Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar meninggi,
seorang lelaki berusia lebih dari empat puluh tahun sudah bersiap meninggalkan
rumah. Ia mengenakan pakaian yang sederhana, memasukkan beberapa perlengkapan
mengajar ke dalam tas, lalu memastikan sesuatu yang paling penting baginya pagi
itu: kendaraan yang akan membawanya menuju sekolah. Di tempat ia mengajar,
orang-orang lebih akrab memanggilnya dengan sebutan “Pak Guru”.
Usianya memang sudah melewati empat puluh, tetapi
jangan berharap menemukan sosok guru yang terlihat tua dan lamban dalam
dirinya. Semangatnya masih seperti anak muda yang baru menemukan jalan luas
tanpa kendaraan. Ia masih suka bercanda, masih mudah tertawa, dan dalam urusan
tertentu bahkan masih memiliki kebiasaan yang membuat teman-temannya
geleng-geleng kepala. Salah satunya adalah kebiasaannya ketika mengendarai
kendaraan di jalan raya.
Pak Guru termasuk orang yang menyukai kecepatan.
Bukan berarti ia tidak memahami aturan lalu lintas atau sengaja mencari bahaya.
Ia selalu mengenakan helm, berusaha tertib, dan mengetahui batas-batas yang
seharusnya dijaga seorang pengendara. Namun, ada satu penyakit kecil yang sulit
ia sembuhkan: ketika jalan sedang lengang, tangannya seperti memiliki kehidupan
sendiri. Sedikit demi sedikit gas diputar, dan kecepatannya pun bertambah.
Kendaraan kesayangannya adalah Honda Vario 150. Motor
itu sudah lama menemaninya. Setiap pagi, kendaraan tersebut menjadi sahabat
yang membawanya dari rumah menuju sekolah yang jaraknya hanya sekitar tiga
kilometer. Sebenarnya jarak itu sangat dekat. Dengan kondisi jalan yang normal,
ia hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh sampai dua puluh lima menit.
Anehnya, waktu sesingkat itu selalu terasa seperti sebuah perjalanan kecil yang
menyenangkan.
Ada satu hal yang membuat perjalanan Pak Guru semakin
nyaman. Jalan yang menghubungkan rumahnya dengan sekolah ternyata berlawanan
arah dengan arus kendaraan kebanyakan orang yang berangkat bekerja. Saat
jalan-jalan lain mulai dipenuhi kendaraan dan suara klakson, jalur yang
dilaluinya justru relatif lancar. Begitu pula ketika pulang. Ia hampir tidak
pernah berhadapan dengan kemacetan. Seharusnya kondisi seperti itu membuat
siapa pun bersyukur dan berkendara dengan santai.
Namun, justru jalan yang lengang itulah yang kadang
menjadi masalah bagi Pak Guru. Ketika jalan terbuka lebar di hadapannya, tanpa
kendaraan yang menghalangi, ia merasa seolah mendapatkan kesempatan untuk
menikmati kemampuan Vario kesayangannya. Kecepatan lima puluh kilometer per jam
bukan sesuatu yang aneh baginya. Sesekali lebih dari itu pun pernah dilakukan
ketika keadaan jalan benar-benar memungkinkan. Dalam pikirannya, selama ia
merasa mampu mengendalikan motor, semuanya masih baik-baik saja.
Suatu pagi, ketika perjalanan menuju sekolah baru
berlangsung beberapa menit, Pak Guru sedang menikmati laju motornya.
Speedometer menunjukkan angka sekitar lima puluh kilometer per jam. Angin pagi
menerpa wajahnya, sementara jalan di depan terlihat cukup kosong. Tiba-tiba
dari belakang terdengar suara mesin mendekat. Sebuah Yamaha Mio muncul dengan
cepat. Pengendaranya seorang anak perempuan yang mengenakan seragam SMA. Pak
Guru melihatnya sekilas melalui kaca spion.
