Seminggu sebelum kepergiannya, tak ada yang menyangka bahwa
seorang karyawati bernama Wati akan meninggalkan begitu banyak cerita, air
mata, dan penyesalan.
Di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang makanan, Wati
dikenal sebagai sosok pekerja yang berusaha menjalankan tanggung jawabnya
dengan baik. Ia mungkin bukan orang yang banyak bicara di hadapan semua orang,
tetapi kepada atasannya, Kepala Bagian bernama Bapak Didi, ia sesekali
menyampaikan kegelisahan yang selama ini disimpannya sendiri.
Dalam seminggu terakhir itu, hampir setiap dua hari sekali
Wati menghubungi Pak Didi melalui WhatsApp. Bukan untuk membicarakan hal-hal
pribadi, bukan pula untuk mencari perhatian. Ia hanya ingin menceritakan
keadaan pekerjaannya yang terasa semakin berat setelah beberapa rekan kerjanya
dipindahkan ke bagian lain demi memenuhi kebutuhan perusahaan.
Rotasi itu membuat suasana kerja berubah. Rekan-rekan yang
selama ini memahami alur pekerjaan, mengerti kebiasaan satu sama lain, dan bisa
saling membantu, kini tak lagi berada di tempat yang sama. Wati harus memulai
penyesuaian baru, sementara tanggung jawab yang harus diselesaikannya tetap
menunggu.
Sebagai pengganti rekan-rekan yang dipindahkan, Wati
mendapatkan partner kerja baru. Salah satunya adalah seorang karyawati yang
masih harus belajar dari awal. Wati harus menjelaskan sistem kerja, mengajarkan
prosedur, menunjukkan cara menyelesaikan tugas, hingga memastikan setiap
pekerjaan dilakukan dengan benar. Hampir semuanya harus diajarkan satu per
satu, dari A sampai Z.
Selain itu, ada seorang rekan senior yang sudah lama bekerja
di perusahaan tersebut, tetapi berasal dari divisi lain. Pengalamannya tentu
berharga, tetapi bekerja bersama orang baru tetap membutuhkan penyesuaian. Wati
harus membagi perhatian antara menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan
mendampingi orang lain yang belum sepenuhnya memahami tugasnya.
Hari-harinya menjadi lebih melelahkan. Ada pekerjaan yang
harus segera diselesaikan, ada kesalahan yang perlu dihindari, dan ada tanggung
jawab yang tak mungkin ditinggalkan begitu saja.
Itulah sebabnya Wati beberapa kali menghubungi Pak Didi. Ia
menceritakan kesulitan yang dihadapi, berharap ada jalan keluar agar
pekerjaannya tetap berjalan dengan baik. Bahkan, pada salah satu pesannya, Wati
meminta agar beberapa partner kerja lamanya dipertimbangkan untuk kembali ke
divisinya.
Mungkin bagi orang lain, pesan-pesan itu hanyalah keluhan
seorang karyawan. Namun, bagi Wati, semua itu adalah cara untuk mencari
pertolongan. Ia ingin pekerjaannya tertata, tugas-tugasnya selesai, dan tidak
ada yang berantakan karena perubahan yang belum sepenuhnya bisa ia kuasai.
Namun, tidak semua kegelisahan sampai kepada orang lain
dengan makna yang sama seperti yang dimaksudkan oleh pemiliknya.
Sehari setelah pesan-pesan itu disampaikan, Ibu Maya, kepala
divisi tempat Wati bekerja, mendengar bahwa Wati kerap menceritakan kondisi
pekerjaannya kepada Pak Didi. Ibu Maya kemudian memanggilnya.
Di hadapan kepala divisinya itu, Wati mendapat teguran. Ia
diingatkan agar tidak terlalu sering menyampaikan keluhan kepada Kepala Bagian
karena Pak Didi juga memiliki banyak tugas dan tanggung jawab. Jika ada
persoalan dalam pekerjaan, Wati diminta untuk menyampaikannya kepada kepala
divisi terlebih dahulu.
Mungkin bagi Ibu Maya, teguran itu adalah cara untuk
menertibkan jalur komunikasi dalam pekerjaan. Namun, bagi Wati, kata-kata
tersebut terasa begitu berat.
Ia tidak membantah. Ia mendengarkan, menerima teguran itu,
lalu kembali menjalani hari dengan perasaan yang tak lagi sama.
Malam harinya, di kamar tempat ia tinggal, Wati menangis.
Di antara sunyi dinding kamar dan lampu yang menerangi ruang
kecil itu, ia mungkin mengulang kembali percakapan yang baru saja terjadi. Ia
bertanya-tanya dalam hati, apakah selama ini dirinya telah melakukan kesalahan?
Apakah niatnya mencari solusi justru dianggap sebagai sesuatu yang tidak
seharusnya dilakukan?
