Salah Costum

 


Kalau di Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta Selatan ada penghargaan "Guru Paling Rajin Berangkat Pagi Sebelum Matahari Selesai Menguap," hampir bisa dipastikan pialanya sudah berdebu di ruang tamu Pak Didi. Bukan karena beliau meminta penghargaan, tetapi karena setiap hari beliau tiba di tempat tugas ketika ayam tetangga saja masih mempertimbangkan, "Kok gelap amat ya, jadi berkokok nggak?" Bahkan satpam pernah bercanda, "Pak, kalau Bapak datang lebih pagi lagi, nanti saya titip buka gerbang dari rumah."

Hari Kamis pagi itu juga tidak ada yang berbeda. Jam weker belum sempat berbunyi tiga kali, Pak Didi sudah siap dengan seragam Pramuka lengkap. Baju cokelat rapi, celana cokelat tua licin tanpa kusut, sepatu mengilap sampai bayangan nyamuk pun terlihat. Kalau ada lomba "Pramuka Paling Siap Berkemah Padahal Mau Ngajar", Pak Didi jelas juaranya. Sementara itu, istri tercantiknya juga sudah siap berangkat dengan tujuan berbeda, meski jalur awalnya searah.

Mereka pun meluncur dengan kendaraan kebanggaan keluarga: sepeda listrik hitam. Kendaraan itu bukan sekadar alat transportasi, tetapi simbol perjuangan melawan harga bahan bakar yang belakangan melonjak lebih tinggi daripada harga cabai saat musim hujan. Sejak BBM naik, Pak Didi bersumpah dalam hati, "Bensin boleh mahal, tapi dompetku jangan ikut sesak napas." Akhirnya sepeda listrik menjadi sahabat setia. Suaranya nyaris tak terdengar. Kalau lewat depan rumah orang, yang terdengar justru suara sandal tetangga diseret.

Di tengah perjalanan, mereka berpisah di persimpangan. Istrinya melanjutkan tugas ke arah yang berbeda, sementara Pak Didi menuju Darunnajah. Sebelum berpisah, istrinya sempat berkata, "Hati-hati ya." Pak Didi mengangguk mantap. Dalam pikirannya, tantangan terbesar hari itu paling-paling hanya mencari colokan listrik kalau baterai tinggal satu garis. Rupanya, kehidupan sudah menyiapkan kejutan yang lebih kreatif.

Pukul enam kurang sedikit, Pak Didi sudah duduk manis di kantor. Meja masih rapi, udara masih sejuk, dan beberapa guru lain bahkan mungkin masih berdebat dengan bantal. Seperti kebiasaan setiap pagi, beliau membuka WhatsApp yang semalam belum sempat dibaca. Grup keluarga, grup alumni, grup jualan madu, grup yang isinya cuma stiker, semuanya dilewati dengan kecepatan seorang ninja digital.

Sampailah pada satu pesan dari grup resmi pondok. Isinya singkat, padat, tetapi efeknya seperti petir menyambar tiang listrik.

"Pemberitahuan. Hari ini seluruh ustadz menggunakan baju koko putih dan celana gelap."

Pak Didi membaca sekali.

Membaca dua kali.

Membaca tiga kali.

Lalu melihat bajunya sendiri.

Lalu melihat pesan lagi.

Lalu melihat bajunya lagi.

Kalau saat itu ada cermin, mungkin cermin ikut berkata, "Maaf Pak, saya juga bingung."

"Ya Allah..." gumamnya pelan. "Saya ini siap jadi pembina Pramuka, ternyata yang lain mau jadi ustadz seragam putih."

Beliau mulai menghitung kemungkinan. Pulang naik sepeda listrik? Bisa. Tapi kecepatannya maksimal sekitar 35 sampai 49 km/jam. Belum lagi arah Kebayoran terkenal macetnya seperti antrean sembako gratis. Kalau memaksakan diri, bisa-bisa yang hadir di apel tinggal kenangan tentang dirinya.

Setelah berpikir cukup keras sampai hampir ingin bertanya kepada pot bunga, Pak Didi akhirnya mengambil keputusan besar.

"Pulang. Ganti baju. Tapi naik ojek."

Beliau pun berjalan ke depan gang mencari ojek pangkalan. Jalannya cepat, tetapi tetap menjaga wibawa seorang guru. Jadi kelihatannya bukan panik, hanya... terburu-buru dengan elegan.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang tukang ojek.

"Mau ke mana, Pak?"

"Pulang sebentar, Bang. Urusan negara."

Tukang ojek mengangguk meski jelas tidak paham bagaimana rumah Pak Didi bisa menjadi bagian dari urusan negara.

Karena arah Cipulir menuju Kebayoran sedang padat, sang tukang ojek memilih jalur Tanah Kusir.

"Tenang, Pak. Saya hafal jalan tikus."