Mio itu semakin dekat. Pak Guru tidak terlalu
memedulikannya. Ia tetap berada di jalurnya dan membiarkan kendaraan tersebut
mendahului. Tetapi beberapa detik kemudian, terdengar suara mesin yang semakin
jelas. Wusss! Mio itu melaju melewati Vario Pak Guru dengan kecepatan cukup
tinggi. Masalahnya bukan karena ia disalip. Masalahnya adalah setelah berhasil
mendahului, pengendara Mio tersebut memotong jalur dan masuk tepat di depan
Vario miliknya.
Pak Guru spontan mengurangi kecepatan. Matanya
mengikuti Mio yang mulai menjauh. Ada jeda beberapa detik ketika ia hanya diam.
Kemudian bibirnya menggumam, “Waduh, begitu caranya?” Kalimat itu terdengar
seperti teguran kepada pengendara yang bahkan tidak mungkin mendengarnya.
Tetapi di dalam dada Pak Guru, sesuatu mulai bergerak. Bukan amarah yang besar,
melainkan sesuatu yang sudah sangat dikenalnya: jiwa pembalap yang selama ini
sering muncul tanpa diundang.
Tangan kanannya mulai memutar gas. Suara mesin Vario
berubah. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Mio yang tadi menjauh perlahan
kembali terlihat. Pak Guru mengejarnya. Beberapa saat kemudian, ia terhalang
angkot yang berjalan cukup lambat. Ia menahan diri beberapa detik. Begitu ada
ruang, ia kembali melaju. Mio itu semakin dekat. Dalam pikirannya hanya ada
satu kalimat sederhana yang sebenarnya tidak perlu ada: “Masa saya kalah?”
Perjalanan menuju sekolah yang seharusnya biasa
berubah menjadi perlombaan kecil yang hanya diketahui oleh Pak Guru sendiri.
Beberapa kali ia harus mengurangi kecepatan karena ada kendaraan lain. Namun
setiap kali jalan kembali kosong, ia kembali mengejar. Tidak membutuhkan waktu
terlalu lama hingga jarak keduanya semakin dekat. Ketika kesempatan terbuka,
Pak Guru akhirnya berhasil melewati Mio tersebut. Ia melaju kembali ke depan
dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada bendera finis.
Tidak ada orang yang berdiri di pinggir jalan sambil mencatat waktu tempuh.
Bahkan pengendara Mio itu mungkin tidak pernah menyadari bahwa seseorang baru
saja menjadikannya lawan dalam sebuah perlombaan yang tidak pernah ia ikuti.
Namun bagi Pak Guru, ada kepuasan kecil setelah berhasil menyalip. Ia kemudian
melanjutkan perjalanan menuju sekolah sambil berpikir bahwa kejadian itu
sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan.
Sayangnya, kejadian semacam itu bukan sesuatu yang
baru. Sudah berkali-kali Pak Guru mengalami hal serupa. Ketika ada motor yang
menyalip dengan suara mesin sengaja digeber, ia merasa tertantang. Ketika
seseorang memotong jalurnya dengan kasar, emosinya mudah tersulut. Bahkan
ketika sebuah motor tua yang suaranya sudah seperti batuk-batuk berhasil
menyalipnya, terkadang jiwa pembalap dalam dirinya tetap berbisik, “Kejar!”
Seolah jalan raya adalah arena perlombaan pribadi.
Pak Guru sebenarnya tahu bahwa kebiasaan tersebut
tidak sepenuhnya baik. Ia sering menasihati murid-muridnya agar tidak
tergesa-gesa dan selalu berhati-hati ketika melakukan sesuatu. Ia bisa
berbicara panjang tentang kesabaran, pengendalian diri, dan pentingnya
mempertimbangkan keselamatan. Tetapi manusia memang sering lucu. Kita bisa
sangat pandai memberikan nasihat kepada orang lain, sementara nasihat yang sama
justru sulit diterapkan kepada diri sendiri. Begitulah Pak Guru.
Sampai suatu hari, keadaan mulai membuatnya berpikir
berbeda. Harga bahan bakar minyak mengalami kenaikan. Pertamax yang biasa
digunakan untuk Vario kesayangannya terasa semakin mahal. Belum selesai dengan
persoalan harga, ketersediaan bahan bakar jenis Pertalite eceran di sekitar
tempat tinggalnya juga semakin sulit ditemukan. Setiap kali hendak mengisi
bensin, Pak Guru mulai menghitung-hitung pengeluaran. Semakin lama, angka
tersebut terasa semakin mengganggu pikirannya.