Air matanya jatuh bukan karena ia tidak mau menerima
teguran. Bukan pula karena ia merasa dirinya paling benar. Ia hanya sedih
karena apa yang disampaikannya selama ini berangkat dari keinginan sederhana:
agar pekerjaan berjalan baik, agar tugas tidak salah, dan agar tanggung jawab
yang diberikan kepadanya dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Tak ada yang tahu seberapa lama ia menangis malam itu. Tak
ada yang tahu berapa banyak pikiran yang berputar di kepalanya. Dan tak ada
yang menyangka bahwa malam yang penuh kesedihan itu akan menjadi salah satu
malam terakhir dalam hidupnya.
Sehari berselang, sekitar pukul 21.15 WIB, Wati berniat
membeli buket bunga di sebuah toko yang berjarak kurang lebih delapan kilometer
dari tempat tinggalnya.
Sebelum berangkat, ada sesuatu yang sedikit berbeda dari
kebiasaannya. Wati berdandan sederhana. Ia mengenakan riasan wajah secukupnya,
tidak berlebihan, hanya ingin tampil sedikit lebih rapi untuk perjalanan malam
itu.
Mungkin ia ingin menikmati udara malam. Mungkin ia hanya
ingin membeli sesuatu yang diperlukan. Atau mungkin, seperti manusia pada
umumnya, ia ingin sejenak menjauh dari kepenatan hari-hari sebelumnya.
Malam itu, Wati tidak pergi sendirian. Ada Linda, Jaka, dan
Lufi. Mereka berempat berencana menuju toko buket dengan menggunakan dua sepeda
motor.
Jaka mengusulkan agar kedua sepeda motor dikendarai oleh
laki-laki, yaitu dirinya dan Lufi, sementara Wati dan Linda masing-masing
dibonceng. Menurut Jaka, karena perjalanan dilakukan pada malam hari, akan
lebih baik jika laki-laki yang mengendarai motor agar perjalanan terasa lebih
aman.
Namun, Linda memiliki pendapat berbeda. Ia ingin menghindari
pembicaraan orang dan kemungkinan timbulnya fitnah apabila laki-laki dan
perempuan berboncengan dalam satu kendaraan. Setelah mempertimbangkan pendapat
Linda, mereka berempat akhirnya sepakat untuk berangkat dengan pembagian
seperti yang diusulkan Linda.
Jaka dan Lufi berangkat lebih dahulu.
Sekitar lima belas menit kemudian, Linda mengendarai motor
dengan Wati sebagai penumpangnya. Mereka meninggalkan tempat tinggal, menyusuri
jalan malam yang masih dilalui kendaraan besar dan kecil.
Tak ada yang istimewa pada awal perjalanan itu. Tak ada
firasat yang dapat mereka pahami sebagai pertanda. Tak ada percakapan terakhir
yang mereka sadari akan menjadi kenangan seumur hidup.
Mereka baru menempuh sekitar satu kilometer ketika sebuah
truk dum bermuatan tanah berada di depan motor mereka.
Linda berniat mendahului truk itu melalui sisi kanan. Namun,
ketika posisi motor sudah berada di samping truk, sebuah mobil muncul dari arah
berlawanan.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Ruang untuk menghindar terasa semakin sempit. Motor itu
sedikit tersenggol mobil, keseimbangannya hilang, dan dalam sekejap terdengar
suara benturan keras.
“Braaaakkk!”
Motor terjatuh.
Linda terlempar ke sisi kanan, sedangkan Wati terjatuh ke
sisi kiri, tepat ke kolong truk yang masih melaju.
Dalam hitungan detik, roda belakang truk melindas tubuh
Wati.
Tak ada waktu untuk berteriak meminta pertolongan. Tak ada
kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Tak ada pula waktu bagi siapa pun untuk
mengembalikan malam itu seperti semula.
Truk akhirnya berhenti. Tubuh Wati masih berada di bawah
kendaraan bermuatan tanah tersebut. Ia tidak bergerak.
Sementara itu, Linda masih dalam keadaan sadar setelah
terjatuh. Dengan sisa tenaga dan kepanikan, ia menghubungi Jaka dan Lufi,
mengabarkan bahwa dirinya dan Wati mengalami kecelakaan.
Namun, ketika melihat keadaan Wati yang tergeletak di bawah
truk tanpa gerakan, Linda tak sanggup menahan keterkejutannya. Ia pun pingsan.
Beberapa menit kemudian, warga mulai berdatangan. Suasana
yang semula hanya diisi suara kendaraan berubah menjadi kepanikan, tangisan,
dan orang-orang yang berusaha memberikan pertolongan. Ambulans tiba. Linda
segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan, sedangkan
petugas menangani Wati dan membawanya ke rumah sakit daerah dengan pendampingan
keluarga serta beberapa teman.
Malam itu, buket bunga yang hendak dibeli Wati tak pernah
sampai ke tangannya.
Perjalanan yang semula hanya bertujuan membeli sesuatu, kini
berubah menjadi perjalanan terakhir yang merenggut seluruh rencana dan
harapannya.
Di rumah sakit, keluarga dan teman-teman Wati menghadapi
kenyataan yang begitu sulit diterima. Pengurusan jenazah, administrasi, dan
berbagai keperluan lainnya harus dilakukan. Semua berjalan dalam suasana duka
yang menyelimuti setiap orang yang mengenalnya.
