hari keempat pencucian ompreng belum selesai
sampai larut malam. Hari kelima ada relawan yang lupa meletakkan tutup ompreng.
Hari keenam ada yang mencari tutup ompreng yang hilang. Hari ketujuh tutup
omprengnya ternyata ada di atas lemari. Pokoknya setiap hari selalu ada cerita.
Yang paling luar biasa adalah bagian pencucian ompreng. Jumlahnya
sangat banyak. Setelah makanan dibagikan, ompreng kembali untuk dicuci. Prosesnya
bisa berlangsung sampai empat belas jam. Empat belas jam!
Aku bahkan curiga beberapa ompreng sudah lebih lama berada di
tempat pencucian dibanding berada di tempat penerimanya.
Namun masalah terbesar ternyata datang pada malam hari. Tepat
pukul dua belas malam teleponku berbunyi. Aku yang sedang tidur langsung
terbangun.
“Hallo?”
“Pak Didi, ini Pak Ade.”
“Ada apa, Pak?”
“Ayam kurang tiga puluh kilo.”
Aku langsung duduk.
“Tiga puluh kilo?”
“Iya.”
“Bukan tiga kilo?”
“Kalau tiga kilo saya tidak telepon.”
Aku menghela napas. Untung rumahku dekat pasar. Kurang dari satu
jam kebutuhan ayam berhasil dipenuhi. Aku pulang menjelang dini hari.
Keesokan malamnya telepon berbunyi lagi.
“Pak Didi.”
“Ada apa lagi, Pak?”
“Pokcoy kurang tiga puluh kilo.” Aku terdiam beberapa detik.
“Pak Ade.”
“Ya?”
“Dapur kita masak makanan atau membuka kebun?” Pak Ade tertawa. Aku
pun kembali berangkat ke pasar. Malam berikutnya telepon berbunyi lagi. Kurang
tepung. Besoknya kurang bawang. Besoknya kurang tempe. Besoknya kurang cabai. Besoknya
kurang bahan lain. Pokoknya selalu ada yang kurang.
Suatu malam ketika telepon kembali berbunyi, istriku sampai
berkata,
“Coba sekali-kali yang kurang itu senyumnya saja.”
Aku tertawa sambil mengangkat telepon.
“Hallo?”
“Pak Didi.”
“Iya, Pak Ade.”
“Kurang bawang merah.”
“Tentu saja.”
“Bagaimana Bapak tahu?”
“Karena kalau telepon tengah malam biasanya bukan mau ngajak
karaoke.”
Walaupun melelahkan, semua masalah selalu bisa diatasi. Salah satu
penyebabnya adalah kekompakan tim inti. Aku. Pak Ade. Bu Nida. Dan Neng Alya.
Usia kami memang berbeda jauh. Aku yang paling senior. Pak Ade
tidak jauh di bawahku. Bu Nida berada di tengah. Sedangkan Alya paling muda.
Namun entah kenapa kami sangat kompak. Kalau ada masalah, kami
selesaikan bersama. Kalau ada kesulitan, kami hadapi bersama. Kalau ada yang
lupa makan, kami ingatkan Bersama. Kalau ada yang salah menghitung, Bu Nida
langsung muncul seperti detektor kesalahan berjalan. Kalau ada menu yang perlu
diperbaiki, Alya langsung memberikan masukan. Kalau ada masalah memasak, Pak
Ade langsung turun tangan.
Kalau ada yang harus lari ke pasar tengah malam... Semua langsung
melihat ke arahku. “Kenapa lihat saya?”
protesku. “Karena rumah Bapak paling dekat pasar,” jawab mereka serempak.
Sungguh persahabatan yang sangat adil. Hari demi hari berlalu. Minggu
demi minggu berlalu. Dapur semakin tertata. Proses semakin cepat. Distribusi
semakin rapi. Relawan semakin terampil. Kesalahan semakin berkurang. Masyarakat
Kerajaan Cilupir pun mulai merasakan manfaat program tersebut.
Melihat semua itu, rasa lelah kami seperti terbayar lunas. Namun
tepat satu bulan setelah dapur berjalan, sebuah kabar datang dari Yayasan
Senjakala. Aku dipanggil, Dan diberi tugas baru.
“Pak Didi, Bapak harus membantu lokasi lain.”
Aku terdiam.
“Harus sekarang, Pak?”
“Iya.”
“Berarti saya meninggalkan dapur ini?”
“Benar.”
Ketika kabar itu kusampaikan kepada tim, suasana mendadak hening. Pak
Ade mengangguk pelan. Bu Nida terlihat aneh. Alya juga tampak tidak jelas.
Namun aku tersenyum. “Jangan seperti itu. Saya hanya pindah
tugas.”
“Kalau tengah malam kurang ayam bagaimana?” tanya Pak Ade.
“Telepon saja.”
“Kalau kurang pokcoy?”
“Telepon saja.”
“Kalau kurang bawang?”
“Telepon saja.”
“Kalau kangen?”
Aku tertawa.
“Kalau itu video call saja.”
Semua akhirnya tertawa. Hari terakhir Pak Didi bertugas di dapur
tersebut tiba, tidak ada perpisahan, tidak ada serah terima jabatan, tidak ada
juga. Namun banyak kenangan yang diperoleh Pak Didi, diantaranya; Pak Ade sang
chef hebat. Bu Nida sang penjaga angka. Neng Alya sang ahli gizi sekaligus MC
dadakan terbaik.
Dan aku bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.
Kini kami memang tidak lagi bekerja di tempat yang sama. Namun
komunikasi tetap terjalin. Kadang membahas pekerjaan. Kadang membahas kenangan.
Kadang membahas kekurangan stok ayam yang melegenda itu.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga dari sebuah dapur bukan
hanya makanan yang dimasak. Tetapi orang-orang yang memasaknya bersama.
Dan begitulah kisah kami di Dapur Gratis Kerajaan Cilupir. Kisah
tentang kerja keras. Kekompakan. Persahabatan. Dan tentu saja... Telepon tengah
malam yang tidak pernah ada habisnya.
TAMAT
Jakarta, 19 Juni 2026

Komentar
Posting Komentar