Suatu malam, setelah pulang mengajar, ia duduk sambil
memandangi motornya yang terparkir di halaman rumah. “Kalau begini terus,
lumayan juga uang yang habis untuk bensin,” katanya pelan. Ia kemudian
menghitung pengeluaran selama sebulan. Tidak sampai membuatnya bangkrut,
memang. Namun ia mulai menyadari bahwa ada pilihan lain yang mungkin lebih
hemat. Tiga kilometer menuju sekolah sebenarnya tidak membutuhkan kendaraan
dengan mesin sebesar Vario 150.
Pikiran tentang sepeda listrik mulai muncul. Awalnya
hanya sekadar gagasan. Namun semakin dipikirkan, semakin masuk akal. Tidak
perlu Pertamax. Tidak perlu Pertalite. Tidak perlu terlalu sering memikirkan
harga bahan bakar. Cukup mengisi daya listrik dan kendaraan itu siap digunakan
kembali. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya Pak Guru memutuskan
membeli sebuah sepeda listrik untuk digunakan setiap hari menuju sekolah.
Hari ketika sepeda listrik itu datang menjadi hari
yang cukup berkesan. Pak Guru memandanginya dengan rasa penasaran. Kendaraan
itu tentu saja berbeda dengan Vario kesayangannya. Tidak ada suara mesin yang
menggelegar. Tidak ada tarikan seperti motor. Bentuknya pun membuatnya terlihat
lebih sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat Pak Guru
tertarik. Ia merasa menemukan teman perjalanan baru. Ia hanya belum tahu bahwa
kendaraan sederhana tersebut kelak akan menjadi guru yang paling sabar dalam
hidupnya.
Keesokan paginya, Pak Guru mencoba mengendarainya ke
sekolah. Baru beberapa ratus meter berjalan, ia sudah merasakan perbedaan yang
sangat jelas. Kendaraan itu melaju dengan kecepatan sekitar tiga puluh
kilometer per jam. Ketika jalan benar-benar kosong, kecepatannya bisa mencapai
tiga puluh lima bahkan mendekati empat puluh kilometer per jam. Setelah itu,
seolah ada batas tak kasatmata yang berkata, “Cukup sampai di sini.” Pak Guru
mencoba menarik gas lebih dalam, tetapi hasilnya tetap sama.
“Segini saja?” gumamnya sambil melihat speedometer.
Ia mencoba sekali lagi. Tetap tidak berubah. Pak Guru akhirnya tertawa sendiri.
Dulu ia terbiasa dengan Vario yang mampu berlari jauh lebih cepat. Kini ia
harus berdamai dengan kendaraan yang seolah tidak mengenal istilah
terburu-buru. Ia kemudian melanjutkan perjalanan. Untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, Pak Guru pergi mengajar dengan kendaraan yang memaksanya untuk
tidak ngebut.
Hari pertama menggunakan sepeda listrik terasa aneh.
Hari kedua masih terasa aneh. Hari ketiga pun demikian. Tetapi pada hari-hari
berikutnya, Pak Guru mulai terbiasa. Ada satu hal yang juga mulai berubah:
sekarang ia lebih sering disalip daripada menyalip. Motor matic kecil
mendahuluinya. Motor bebek mendahuluinya. Motor tua mendahuluinya. Bahkan suatu
pagi, seorang nenek yang mengendarai motor dengan kecepatan santai pun berhasil
melewatinya tanpa kesulitan.
Pak Guru hanya bisa tersenyum melihat motor nenek itu
semakin jauh. Dalam keadaan seperti dahulu, mungkin ia akan memutar gas dan
mengejarnya. Tetapi kali ini ia hanya berkata, “Silakan, Nek. Saya tidak sedang
lomba.” Kalimat itu membuatnya tertawa sendiri. Betapa aneh perjalanan hidup
manusia. Dahulu ia sering mengejar orang yang menyalipnya. Sekarang ia justru
membiarkan siapa pun mendahuluinya. Dan ternyata dunia tidak runtuh hanya
karena dirinya berada di belakang.
