Malam itu hujan turun perlahan di kota perantauan.
Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang basah. Dari
balik jendela kamar rumahnya yang terletak di Tengah kota, Farhan duduk
sendirian sambil memandangi langit yang tertutup awan.
Di atas meja kecil di samping tempat tidurnya,
terletak sebuah ponsel. Layar ponsel itu menampilkan foto seorang perempuan tua
yang tersenyum sederhana. Kerudungnya sudah mulai memudar warnanya karena
sering dipakai, namun senyum itu masih sama seperti dulu; hangat, menenangkan,
dan penuh kasih.
Perempuan itu adalah mamaknya. Farhan menghela napas
panjang.
Sudah lebih dari dua puluh tahun ia hidup di
perantauan. Kesibukan pekerjaan, tuntutan kehidupan, serta jarak yang
memisahkan membuat langkahnya tak semudah dulu untuk pulang. Perjalanan menuju
kampung halaman membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi izin pekerjaan
yang tidak selalu bisa didapatkan.
Bukan karena ia tidak ingin pulang. Justru setiap
hari, hatinya selalu pulang. Setiap kali melihat orang tua berjalan bersama
anaknya, ia teringat mamaknya.
Setiap kali mencium aroma masakan kampung dari warung
sederhana, ia teringat mamaknya. Setiap kali tubuhnya sakit dan terbaring di
kamar, ia teringat mamaknya. Rindu itu tidak pernah pergi.
Malah semakin hari semakin tumbuh seperti pohon yang
akarnya menancap jauh ke dalam dada. Farhan masih ingat ketika kecil dahulu.
Setiap pagi mamaknya meyusuh untuk makan dengan makanan favoritnya, tempe dan
ikan goreng.
"Nak, makan. Ini sudah mamak siapin makan
kesukaanmu”.
Namun anehnya, makanan semewah apa pun yang pernah ia
makan di kota besar ini tidak pernah bisa mengalahkan rasa makanan buatan
mamaknya. Karena yang membuat makanan itu lezat bukan bumbunya, melainkan cinta
yang tercampur di dalamnya.
Kini, setelah dewasa dan jauh dari rumah, Farhan
mulai memahami banyak hal yang dahulu tidak pernah ia mengerti. Ia menyadari
bahwa kehadirannya di rumah bukan sekadar datang dan duduk di ruang tamu.
Kehadirannya adalah bentuk bakti. Kehadirannya adalah
tanda kepatuhan. Kehadirannya adalah bahasa kasih sayang yang paling sederhana
namun paling berarti bagi kedua orang tuanya.
Ia tahu mamaknya tidak pernah meminta uang yang
banyak. Tidak pernah meminta hadiah yang mahal. Yang paling sering diminta
mamaknya hanyalah satu kalimat sederhana. "Kapan pulang, Nak?"
Kalimat yang terdengar biasa bagi orang lain. Namun
bagi Farhan, kalimat itu seperti pisau yang perlahan mengiris hatinya. Karena
sering kali ia tidak bisa menjawabnya.
"Ada kerjaan, Mak, Belum bisa cuti, Mak, Nanti
ya, Mak, Nanti." Dan ternyata "nanti" adalah kata yang paling
menyakitkan ketika diucapkan kepada orang tua.
Malam itu ponselnya bergetar. Nama "Mamak"
muncul di layar. Dengan cepat ia mengangkat panggilan video itu. Beberapa detik
kemudian wajah mamaknya muncul. Keriput di wajah itu terlihat semakin jelas
dibandingkan beberapa tahun lalu. Rambut yang dahulu hitam kini semakin banyak
yang memutih.
Farhan tersenyum, tetapi matanya langsung terasa
panas.
"Assalamu'alaikum, Mak."
"Wa'alaikumussalam, Nak."
"Kabar Mamak gimana?"
"Alhamdulillah sehat."
Padahal Farhan tahu, jawaban itu sering kali hanya
untuk membuat anaknya tenang. Mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang
cuaca, Tentang tetangga, Tentang kebun di belakang rumah, Tentang ayam
peliharaan yang baru bertelur. Dan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Namun justru itulah yang membuat Farhan semakin rindu. Karena ia sadar, yang ia
rindukan bukan hanya rumah. Melainkan suasana saat berada di dekat mamaknya. Melihat
mamaknya berjalan di dapur. Mendengar suara sendok beradu dengan piring. Menyaksikan
mamaknya menyapu halaman. Mendengar panggilan sederhana dari bibirnya.
"Nak..." Betapa mahalnya suara itu
sekarang. Sebelum panggilan berakhir, mamaknya berkata pelan. "Jaga
kesehatan ya, Nak, Jangan telat
makan." "Iya, Mak." Jawab Farhan. "Mamak selalu doakan kamu." Kalimat
itu membuat Farhan menundukkan kepala.
Karena ia tahu. Tak ada satu malam pun yang terlewat
tanpa doa dari mamaknya. Panggilan video berakhir. Layar ponsel kembali gelap. Kamar
itu kembali sunyi. Dan saat itulah air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya
jatuh.
Satu tetes. Dua tetes. Lalu semakin banyak. Farhan
menangis sendirian. Tangisan seorang anak laki-laki yang selama ini berusaha
terlihat kuat. Tangisan seorang perantau yang menyimpan rindu terlalu lama. Tangisan
seorang anak yang ingin pulang tetapi belum mampu.
