STUCK ON YOU : Ketika Cinta Membuatku Tak Ingin Pergi

 


Oleh : Idi darusman

Ada satu hal yang sampai hari ini belum benar-benar kupahami: mengapa seorang perempuan yang telah begitu banyak menerima kekurangan dariku, masih saja memilih untuk bertahan di sisiku?

Aku bukan lelaki yang istimewa. Tidak pula memiliki sesuatu yang bisa kubanggakan di hadapan dunia. Aku hanya seorang guru swasta dengan penghasilan yang cukup untuk menghidupi keluarga, tetapi belum cukup untuk mengajak istriku menikmati segala kemewahan. Kami memang tidak kekurangan untuk makan, tetapi juga tidak memiliki keleluasaan untuk membeli segala yang diinginkan. Rumah kami sederhana, kendaraan kami bukan sesuatu yang mewah. Hidup berjalan sebagaimana mestinya, kadang lapang, kadang harus pandai-pandai mengatur keadaan.

Namun, di antara segala keterbatasan itu, aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada apa pun: seorang istri yang tak pernah lelah mencintaiku.

Sering kali aku bertanya kepada diriku sendiri, apa sebenarnya yang ia temukan dalam diriku?

Aku bukan suami yang pandai merangkai kata. Bahkan untuk sekadar menyampaikan isi hati, lidahku sering kali lebih memilih diam. Aku mudah marah, terkadang egois, dan terlalu sering membiarkan emosiku berbicara lebih dahulu daripada akal sehatku. Ada saat-saat ketika ia hanya ingin didengar, tetapi aku justru sibuk membela diri. Ada waktu ketika ia membutuhkan pelukan, tetapi yang kuberikan malah keheningan. Bahkan, tak jarang aku membuatnya menangis hanya karena ketidakmampuanku mengendalikan perasaan.

Aku tahu, aku bukan lelaki yang sempurna. Bahkan untuk menjadi suami yang membahagiakan pun, rasanya aku masih jauh dari kata berhasil.

Tetapi, perempuan itu tetap tinggal.

Ia tidak selalu membalas kemarahanku dengan kemarahan. Tidak pula menjawab diamku dengan kebencian. Ada kesabaran yang begitu luas dalam dirinya, seolah-olah ia sedang mengajarkanku bahwa mencintai bukan tentang menemukan manusia tanpa kekurangan, melainkan tentang kesediaan menerima seseorang sambil berharap ia terus bertumbuh menjadi lebih baik.

Kadang aku melihatnya dari kejauhan. Ketika ia sedang sibuk dengan urusannya, ketika ia tersenyum tanpa alasan yang kuketahui, atau ketika ia tertidur setelah melewati hari yang melelahkan. Pada saat-saat seperti itu, ada sesuatu yang mengalir pelan di dadaku. Sebuah rasa haru yang sulit dijelaskan.

Aku kemudian berpikir, betapa beruntungnya aku.

Dunia mungkin tidak pernah menganggapku sebagai lelaki yang berhasil. Aku tidak memiliki jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, ataupun kehidupan yang gemerlap. Tetapi Allah memberiku seorang perempuan yang tetap menggenggam tanganku meskipun ia tahu betapa banyak sisi diriku yang perlu diperbaiki.

Dan entah bagaimana, justru di situlah aku menemukan alasan untuk semakin mencintainya.

Stuck on you.

Aku terperangkap dalam kekaguman kepadanya. Bukan karena wajahnya yang selalu kupandang indah, bukan pula semata karena senyumnya yang mampu mengubah suasana hatiku. Aku jatuh cinta pada kesabarannya, pada kesetiaannya, pada caranya menghadapi hari-hari yang tidak selalu mudah bersamaku.

Aku jatuh cinta pada perempuan yang tidak pernah menuntutku menjadi kaya raya, tetapi tetap berharap aku menjadi lelaki yang lebih baik. Perempuan yang mungkin menyimpan banyak keinginan, tetapi sering kali memilih memahami keadaan. Perempuan yang tidak selalu mengungkapkan kekecewaannya, tetapi aku tahu, jauh di dalam hatinya, ada perasaan-perasaan yang mungkin pernah terluka oleh sikapku.