Hari demi hari berlalu. Setiap pagi ia tetap
berangkat menuju sekolah dengan kecepatan yang sama. Tiga puluh kilometer per
jam. Kadang tiga puluh lima. Sesekali empat puluh jika jalan mendukung. Ia
mulai menikmati pemandangan yang dahulu sering terlewat karena terlalu sibuk
memperhatikan kendaraan di depan dan kaca spion. Ia melihat pedagang yang baru
membuka warung, anak-anak sekolah yang berjalan kaki, tukang sapu yang bekerja
sejak pagi, dan orang-orang yang menjalani kehidupannya masing-masing.
Tanpa disadarinya, perjalanan yang dahulu menjadi
tempat memuaskan jiwa pembalapnya berubah menjadi waktu untuk menenangkan
pikiran. Ia tidak lagi sibuk mencari siapa yang harus disalip. Ia tidak lagi
memperhatikan suara knalpot dari belakang. Ketika ada kendaraan yang mendekat,
ia justru memberikan ruang. Ketika kendaraan itu melewatinya, ia tetap melaju
dengan tenang. Ada rasa damai yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan ketika
berada di atas Vario.
Suatu pagi, sebuah motor menyalipnya dengan cukup
kasar. Pengendaranya memotong jalur setelah mendahului. Pak Guru refleks
mengerutkan dahi. Selama beberapa detik, kebiasaan lama hampir muncul kembali.
Tangan kanannya bahkan sempat memutar gas sedikit lebih dalam. Namun sepeda
listrik itu tidak memberikan respons seperti yang diharapkannya. Kecepatannya
tetap saja. Tidak ada raungan mesin. Tidak ada dorongan tiba-tiba. Seolah
kendaraan itu berkata, “Tidak usah.”
Pak Guru akhirnya mengurangi gas. Ia menarik napas
panjang dan tersenyum. “Ya sudah,” katanya. “Pergilah.” Motor itu semakin jauh.
Anehnya, kali ini Pak Guru tidak merasa kalah. Justru ada kepuasan lain yang
muncul. Ia merasa berhasil mengalahkan sesuatu yang selama bertahun-tahun sulit
dikendalikan: emosinya sendiri. Ia baru sadar bahwa selama ini musuh sebenarnya
bukan pengendara yang menyalipnya, melainkan keinginan dalam dirinya untuk
selalu menjadi yang terdepan.
Sejak saat itu, ia mulai memandang perjalanan dengan
cara berbeda. Ia sadar bahwa seseorang tidak harus selalu cepat untuk sampai
pada tujuan. Tidak harus selalu menjadi yang pertama untuk disebut berhasil.
Tidak harus membalas setiap tindakan orang lain hanya karena merasa harga
dirinya tersentuh. Ada kalanya kita memang perlu membiarkan orang lain berjalan
lebih dahulu. Ada kalanya kita harus menerima bahwa hidup tidak sedang
mengadakan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling hebat.
Hampir dua bulan berlalu sejak Pak Guru menggunakan
sepeda listrik. Perubahan itu mulai terlihat bahkan oleh teman-temannya. Jika
dahulu ia sering bercerita tentang motor dan kecepatan, sekarang ia justru
lebih sering berbicara tentang kenyamanan perjalanan. Suatu hari seorang teman
bertanya, “Pak, kok sekarang betah pakai sepeda listrik? Bukannya lambat?” Pak
Guru tersenyum. “Memang lambat,” jawabnya. “Tapi justru kelambatan itu yang
membuat saya belajar sesuatu.”
Temannya penasaran. “Belajar apa?” Pak Guru menatap
sepeda listrik yang terparkir tidak jauh dari mereka. “Belajar sabar.” Temannya
tertawa, mengira jawaban itu hanya candaan. Namun Pak Guru tidak ikut tertawa.
Ia benar-benar serius. “Dulu setiap disalip orang saya ingin mengejar. Sekarang
saya sadar, mereka mau cepat atau lambat, itu bukan urusan saya. Saya cuma
perlu sampai sekolah dengan selamat.” Temannya akhirnya mengangguk perlahan.
