TERSESAT DI JALAN YANG LURUS


Di lingkungan Pondok Pesantren di Jakarta Selatan, Ara dikenal sebagai guru muda yang ramah, ceria, dan penuh semangat. Ia mampu menjelaskan pelajaran dengan sangat runtut kepada para santri. Sayangnya, ada satu pelajaran yang belum pernah benar-benar ia kuasai, yaitu pelajaran tentang arah jalan di Jakarta. Baginya, semua jalan terlihat mirip. Kalau ditanya arah pulang, jawabannya sering kali lebih cocok dijadikan teka-teki daripada petunjuk.

Suatu hari sahabatnya yang tinggal di Grogol, Jakarta Barat, mengajaknya berkunjung. Tanpa berpikir panjang Ara menjawab, “Siap, aku berangkat!” Saat ditanya apakah ia hafal jalannya, Ara menjawab dengan penuh percaya diri, “Tenang, ada GPS.” Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan yang begitu tinggi, seolah-olah GPS adalah sahabat karib yang tidak mungkin berbuat salah.

Setelah mengenakan helm dan menyalakan motor, Ara memasang ponselnya di dudukan setang. Garis biru pada peta tampak jelas. “Ikuti saja garis ini,” gumamnya. Motor pun melaju meninggalkan pesantren. Ara merasa dirinya seperti pembalap profesional yang sedang menjalankan misi penting.

Awalnya perjalanan terasa lancar. Namun setelah empat puluh lima menit, tujuan belum juga terlihat. GPS berkali-kali meminta Ara belok kiri, belok kanan, bahkan putar balik jika memungkinkan. Ara menuruti semuanya tanpa protes. Sesekali ia merasa pernah melewati toko yang sama. “Ah, mungkin semua minimarket memang wajahnya sama,” pikirnya polos.

Sejam berlalu. Ara berhenti di lampu merah dan bertanya kepada tukang gorengan. “Pak, Grogol masih jauh?” Sang bapak menjawab santai, “Kalau tahu jalannya, lima belas menit lagi.” Ara hanya mengangguk. Ia tidak berani mengaku bahwa dirinya sudah hampir satu setengah jam berputar-putar mengikuti garis biru yang tampaknya sedang olahraga keliling Jakarta.

GPS tetap berbunyi dengan suara lembut. “Belok kanan.” Ara belok. “Belok kiri.” Ara belok lagi. Dalam hati ia mulai curiga. “Ini GPS apa sedang ikut lomba mencari jalan terpanjang?” Namun karena rasa percaya masih lebih besar daripada rasa curiga, ia tetap mengikuti petunjuk itu.

Nyaris dua jam kemudian terdengar suara yang paling ditunggu, “Anda telah tiba di tujuan.” Ara spontan mengangkat kedua tangan sambil berseru, “Alhamdulillah!” Untung motornya sudah berhenti. Temannya yang melihat dari teras hanya bisa tertawa. “Ra, rumahku cuma empat puluh lima menit dari tempatmu.” Ara menjawab singkat, “Iya, aku tadi sekalian city tour gratis.”

Pertemuan mereka berlangsung sangat menyenangkan. Bakso hangat disajikan. Ara menambah dua mangkuk. Setelah itu es kopi dingin datang, disusul pastel, risoles, keripik, pisang goreng, dan aneka camilan. Temannya heran melihat Ara makan tanpa henti. “Kamu lapar?” Ara menjawab, “Bukan. Aku habis muterin Jakarta, bensin motor habis, bensin badan juga habis.”

Menjelang sore Ara pamit pulang. Ia berdiri, memakai helm, mengenakan jaket, memasang sarung tangan, merapikan tas, lalu memakai sepatu pink kesayangannya. Setelah semuanya siap, ia kembali membuka GPS. “Kalau tadi bisa sampai, pulangnya pasti lebih gampang,” katanya mantap.

Motor melaju dengan semangat baru. Ara terus mengikuti garis biru di layar. Setengah jam berlalu, empat puluh menit, lalu hampir satu jam. Anehnya, papan-papan jalan yang ia lihat masih menunjukkan kawasan Jakarta Barat. “Kok belum keluar-keluar ya?” gumamnya. Namun GPS tetap berkata, “Lurus.” Ara pun lurus.

Tak lama kemudian jalan mulai semakin lebar. Mobil-mobil melaju cepat di kanan dan kiri. Ara mengernyit. “Kok sepi motor?” Ia baru sadar ketika melihat papan besar bertuliskan JALAN TOL. Seketika wajahnya berubah pucat. “Ya Allah... aku masuk tol!”

Motor dipelankan hingga berhenti di bahu jalan. Ara menelan ludah. Putar balik jelas berbahaya. Maju terus juga membuatnya panik. Di tengah kebingungan itu ia malah sempat memarahi GPS. “Kenapa kamu nggak bilang ini jalan tol?” Tentu saja GPS tidak menjawab selain mengulang, “Lanjut lurus.”

Beberapa mobil melintas. Ara semakin gugup. Dalam benaknya bermunculan berbagai judul berita yang membuatnya makin panik. Ia menggeleng sendiri sambil berkata, “Jangan sampai besok fotoku viral dengan judul Guru Nyasar di Tol.”

Di saat itulah sebuah mobil bak hitam melambat di sampingnya. Seorang bapak membuka kaca jendela dan bertanya ramah, “Bu, tahu ini jalan tol?” Ara tersenyum kaku. “Baru sadar, Pak.” Bapak itu tertawa kecil, tetapi tidak mengejek.

“Begini saja,” kata sang sopir. “Ibu jangan putar balik. Bahaya. Lanjut pelan-pelan saja. Saya ikut di belakang sampai pintu keluar.” Ara hampir menangis karena lega. “Serius, Pak?” “Serius. Yang penting nanti jangan masuk lagi.”

Perjalanan menuju pintu keluar terasa sangat panjang. Ara mengendarai motornya pelan sekali. Sesekali ia melihat kaca spion memastikan mobil bak hitam masih mengikuti. Rasanya seperti mendapat pengawal pribadi. Ia bahkan sempat bergumam, “Hari ini aku naik motor rasa iring-iringan pejabat.”

Beberapa menit kemudian papan bertuliskan KELUAR TOL akhirnya terlihat. Mata Ara berbinar. Dengan hati-hati ia mengarahkan motor menuju gerbang keluar. Begitu roda motornya kembali menyentuh jalan biasa, ia spontan mengucapkan syukur berkali-kali.

Di pinggir jalan Ara berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Ia tertawa sendiri mengingat semua kejadian hari itu. Perjalanan yang seharusnya sederhana berubah menjadi petualangan yang tidak akan pernah ia lupakan.

Sesampainya di pesantren, teman-temannya langsung bertanya bagaimana perjalanan pulangnya. Ara menjawab singkat, “Seru.” Mereka penasaran. Setelah mendengar kisah lengkapnya, semua orang tertawa terbahak-bahak. Bahkan ada yang berkata, “Untung motornya nggak diminta bayar e-toll.”

Ara hanya tersenyum malu. Sejak hari itu ia belajar satu hal penting: GPS memang membantu, tetapi papan petunjuk jalan dan akal sehat tetap harus dipakai. Meski begitu, jauh di lubuk hatinya ada sedikit rasa bangga. Tidak banyak orang yang bisa berkata dengan jujur bahwa mereka pernah, meski tidak sengaja, mengendarai motor di jalan tol dan pulang membawa cerita lucu.

 Tamat.

Jakarta, 5 Agustus 2026

Komentar