Kabar kepergian Wati menyebar di lingkungan tempat tinggal
karyawan perusahaan. Orang-orang yang sebelumnya melihatnya bekerja,
berbincang, dan menjalani rutinitas seperti biasa, kini harus menerima bahwa ia
telah tiada.
Jenazah Wati kemudian dibawa kembali ke kompleks tempat
tinggal karyawan. Di tempat yang sebelumnya menjadi bagian dari kesehariannya,
orang-orang datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Mereka mungkin masih mengingat Wati sebagai rekan kerja yang
sibuk menyelesaikan tugas. Ada yang mengingat senyumnya, ada yang mengingat
percakapannya, dan ada pula yang baru menyadari betapa berharganya kehadiran
seseorang setelah orang itu tak lagi bisa ditemui.
Bapak Didi mungkin masih dapat menemukan pesan-pesan
WhatsApp Wati di telepon genggamnya. Pesan tentang pekerjaan, tentang kesulitan
yang dihadapi, tentang keinginannya agar tugas-tugas berjalan dengan baik.
Kini, pesan-pesan itu tinggal tulisan yang tidak akan pernah bertambah dari
pengirim yang sama.
Ibu Maya mungkin juga akan mengingat pertemuan mereka sehari
sebelum kecelakaan itu. Tidak ada yang dapat memastikan apa yang dirasakan
setiap orang setelah kepergian Wati. Namun, peristiwa seperti ini mengingatkan
kita bahwa setiap percakapan dengan sesama manusia bisa menjadi percakapan
terakhir yang tidak pernah kita duga.
Wati bukan hanya seorang karyawati. Ia adalah seseorang yang
memiliki keluarga, teman, tanggung jawab, harapan, dan masa depan yang ingin
dijalani. Di balik rutinitas pekerjaannya, ada hati yang bisa lelah, ada
perasaan yang bisa terluka, dan ada kehidupan yang begitu berharga.
Setelah disalatkan, jenazah Wati diberangkatkan menuju
kampung halamannya di Jawa Tengah untuk dimakamkan. Perjalanan kali ini bukan
lagi perjalanan yang ia tentukan sendiri. Ia pulang dalam iringan doa, tangis,
dan kesedihan orang-orang yang mengantarnya.
Tanah kelahirannya menyambutnya kembali, tetapi bukan
sebagai seseorang yang pulang untuk beristirahat atau melepas rindu. Wati
pulang untuk terakhir kalinya.
Di hadapan pusara yang perlahan ditimbun tanah, keluarga dan
sahabatnya harus belajar menerima sesuatu yang tak pernah mereka inginkan:
bahwa perpisahan terkadang datang tanpa memberikan kesempatan untuk mengucapkan
selamat tinggal.
Kepergian Wati meninggalkan pelajaran yang tidak boleh kita
abaikan.
Bagi setiap pengendara motor, jangan pernah memaksakan diri
mendahului kendaraan besar apabila jarak pandang terbatas atau kondisi jalan
tidak benar-benar aman. Truk memiliki titik buta, ukuran besar, dan jarak
pengereman yang berbeda dari sepeda motor. Berada di sampingnya ketika
berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan dapat berakibat sangat fatal.
Jangan terburu-buru. Jangan menganggap beberapa detik yang
dapat dihemat lebih berharga daripada keselamatan. Jika jalan tidak cukup aman
untuk mendahului, menunggulah. Lebih baik terlambat beberapa menit daripada
kehilangan kesempatan untuk pulang.
Gunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai, jaga jarak,
patuhi aturan lalu lintas, dan pastikan setiap keputusan berkendara
mempertimbangkan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
Pengendara juga perlu mengingat bahwa keselamatan penumpang merupakan tanggung
jawab yang tidak boleh dianggap ringan.
Bagi semua pengguna jalan, berhati-hatilah dan saling
menghormati. Jangan biarkan keinginan untuk cepat sampai mengalahkan akal
sehat. Satu keputusan yang keliru dapat mengubah kehidupan banyak orang dalam
hitungan detik.
Dan bagi kita semua, kisah Wati mengingatkan bahwa hidup
begitu rapuh. Hari ini seseorang mungkin sedang bercerita tentang pekerjaannya,
mengeluhkan kelelahan, atau menangis karena merasa bersalah. Besok, kita belum
tentu masih memiliki kesempatan untuk mendengarkan ceritanya.
Maka, dengarkanlah dengan baik. Tegurlah dengan bijaksana.
Berbicaralah dengan kasih sayang. Jangan mudah menghakimi seseorang yang sedang
berusaha mencari jalan keluar dari kesulitannya.
Sebab, tidak semua keluhan lahir dari keinginan untuk
menyalahkan. Terkadang, keluhan hanyalah suara hati seseorang yang sedang
berusaha bertahan.
Dan jangan pernah lupa: di balik setiap perjalanan, ada
seseorang yang menunggu kita pulang.
Jangan biarkan perjalanan yang seharusnya berakhir dengan
kepulangan justru menjadi awal dari tangisan yang tak kunjung usai.
Semoga Wati mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT,
diampuni segala khilafnya, diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang
ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan.
Al-Fatihah.

Komentar
Posting Komentar