Pak Guru mulai memahami bahwa perjalanan menuju
sekolah sebenarnya tidak pernah berubah. Jaraknya tetap sekitar tiga kilometer.
Sekolahnya tetap berada di tempat yang sama. Rumahnya juga tidak berpindah.
Yang berubah hanyalah cara ia menjalani perjalanan tersebut. Dahulu ia merasa
harus cepat sampai. Kini ia lebih menikmati prosesnya. Dahulu ia merasa harus
menang dari pengendara lain. Kini ia merasa cukup jika berhasil mengalahkan
emosinya sendiri.
Ia juga mulai berpikir tentang pekerjaannya sebagai
seorang guru. Selama ini ia berdiri di depan kelas dan mengajarkan berbagai hal
kepada murid-muridnya. Ia mengira guru selalu harus menjadi orang yang memberi
pelajaran. Tetapi ternyata hidup memiliki cara sendiri untuk membalikkan
keadaan. Kadang-kadang seorang guru juga harus menjadi murid. Kadang pelajaran
paling berharga tidak datang dari buku, ruang kelas, atau seseorang yang
berdiri di depan papan tulis.
Pelajaran itu bisa datang dari jalan yang panjang.
Bisa datang dari kesalahan yang pernah dilakukan. Bisa datang dari seseorang
yang membuat kita marah. Bisa datang dari kegagalan yang membuat kita kecewa.
Bahkan bisa datang dari sebuah benda yang selama ini kita anggap tidak lebih
dari sekadar alat untuk membantu pekerjaan. Pak Guru mulai menyadari bahwa
kehidupan sebenarnya penuh dengan guru yang tidak pernah memperkenalkan dirinya
sebagai guru.
Sepeda listrik itu salah satunya. Ia tidak pernah
mengatakan kepada Pak Guru, “Bersabarlah.” Ia tidak pernah berkata, “Jangan
mengejar orang yang menyalipmu.” Ia tidak pernah memberikan nasihat tentang
pengendalian emosi. Bahkan kendaraan itu tidak pernah tahu bahwa setiap pagi ia
sedang membawa seorang guru menuju tempatnya mengajar. Tetapi dengan
keterbatasan kecepatannya, ia perlahan mengajarkan sesuatu yang tidak berhasil
dipelajari Pak Guru selama bertahun-tahun.
Suatu pagi, sebelum berangkat, Pak Guru berdiri cukup
lama di samping sepeda listriknya. Tangannya menyentuh bagian setang, kemudian
ia tersenyum. “Kamu ini memang aneh,” katanya seperti sedang berbicara kepada
seseorang. “Tidak bisa ngebut, tidak bisa marah, tidak bisa protes kalau
disalip. Tapi justru karena itu saya jadi berubah.” Tentu saja sepeda listrik
itu tetap diam. Tidak memberikan jawaban sedikit pun. Namun diamnya justru
terasa seperti jawaban yang paling sempurna.
Hari itu perjalanan menuju sekolah terasa berbeda.
Seorang pengendara motor menyalip dari sebelah kanan. Pak Guru memberikan
ruang. Beberapa saat kemudian motor lain menyusul. Ia kembali membiarkan.
Sebuah kendaraan yang suaranya cukup keras datang dari belakang dan
melewatinya. Dahulu suara seperti itu mungkin akan memancing emosinya. Sekarang
ia hanya tersenyum. “Silakan. Semoga sampai tujuan dengan selamat.” Setelah
mengucapkan kalimat itu, ia kembali menikmati perjalanan.
Ia kemudian menyadari sesuatu yang sederhana tetapi
sangat dalam. Banyak pertengkaran dalam kehidupan sebenarnya muncul karena
manusia merasa harus membalas. Disalip ingin mengejar. Dihina ingin membalas.
Dikalahkan ingin menang kembali. Diremehkan ingin membuktikan diri. Padahal
tidak semua hal membutuhkan jawaban. Tidak semua perlakuan orang lain harus
kita masukkan ke dalam hati. Kadang-kadang, membiarkan sesuatu berlalu justru
merupakan bentuk kemenangan yang paling tenang.