Ia memeluk bantalnya erat-erat. Dalam bayangannya, ia
melihat dirinya kembali menjadi anak kecil. Berlari menuju pelukan mamaknya. Mencium
tangannya. Menyandarkan kepala di pangkuannya. Mendengar dongeng sebelum tidur.
Namun kenyataan segera membangunkannya. kini berada
ratusan kilometer dari rumah. Jarak itu terasa begitu panjang.
Malam semakin larut, Farhan bangkit dari tempat
tidurnya, Ia mengambil air wudu, Lalu berdiri menghadap kiblat. Di saat banyak
orang tertidur lelap, Farhan justru menemukan tempat paling dekat untuk melepas
rindunya. Sujud.
Di atas sajadah sederhana itu, ia menangis lebih
deras daripada sebelumnya. "Ya Allah..." Suaranya bergetar. "Jagalah
mamaku, Sehatkan tubuhnya, Panjangkan umurnya dalam kebaikan, Bahagiakan
hatinya, Jangan biarkan aku kehilangan dirinya sebelum aku sempat membalas
semua jasanya."
Air mata membasahi sajadah. Setiap malam ia mengulang
doa yang sama. Hampir tidak pernah terlewat.
Pada sepertiga malam yang sunyi, ketika dunia terasa
begitu sepi, Farhan berbicara kepada Allah tentang satu nama yang selalu
memenuhi hatinya.
Mamak….. Mamak…. dan mamak. Karena ia sadar, mungkin
saat ini ia belum bisa sering hadir di hadapan ibunya. Belum bisa selalu
mencium tangannya. Belum bisa duduk lama mendengarkan ceritanya. Namun ia tidak
ingin terputus dari baktinya.
Maka ia titipkan cintanya melalui doa. Ia kirimkan
rindunya melalui sujud. Ia persembahkan tangisnya melalui munajat panjang di
malam hari.
Hari-hari terus berlalu. Musim berganti. Kesibukan
tetap mengejar. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Kerinduan, Kerinduan yang setiap hari tumbuh semakin
besar. Hingga suatu malam, setelah selesai salat tahajud, Farhan melihat
kembali foto mamaknya yang tersimpan di HP.
Ia memperbesar gambar itu. Memperhatikan setiap garis
keriput di wajah yang dicintainya. Kemudian tanpa sadar ia menyentuh layar
ponselnya, seolah sedang mengusap pipi mamaknya. Air mata kembali mengalir. Kali
ini lebih deras.
"Mak..." Suara itu nyaris tak terdengar. "Aku
rindu sekali..." Tidak ada jawaban. Hanya suara kipas angin yang berputar
pelan. Farhan memejamkan mata. Ia membayangkan dirinya pulang, Mencium tangan
mamaknya, Memeluknya erat., Mengatakan semua hal yang selama ini belum sempat
ia katakana, Bahwa seluruh keberhasilan yang ia raih berasal dari doa mamaknya,
Bahwa setiap langkah hidupnya bergantung pada ridha mamaknya.
Bahwa kebahagiaan yang ia cari selama ini ternyata
bukan pada jabatan, bukan pada uang, bukan pada pujian manusia. Melainkan pada
seberapa besar ia mampu mengabdikan dirinya kepada orang tuanya. Namun malam
itu ia hanya bisa memeluk bayangan. Karena mamaknya berada sangat jauh di sana.
Di rumah sederhana yang selalu menunggunya pulang. Farhan
menangis lagi. Tangisan yang lebih sunyi. Lebih dalam. Lebih menyakitkan. Sebab
ia sadar, waktu tidak pernah berhenti berjalan. Setiap hari usia mamaknya
bertambah. Setiap hari rambutnya semakin memutih. Setiap hari tenaganya semakin
berkurang. Sedangkan dirinya masih terjebak dalam jarak yang panjang.
Dengan dada yang sesak, ia menengadahkan kedua
tangannya sekali lagi. "Ya Allah..., Jika semua rindu ini tidak
bisa kusampaikan kepada mamakku malam ini, maka sampaikanlah melalui rahmat-Mu.
Peluklah hatinya dengan ketenangan, Jaga setiap langkahnya, Temani setiap
kesendiriannya, Dan jika suatu hari Engkau mengizinkanku pulang, jangan biarkan
aku datang terlambat.
Karena tidak ada ketakutan yang lebih besar bagi
seorang anak perantauan selain pulang lalu mendapati pelukan yang selama ini
dirindukannya sudah tidak ada lagi.
Malam itu, di kamarnya, seorang anak laki-laki
kembali menangis dalam sujudnya. Menangisi jarak, Menangisi waktu, Menangisi
rindu yang tak pernah selesai, Rindu kepada perempuan yang dahulu
menggendongnya ketika ia belum mampu berjalan. Perempuan yang selalu menyebut
namanya dalam doa, Perempuan yang tidak pernah meminta apa-apa selain
kepulangannya, Perempuan yang hingga hari ini masih ia panggil dengan satu nama
paling indah di dunia: Mamak.
Jakarta, 12 Juni 2026

Komentar
Posting Komentar