Inovasi Kemandirian Ekonomi Pesantren: Departemen Bidang Usaha Darunnajah Sukses Gelar Bazar Pecel Lele Berbasis Investasi Guru


JAKARTA
– Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kemandirian ekonomi lembaga sekaligus meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidiknya melalui sebuah inisiatif kreatif. Pada hari Ahad, 2 Agustus 2026, Departemen Bidang Usaha secara resmi meluncurkan unit usaha temporer berupa Bazar Pecel Lele dan Pecel Ayam yang bertepatan dengan momentum kedatangan santri baru. Kegiatan ini tidak hanya menjadi layanan praktis bagi para orang tua santri, tetapi juga menjadi model investasi kolektif yang inovatif bagi para guru.

Momentum kedatangan santri baru kelas 1 ke asrama merupakan hari yang sangat sibuk bagi para wali santri. Departemen Bidang Usaha melihat peluang ini dengan menyediakan fasilitas konsumsi di dalam lingkungan kampus agar para wali santri tidak perlu repot keluar area pesantren untuk mencari makan siang maupun makan malam, mengingat proses administrasi dan penempatan santri seringkali berlangsung hingga pukul 20.00 WIB. Dengan adanya gerai ini, wali santri mendapatkan kemudahan akses makanan yang higienis dan berkualitas tanpa harus meninggalkan lokasi pesantren.

Salah satu poin unik dari kegiatan ini adalah sistem permodalannya yang menggunakan mekanisme penanaman saham internal. Program ini dikhususkan bagi para ustadz dan ustadzah yang telah berkeluarga, dengan nilai satu lembar saham yang sangat terjangkau. Setiap peserta dibatasi hanya dapat memiliki satu lembar saham guna memberikan kesempatan yang merata bagi seluruh staf pengajar dalam berpartisipasi meningkatkan kesejahteraan mereka.

Antusiasme para guru terhadap program investasi ini terbukti luar biasa tinggi. Informasi mengenai kesempatan penanaman saham ini dibagikan melalui grup WhatsApp dan langsung mendapatkan respons yang sangat cepat. Dalam waktu kurang dari 10 menit, kuota awal sebanyak 30 lembar saham langsung terpenuhi. Bahkan, setelah kuota resmi ditutup, masih banyak guru yang memenuhi syarat berusaha mendaftarkan diri, menunjukkan tingginya kepercayaan staf pendidik terhadap pengelolaan usaha di bawah naungan Departemen Bidang Usaha. Berdasarkan catatan akhir, terdapat 30 orang pemegang saham aktif yang terlibat dalam operasional bazar kali ini.

Pelaksanaan bazar yang berlangsung di area kampus tersebut terpantau sangat ramai dan mendapatkan apresiasi positif dari berbagai pihak. Konsumen yang terdiri dari wali santri, guru, hingga santri memberikan pujian terhadap kualitas sajian yang diberikan. Berbeda dengan warung pecel lele pada umumnya, Bazar Darunnajah menyajikan ukuran ayam dan lele yang lebih besar dengan bumbu dan sambal khas yang diracik khusus sehingga mengundang banyak pujian.

Keberhasilan ini membawa dampak psikologis yang positif, khususnya bagi para santri. Banyak santri yang menyampaikan permintaan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkala, misalnya setiap dua minggu atau satu bulan sekali. Hal ini dianggap efektif sebagai salah satu sarana untuk membantu proses adaptasi santri di lingkungan asrama agar mereka merasa lebih betah (pembetahan santri) melalui ketersediaan variasi kuliner yang menggugah selera.

Secara finansial, kegiatan ini mencatatkan hasil yang memuaskan. Hasil penjualan dari unit usaha Pecel Lele dan Pecel Ayam ini mendapatkan margin keuntungan yang cukup signifikan. Sesuai dengan ketentuan awal, mekanisme pembagian keuntungan atau bagi hasil akan didistribusikan dalam waktu maksimal satu bulan setelah kegiatan selesai. Keuntungan tersebut akan dialokasikan secara proporsional kepada para guru pemegang saham serta memberikan kontribusi bagi kas lembaga.

Keberhasilan Bazar Pecel Lele ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan unit usaha yang terencana dengan baik dapat memberikan manfaat berganda bagi ekosistem pesantren. Melalui kepemimpinan di Departemen Bidang Usaha, Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta terus berupaya menciptakan terobosan-terobosan baru yang mendukung operasional pesantren sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi para pejuangnya di bidang pendidikan. Di masa depan, model bisnis berbasis partisipasi guru ini diharapkan dapat dikembangkan ke sektor usaha lain yang lebih luas dan berkelanjutan. (5/08/26-Idi Darusman)


Komentar