Sungguh, terkadang aku merasa menjadi orang paling egois di dunia. Bagaimana mungkin aku begitu ingin dicintai, sementara belum sepenuhnya mampu memberikan kebahagiaan yang pantas ia terima?

Aku ingin suatu hari nanti, ketika ia menoleh ke belakang, ia tidak hanya mengingat berapa lama telah bertahan bersamaku, tetapi juga menemukan begitu banyak alasan untuk tersenyum. Aku ingin mengganti air matanya dengan kebahagiaan, mengganti kesepiannya dengan kehangatan, dan mengganti segala kekecewaan yang pernah kuberikan dengan kesungguhan untuk memperbaiki diri.

Aku ingin menjadi rumah yang nyaman baginya, bukan justru tempat ia harus belajar menyembunyikan luka.

Malam-malam tertentu, ketika dunia telah terlelap dan suara kehidupan perlahan menghilang, aku mencoba berbicara kepada Allah. Dalam sepertiga malam, di antara sujud dan doa-doa yang mungkin tidak pernah didengar manusia, kusebut namanya dengan penuh harap.

"Ya Allah, jika ia adalah perempuan yang Engkau takdirkan mendampingiku di dunia, jagalah ia untukku. Jangan biarkan aku kehilangan seseorang yang begitu sabar menghadapi segala kekuranganku. Panjangkan usia kami dalam kebaikan, kuatkan cinta kami dalam ketaatan, dan tuntunlah kami agar tidak hanya bersama di dunia, tetapi juga Engkau pertemukan kembali di surga-Mu."

Aku tidak meminta kehidupan yang selalu mudah. Sebab aku tahu, rumah tangga bukan perjalanan tanpa badai. Akan ada hari ketika kami berbeda pendapat, ketika keadaan tidak berpihak, ketika usia mulai mengubah wajah dan tenaga perlahan melemah. Akan ada masa ketika rambutnya memutih, langkah kami melambat, dan dunia tidak lagi seramai hari ini.

Namun, jika Allah mengizinkan, aku ingin tetap menjadi lelaki yang menggenggam tangannya pada masa itu.

Aku ingin menemaninya menikmati senja, mendengarkan ceritanya meskipun mungkin telah berulang kali kudengar, dan sesekali menggodanya sebagaimana dahulu. Aku ingin menjadi orang pertama yang ia cari ketika sedih, dan orang yang paling ia ingat ketika bahagia.

Sebab bagiku, cinta bukan sekadar tentang siapa yang paling banyak memberi. Cinta juga tentang siapa yang tetap bersedia memperbaiki diri setelah menyadari betapa sering ia mengecewakan orang yang dicintainya.

Aku mungkin belum menjadi suami yang membahagiakan. Tetapi aku tidak ingin berhenti belajar menjadi suami yang lebih baik.

Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya kepadaku, apa pencapaian terbesar dalam hidupmu, mungkin aku tidak akan menyebut gelar, pekerjaan, ataupun apa yang berhasil kumiliki.

Aku hanya ingin menjawab:

"Aku pernah diberi kesempatan oleh Allah untuk mencintai seorang perempuan, dan lebih dari itu, aku dicintai oleh perempuan yang sama, bahkan ketika aku belum menjadi lelaki terbaik untuknya."

Aku tidak tahu berapa panjang usia yang masih tersisa. Aku juga tidak tahu berapa banyak musim yang akan kami lewati bersama. Tetapi satu hal yang selalu ingin kupastikan: selama Allah masih memberiku waktu, aku ingin terus memilihnya.

Hari ini, esok, dan sampai napas terakhir.

Sebab ternyata, dari sekian banyak hal yang pernah kukejar dalam hidup, ada satu hal yang membuatku tak ingin ke mana-mana.

Aku terlanjur jatuh cinta kepadanya.

Stuck on you. Selamanya, jika Allah mengizinkan.

Komentar