Pak Didi mengangguk. Dalam hati beliau berharap tikusnya juga hafal jalan.

Awalnya perjalanan berjalan mulus. Angin sepoi-sepoi, jalan relatif lancar. Namun ketika melintas di pinggir kali Tanah Kusir...

"Brek... brek... brek..."

Motor mulai batuk.

"Lho?"

"Brekk..."

Motor kembali tersendat.

"Bang... motornya kenapa?"

"Kayaknya cuma masuk angin, Pak."

Motor tentu tidak menjawab. Yang menjawab justru suara "tek..."

Lalu mati total.

Tukang ojek mencoba menyalakan berkali-kali. Tendangan starter sudah seperti sedang latihan pencak silat. Hasilnya tetap nihil.

Akhirnya tangki dibuka.

Sunyi.

Sepi.

Kosong.

Saking kosongnya, mungkin semut yang lewat pun berkata, "Percuma mampir."

Tukang ojek garuk kepala.

"Waduh, Pak... bensinnya habis."

Pak Didi hanya mampu menatap langit. Dalam hati beliau berpikir, "Saya menghindari biaya bensin dengan naik sepeda listrik. Sekarang malah berhenti gara-gara motor kehabisan bensin. Ini semesta sedang bercanda."

"Pak, tunggu sebentar ya. Saya cari bensin."

"Baik, Bang."

Pak Didi menunggu.

Satu menit.

Tiga menit.

Lima menit.

Delapan menit.

Hampir sepuluh menit berlalu. Tukang ojek belum juga kembali. Pak Didi mulai curiga jangan-jangan tukang ojeknya sekalian ikut transmigrasi.

Untunglah, dari kejauhan melintas seorang pengemudi ojek online dengan jaket hijau khas.

Pak Didi segera melambaikan tangan.

"Pak... Pak..."

Motor berhenti.

"Ada apa, Pak?"

"Bisa offline?"

Pengemudi tersenyum.

"Bisa, Pak."

Alhamdulillah.

Kalimat "bisa offline" saat itu terdengar lebih indah daripada notifikasi saldo masuk.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Supaya tidak tegang, mereka mengobrol.

"Bapak kerja di mana?"

"Di Darunnajah."

"Oh... pondok yang besar itu ya?"

"Iya."

"Wah, saya sering antar santri. Kadang mereka lebih hafal jalan daripada GPS."

Pak Didi tertawa.

"Iya, apalagi kalau menuju kantin."

"Titik tujuan makanan memang selalu akurat, Pak."

Sepanjang perjalanan mereka mengobrol ringan sampai akhirnya tiba di rumah.

Pak Didi segera turun.

"Bang, tunggu sebentar ya. Saya ganti baju. Nanti antar saya lagi ke Darunnajah."

"Siap, Pak."

Pak Didi pun masuk rumah dengan kecepatan yang belum pernah dicatat Guinness World Records. Baju Pramuka terbang ke gantungan. Koko putih dipakai. Celana gelap dikenakan. Bahkan kalau ada lomba ganti baju tercepat kategori guru pesantren, kemungkinan besar beliau masuk final.

Kurang dari beberapa menit, beliau sudah kembali.

"Bang, berangkat!"

Motor melaju lagi menuju Darunnajah. Ajaibnya, kali ini perjalanan lancar. Tidak ada macet berarti. Lampu merah terasa bersahabat. Bahkan seolah-olah jalan ikut memberi semangat.

Pukul 07.02.

Pak Didi tiba di gerbang.

Beliau langsung berlari kecil menuju tempat absensi.

Dua menit terlambat.

Hanya dua menit.

Tetapi dua menit itu rasanya lebih panjang daripada libur kenaikan kelas.

Seorang rekan guru melihatnya lalu bertanya sambil tersenyum, "Pak Didi... tadi katanya sudah datang pagi?"

"Iya."

"Lho kok sekarang baru absen?"

Pak Didi menarik napas panjang.

"Ceritanya panjang. Intinya... saya terlalu rajin datang, tapi terlalu telat baca WhatsApp."

Semua yang mendengar langsung tertawa.

Ada yang nyeletuk, "Pak, untung cuma salah kostum. Coba kalau salah masuk pondok."

Yang lain menimpali, "Besok sebelum mandi, baca WA dulu, Pak."

Pak Didi ikut tertawa paling keras.

Sejak hari itu beliau mendapat satu pelajaran berharga. Datang paling pagi memang baik, tetapi membaca informasi terbaru jauh lebih baik. Sebab, guru yang disiplin masih bisa terlambat dua menit. Namun guru yang salah kostum akan dikenang lebih lama daripada jadwal piket. Dan setiap kali ada perubahan seragam di grup WhatsApp, nama Pak Didi selalu disebut lebih dulu.

"Pak... WA-nya sudah dibaca belum?"

Jakarta, 5 Agustus 2026

Komentar