Pak Guru tersenyum ketika menyadari bahwa kendaraan
yang dahulu dianggapnya lambat ternyata telah membawanya menuju sebuah
pemahaman yang jauh lebih cepat daripada yang ia bayangkan. Ia tidak lagi
kecewa ketika kendaraan lain mendahuluinya. Ia tidak lagi merasa harga dirinya
turun hanya karena berada di belakang. Ia akhirnya mengerti bahwa kecepatan
kendaraan tidak pernah menentukan harga diri seseorang. Yang menentukan adalah
bagaimana seseorang membawa dirinya sampai ke tujuan.
Kini, setiap kali berangkat mengajar, Pak Guru tidak
lagi menghitung berapa kendaraan yang berhasil ia salip. Ia bahkan tidak
terlalu peduli dengan angka pada speedometer. Ia hanya memastikan baterai
cukup, helm terpasang dengan benar, dan perjalanan berjalan aman. Jika sampai
sekolah sedikit lebih lambat, tidak masalah. Jika ada kendaraan yang
melewatinya puluhan kali, juga tidak masalah. Ia sudah menemukan ketenangan
yang dahulu tidak pernah ia cari.
Suatu hari, ketika sampai di sekolah, ia memarkirkan
sepeda listrik itu seperti biasa. Sebelum masuk ke ruang guru, ia menoleh
sekali lagi. Kendaraan sederhana itu berdiri tanpa suara. Tidak tampak
istimewa. Tidak tampak seperti sesuatu yang bisa mengubah kehidupan seseorang.
Tetapi Pak Guru tahu, benda itu telah melakukan sesuatu yang tidak bisa
dilakukan oleh kecepatan motor mana pun: membuatnya belajar menahan diri.
Ia lalu tersenyum dan berkata dalam hati, “Ternyata
kamu memang guruku.” Kalimat itu terdengar aneh jika didengar orang lain.
Bagaimana mungkin sebuah sepeda listrik menjadi guru seorang guru? Tetapi Pak
Guru tidak merasa perlu menjelaskannya. Ia tahu bahwa manusia sering terlalu
sibuk mencari pelajaran dari sesuatu yang besar, sementara pelajaran yang
paling berarti kadang tersembunyi di balik sesuatu yang sangat sederhana.
Dan sepeda listrik itu memang tidak pernah punya
hati. Ia tidak bisa merasa kasihan ketika Pak Guru kepanasan. Ia tidak bisa
memahami ketika pemiliknya sedang lelah. Ia tidak bisa ikut senang ketika Pak
Guru menerima kabar baik. Ia juga tidak bisa sedih ketika pemiliknya sedang
memiliki masalah. Ia hanyalah benda dengan baterai, roda, motor listrik, dan
sebuah sistem yang membuatnya bergerak. Tidak lebih dari itu.
Namun justru benda yang tidak memiliki hati itu telah
membuat Pak Guru belajar menjaga hatinya. Ia mengajarkan agar tidak mudah
tersulut hanya karena disalip. Ia mengajarkan bahwa perjalanan tidak harus
selalu cepat. Ia mengajarkan bahwa sampai dengan selamat jauh lebih penting
daripada sampai paling dahulu. Ia mengajarkan bahwa hidup akan terasa lebih
ringan ketika seseorang berhenti menjadikan setiap orang di sekitarnya sebagai
lawan dalam sebuah perlombaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Sejak itu, Pak Guru mempunyai cara pandang baru
tentang kata “guru”. Guru tidak selalu manusia. Guru tidak selalu seseorang
yang lebih tua. Guru tidak selalu berdiri di depan kelas. Guru tidak selalu
berbicara dengan suara keras. Bahkan guru tidak selalu tahu bahwa dirinya
sedang mengajarkan sesuatu kepada kita. Kadang, sesuatu yang paling sederhana
di sekitar kita justru menyimpan pelajaran yang tidak pernah kita dapatkan dari
tempat lain.
Bagi Pak Guru, tiga kilometer perjalanan menuju
sekolah kini bukan lagi sekadar jarak yang harus ditempuh. Perjalanan itu telah
menjadi ruang kecil untuk belajar. Setiap kendaraan yang menyalip menjadi
latihan kesabaran. Setiap jalan yang lengang menjadi kesempatan untuk menikmati
hidup. Setiap keinginan untuk mengejar menjadi pengingat bahwa tidak semua
orang harus dikalahkan. Dan setiap kali tangannya berhenti memutar gas karena
ingin membalas, ia tahu bahwa dirinya sedang memenangkan sebuah pertempuran kecil
melawan ego.
Ia akhirnya memahami bahwa selama bertahun-tahun
mungkin ia terlalu sibuk mengajari murid-muridnya tentang kehidupan, sementara
dirinya sendiri masih perlu belajar banyak hal. Salah satu pelajaran itu datang
melalui kendaraan yang bahkan tidak mampu membalas percakapan. Kendaraan yang
tidak mampu berlari sekencang Vario. Kendaraan yang berkali-kali membuatnya
berada di belakang. Namun justru dari belakang itulah ia belajar melihat
sesuatu yang selama ini luput dari pandangannya.
Ia belajar bahwa berada di belakang bukan berarti
kalah. Ia belajar bahwa berjalan pelan bukan berarti gagal. Ia belajar bahwa
memberi jalan bukan berarti lemah. Ia belajar bahwa tidak membalas bukan
berarti tidak mampu. Dan yang paling penting, ia belajar bahwa ketenangan jauh
lebih mahal daripada kemenangan sesaat. Sebab kemenangan karena berhasil
menyalip hanya berlangsung beberapa detik, sedangkan kemenangan melawan amarah
dapat mengubah seseorang untuk waktu yang jauh lebih panjang.
Suatu pagi, sebelum berangkat ke sekolah, Pak Guru
kembali memandang sepeda listriknya. Ia tertawa kecil mengingat masa lalu
ketika dirinya begitu mudah terpancing hanya karena seseorang menyalip. “Kalau
bukan karena kamu, mungkin saya masih suka balapan di jalan,” katanya. Kemudian
ia mengenakan helm, menaiki kendaraan itu, dan mulai melaju. Tidak cepat. Tidak
tergesa-gesa. Tetapi kali ini ia merasa lebih dekat dengan tujuan daripada
sebelumnya.
Di sepanjang perjalanan, beberapa kendaraan kembali
melewatinya. Pak Guru hanya memberikan ruang. Tidak ada rasa kesal. Tidak ada
keinginan mengejar. Tidak ada pertanyaan, “Masak saya kalah?” Ia hanya terus
melaju dengan kecepatan tiga puluh sampai empat puluh kilometer per jam. Jalan
yang sama, sekolah yang sama, jarak yang sama, tetapi hati yang berbeda. Ia
akhirnya menemukan bahwa ketenangan bukanlah sesuatu yang harus dicari
jauh-jauh. Kadang, ketenangan hadir ketika kita berhenti terburu-buru.
Mungkin itulah sebabnya Pak Guru menyebut sepeda
listriknya sebagai “guru”. Bukan karena kendaraan itu pintar. Bukan karena ia
bisa berbicara. Bukan karena ia mampu memberikan nasihat. Justru karena ia
tidak memiliki semua itu. Ia hanya memiliki keterbatasan yang memaksa
pemiliknya belajar. Ia tidak mampu berlari, sehingga Pak Guru belajar berjalan
tenang. Ia tidak mampu mengejar, sehingga Pak Guru belajar melepaskan. Ia tidak
mampu membalas, sehingga Pak Guru belajar memaafkan.
Dan akhirnya, jika ada seseorang yang bertanya, “Siapa gurumu yang paling
mengajarkanmu tentang kesabaran?” Pak Guru mungkin akan tersenyum sebelum
menunjuk kendaraan sederhana yang terparkir di rumahnya. Ia akan berkata,
“Dia.” Lalu mungkin orang itu akan bingung karena tidak menemukan seorang pun
di sana. Hanya sebuah sepeda listrik yang diam tanpa suara. Sepeda listrik yang
memang tidak punya hati. Tetapi justru dari guru yang tidak punya hati
itulah Pak Guru belajar bagaimana seharusnya manusia menjaga hati. (IdiDarusman)
Jakarta, 31 Agustus 2026

Komentar
Posting Komentar